
Mira yang sudah sampai di rumah pun bersama Cahaya melihat semua orang pada sibuk di dalam rumah, "Ada apa ini" ucap Mira sambil keluar dari mobil.
"Bunda masih ngak tau yah" ucap Cahaya, Mira pun menggelengkan kepalanya.
Cahaya langsung menarik tangan Mira untuk masuk ke dalam rumah dan bertemu dengan Blue dan Kim di dalam sana, "kak, Cahaya sudah pulang" ucap Blue.
"Ini ada apa" tanya Mira.
"Gini Bu Mira, hari ini akan di adakan acara selamatan karena ibu sudah kembali ke rumah dengan selamat dan sehat" ucap Kim.
"Ini semua" tanyanya, Cahaya, Blue dan Kim pun mengangguk tersenyum.
"Makasih" memeluk Cahaya dan Blue, Lilian dan Harisza yang menghampiri mereka pun tersenyum.
"Sama mama dan papa mana" ucap Lilian.
Mira pun tersenyum dan memeluk Lilian serta Harisza yang ada di samping mereka.
"Tinggal ayah yang belum pulang, om tolong telpon ayah yah suruh cepat pulang" perintah Cahaya kepada Kim.
"Baik, nona kecil" jawab Kim sambil mengambil hp nya untuk menelpon Bagus.
Mia yang menutup pintu kamarnya sambil menangis, marah dan kesal itu segera berbaring di ranjang sambil menutup tubuhnya dengan selimut.
Prita menggedor pintu pun tidak dihiraukannya, Bik Darmi yang saat itu bingung segera mendekati Prita namun di susul oleh Rian yang masuk ke rumah melihat Prita dan Bik Darmi sudah berada di depan pintu.
"Kenapa?" tanya Rian.
"Mia mengunci pintunya, saya sudah beberapa kali memanggil tapi tidak di buka. Saya hanya khawatir dokter kalau terjadi apa-apa di dalam, apalagi melihat kondisi Mia yang penuh dengan kesedihan" ucap Prita.
"Bik, cepat ambil kunci serap" perintah Rian.
"Baik tuan" pergi mencari kunci serap yang ada di laci ruang tamu.
"Ini pak". Bik Darmi pun memberikan kuncinya kepada Rian.
Dengan sigap secepatnya Rian membuka pintu kamar Mia sampai masuk di susul oleh Prita dan Bik Darmi.
__ADS_1
"Sayang kamu kenapa" Rian langsung duduk di dekat Mia.
"Buka selimut ini yah, ceritakan semuanya pada papa" ucap Rian lagi.
Prita melihat itu semua langsung menoleh ke Bik Darmi sambil mengangguk kepala, mereka segera keluar dari kamar itu.
"Bu, saya siapin minuman dulu yah untuk ibu" ucap Bik Darmi.
"Ngak usah bik, sepertinya saya harus segera pulang saja sebab saya juga tidak bisa ikut campur urusan papa dan anaknya. Tolong sampaikan pada dokter kalau saya sudah pulang saat dokter selesai membujuk Mia" ucap Prita.
"Iya bu, nanti saya sampaikan" mengantar Prita keluar rumah.
Prita pun segera pergi keluar rumah bersama bik Darmi, Bida yang menguping pun kaget saat Prita keluar rumah berhadapan dengannya.
"Ibu ngapain di sini" tanya Bik Darmi.
"Bik saya duluan, Bu bida eh maksud saya sis Bida saya duluan" ucap Prita meninggalkan mereka.
"Iya, sis Prita hati-hati" ucap Bida sambil mengulurkan tangannya.
Bik Darmi pun melototi Bida yang ada di hadapannya itu "Ibu belum jawab pertanyaan saya, ibu ngapain di depan sini" tanya Bik Darmi lagi.
"Bohong, dia pasti mau kepo. Mana mungkin ada kucing, semenjak pindah di sini saya tidak pernah melihat kucing yang masuk kemari" oceh Bik Darmi langsung menutup pintu rumah rapat-rapat.
Malam itu keluarga Bagus Sandi Dinoto mengadakan yasinan, acara berlangsung dengan sangat lancar. Semua tamu undangan investor datang mengucapkan selamat, Cahaya yang saat itu bersama dengan Kevin dan Johan sibuk membantu Blue untuk memberi makan kepada anak panti asuhan.
Ada salah satu anak panti yang menangis karena makanan yang di bawanya terjatuh, melihat itu Cahaya dan Kevin segera membantu tapi anak itu tidak berhenti menangis hingga ibu panti yang membujuknya pun ke susahan.
Mira yang melihat keadaan seperti rusuh langsung mendekati mereka, "ada apa" tanyanya.
"Ini bunda, makanannya jatuh tadi. Adiknya sudah di bujuk tapi ngak mau berhenti menangis, ibu panti jadi kewalahan" ucap Cahaya.
Mira pun mendekati anak itu "Sayang sini tante peluk" Mira pun memeluk anak itu sambil berkata "jangan nangis nanti nasi yang jatuh ikut nangis juga."
Serentak anak itu pun terdiam "emang benar ya Tante" tanyanya.
"Iya, kamu sedih kan makanannya jatuh. Tapi makanannya akan jadi sedih lagi kalau kamu ngak berhenti menangis" jawab Mira.
__ADS_1
Semua investor melihat semua itu sampai kagum, melihat Mira dengan mudah membuat anak kecil itu berhenti menangis. Salah satu investor tersenyum senang "wanita idaman" dalam hatinya.
"Sekarang ambil makanan baru, kita makan sama-sama terus makanan yang jatuh nanti di bersihkan" sambil mengambil makanan yang ada di tangan Blue.
"Ayo, kita kesana" Mira pun mengajak anak itu makan bersama-sama.
"Cahaya, bunda kamu keren yah. Ibu panti aja kewalahan tapi bunda kamu malah gampang banget" celoteh Kevin.
"Iya lah, bunda Cahaya kan seperti bidadari makanya semua orang bakal seneng sama bunda" jawab Cahaya.
"Iya ya, pantas aja Mia sampe nangis tadi. Tapi aku puas banget udah ngerjain dia tadi" ucap Kevin sambil menutup mulutnya.
"Jadi tadi kamu sengaja buat Mia gitu" marah Cahaya, langsung mencubit perut Kevin.
"Aduh, sakit Cahaya."
"Kamu jahat banget yah" kesalnya.
"Ya, maaf Cahaya. Itu aku dan Johan sengaja biar Mia itu tidak berani macam-macam sama kamu, aku sudah bilang sama kamu kalau aku tu ngak suka sama dia" ucap Kevin.
"Aku ngak mau bicara sama kamu dan Johan" pergi meninggalkan Kevin, "Cahaya, maaf" teriak Kevin.
Cahaya pun tidak peduli dengan ucapan Kevin. dan pergi masuk ke kamar, Johan yang melihat itu segera menghampiri Kevin.
"Kenapa?"
"Cahaya udah tau, sekarang dia marah" ucap Kevin.
"Besok kita bujuk, sekarang kita bantu ini aja dulu" jawab Johan menenangkan Kevin.
Investor bernama Gaga Ardina Wijaya pun menghampiri Bagus yang sedang mendekati Mira, "Pak Bagus" panggilnya.
"Iya Pak Gaga, apa bapak sudah makan" tanya Bagus.
"Sudah pak, saya kesini mau pamit sama Bapak dan istri" sambil melihat ke arah Mira yang sedang asik menyuapin makanan anak-anak di sana.
"Ibu Mira saya permisi pulang" sambil mengulurkan tangannya kepada Mira, Mira pun langsung berdiri dan mengulurkan tangan untuk berjabat tangan kepada Gaga.
__ADS_1
Bagus yang merasa aneh pun "kenapa dia malah berjabat tangan dengan Mira duluan, harusnya kan dia cukup pamitan dengan saya" ucap Bagus dalam hatinya.