
Kim pun pulang dari pekerjaannya, Blue menyambutnya dengan senyum dan bahagia.
"Mas kenapa" sambil membantu Kim membereskan barang-barang yang di bawakannya setumpuk kertas.
"Aku ngak apa-apa" sambil membuka dasinya.
"Bohong, kamu seperti cemas" berhenti merapikan kertas dan mendekati diri dengan Kim sambil menatap wajahnya.
"Kamu memang wanita pintar, sebenarnya aku khawatir besok adalah persentase untuk mendapatkan lahan untuk proyek" ucap Kim.
"Kenapa khawatir, Kak Bagus seorang jenius dia bisa mendapatkan apa yang dia mau" tanya Blue.
"Kalau itu aku yakin, tapi" berhenti berbicara.
"Tapi apa" tanya Blue.
"Pesaing bisnis kali ini benar-benar licik, dia adalah orang yang sudah menjebak pak Bagus 7 tahun lalu dengan Mira. Walaupun jebakannya gagal tapi dia bisa di bilang orang yang berbahaya untuk urusan bisnis" jelas Kim.
"Kamu tau mas, kadang orang licik itu bisa merubah takdir seseorang. Buktinya Kak Bagus, Kak Mira dan Cahaya. Karena ulahnya bisa membuat orang ini menjadi satu keluarga yang bahagia" ucap Blue yang membuat Kim tersenyum tenang.
"Kamu benar, aku harus waspada dan mempersiapkan sesuatu untuk besok" ucap Kim.
"Eh ngomong masalah Kak Mira tadi pagi aku di telpon oleh Nenek Galih, dia mengatakan bahwa dia melihat Kak Mira disana. Aku sih ngak percaya karena mama meyakin aku tidak usah di percayakan, tapi" ucap Blue sambil tertunduk.
"Tapi apa" tanya Kim.
"Kamu tau kan mas, walaupun Nenek Galih sudah tua tapi dia tidak pernah salah mengenali orang. Aku jadi berharap seandainya itu benar-benar Kak Mira" langsung terduduk. Kim pun melihat Blue yang seperti itu langsung memeluknya.
"Kamu tidak usah bersedih, Pak Harisza sedang menyelidiki ini semua" jelas Kim.
__ADS_1
"Apa" kaget Blue melepaskan pelukannya. "Jelaskan apa maksud yang kamu katakan mas" sambung Blue.
"Aku belum bisa menceritakan sekarang karena Pak Harisza meminta merahasiakan ini terlebih dahulu jadi aku ingin kamu tetap fokus membuat nona kecil Cahaya tersenyum bahagia melewati hari-harinya" Kim pun memeluk Blue lagi.
Blue pun tersenyum dan membalas pelukannya Kim, dia diam karena dia percaya Kim melakukan yang terbaik.
Di rumah Astri yang saat itu masuk ke kamarnya langsung mengambil sesuatu yang dia simpan di mobil tadi, saat dia ingin melihat itu Mia masuk tiba-tiba ke kamarnya sehingga mengagetkannya. Rian yang menyusul Mia ikut masuk pun curiga dengan ekspresi Astri seolah-olah kaget bercampur cemas. Astri langsung menyimpan foto itu di laci kamarnya.
"Kenapa Astri ekpresinya menyimpan sesuatu, apa yang dia sembunyikan di laci itu" ucap Rian dalam hati.
"Ada apa" tanya Astri gugup.
"Mama temenin Mia gambar donk, Mia maunya sama mama. Mia ngak mau sama papa apalagi bibik" celoteh Mia.
"Iya, ayo mama temenin" langsung memegang tangan Mia keluar dari kamar, Rian pun mengiringi dari belakang mereka keluar kamar dan ke teras rumah. Di teras rumah pun Mia di menggambar dengan bahagia, selesai menggambar Mia pun memberikan gambarnya kepada Mia, melihat gambar itu kepala Astri pusing dia merasakan bayangan-bayangan itu datang lagi kepadanya.
Melihat Astri yang memegang kepalanya Rian pun mendekati Astri "kamu kenapa" tanya Rian.
"Sekarang kita istirahat lagi, sekarang ayo masuk ke kamar" langsung di gendong oleh Rian.
Rian meletakkan Astri di atas ranjang, dia pun megambil obat di tempat p3k di rumahnya terus menyuruh Astri meminumnya. Mia dan Bik Darmi hanya berdiri melihat ke adaan Astri.
"Sayang sekarang kita keluar biar kan mama istirahat, sepertinya mama masih belum kuat untuk menemani Mia" ucap Kim.
Mia pun mengangguk menarik tangan Bik Darmi untuk keluar dari kamar, Rian merapikan selimut Astri yang sudah tertidur dan saat dia ingin meletakkan obat yang dia ambil di laci dia pun kaget melihat sebuah foto yang dia kenal.
"Ini kan" batin Rian dan menoleh ke arah Astri yang sudah tertidur sehingga langsung mengambil benda itu membawanya keluar dari kamar.
Di depan pintu kamarnya Rian melihat foto itu, "Bagaimana foto ini bisa di kamar Astri, apa tadi Astri terburu-buru menyimpan ini pada saat aku masuk ke kamarnya. Tapi dia sudah melihat foto ini belum, sepertinya belum" ucapnya.
__ADS_1
Dari pintu Mia pun melihat papanya memegang sesuatu, "papa ngapain ya, sebenarnya aku mau tanya tentang mama tapi nanti aja deh" pergi mengurungkan niatnya untuk mendekati Rian.
Pagi-pagi sekali Bagus sudah bersiap-siap ke suatu tempat untuk persentase bersama supirnya, di perjalanan ada sekelompok geng motor yang datang menghadang mobilnya memaksa Bagus untuk keluar. Tanpa basa basi Bagus keluar dan mereka pun melakukan perkelahian tapi perkelahian itu hanya sebentar karena sudah ada mobil patroli polisi yang datang sehingga mereka pun kabur.
"Selamat siang pak" ucap polisi itu
"Siang" jawab Bagus.
"Apa benar segerombolan itu tadi menyerang bapak" tanyanya.
"Iya pak, mereka menghadang mobil kami" jawab supir itu berteriak dari dalam mobil.
"Kalau gitu kami akan mengawali bapak sampai ke tujuan, karena kami takut mereka akan menghadang lagi di depan sana" ucapnya.
"Baik pak, terimakasih" jawab Bagus langsung masuk kedalam mobilnya.
"Aneh" ucap siang supir saat menghidupkan mesin mobilnya.
"Maksud kamu apa" tanya Bagus.
"Maaf pak, saya aneh saja kok polisi mau mengawali kita sampai tujuan, apa ada yang melaporkan ya. Pada hal kan tugas polisi banyak jadi ngak ada guna mengawasi mobil kita" jawab sang supir.
Bagus pun baru sadar sesuai dengan ucapan sang supir "tidak salah juga sih apa yang dikatakannya, tadi kita secara sengaja di hadang tapi sekarang kita malah di bantu polisi" celoteh Bagus.
Setelah 10 menit kemudian sampai Sekretaris Kim pun juga sampai, sedangkan polisi yang mengawali Bagus sudah pergi.
Di kaca dalam pun Hendra melihat Bagus sampai di depan kantor, "sial mereka gagal menjalankan tugas, Bagus datang tepat waktu dan juga tidak ada lecet sedikit pun di wajah atau anggota tubuhnya. Dasar tidak berguna" kesalnya dari dalam itu
Melihat Bagus yang masuk serta tim lawannya pun yang sudah duluan menunggu, mereka memulai persentase kepada pemilik tanah itu untuk mengurus proyek siapa yang pantas untuk membuat gedung di sana.
__ADS_1
Semuanya di mulai dari persentase lawan, Hendra pun tersenyum seolah dia sudah melakukan sesuatu yang lain kepada Bagus. "Kamu lihat saja, kamu tidak akan bisa persentase karena isi dari plasdis itu kosong semua" tawa Hendra kesenangan.
Selesai persentase pertama selanjutnya dari Bagus yang persentase, saat mencolokkan plasdisnya ke dalam laptop Bagus pura-pura kaget melihat isi dari plasdis itu kosong.