
Lilian dengan nafas yang terpenggal-penggal segera menunjuk ke arah Cahaya "Cahaya lari-larian pada hal kakinya baru sembuh nanti kalo ngulang lagi gimana" ucap Lilian.
Mira melihat ke arah Cahaya yang manja ke Bagus itu sangat bahagia "ayo ma, Mira bantu dan mama langsung istirahat" membantu Lilian berdiri untuk di pindahkan.
Mira mengambil teh panas untuk mamanya agar meminumnya, selesai itu Mira berjalan ke arah Cahaya "Cahayaaaa, tadi kata Oma kamu lari-larian di dalam rumah" tanya Mira membuat Cahaya menganggukkan kepalanya.
"Maaf bunda, Cahaya mau makan rujak ulek. Makanya Cahaya berlari mencari ayah kesana kemari" ucapnya dengan rasa bersalah.
"Bunda ngak marah sayang, bunda cuma mau Cahaya tidak berlari karena kaki Cahaya baru sembuh."
"Iya bunda."
Mira pun bingung dengan ucapan Cahaya "ini anak kayak orang ngidam yah kok tiba-tiba mau rujak" ucap Mira dari dalam hatinya.
Bagus pun berdiri mengambil hpnya untuk menelpon Kim yang berada di kamarnya itu untuk membeli rujak, namun Cahaya mengambil hp itu dari tangan Bagus dan menelpon Kim untuk tidak melakukan apa yang ayahnya perintah kan.
"Cahaya mau ayah yang beli" teriak Cahaya kesal.
Melihat tingkah anaknya yang aneh itu Bagus pun mengangguk "okey, kita beli sama-sama" ucap Bagus.
"Yes" Cahaya berlari ke kamarnya mengambil tas dan segera keluar.
"Ayo ayah" memegang tangan ayahnya itu.
"Hei kalian lupa sama bunda" teriak Mira.
Cahaya pun tersenyum "Cahaya mau sama ayah, bunda di rumah saja istirahat sama opa dan Oma. Tenang aja nanti Cahaya beliin yang banyak untuk bunda" menarik tangan Bagus untuk keluar.
"Okey" cuma jawaban itu yang keluar dari mulut Mira mendengar celotehan anaknya itu, Bagus yang menoleh ke belakang mengangkat bahunya kalau dia ngak mengerti apa yang anaknya ini lakukan.
Mira pun berjalan ke dapur setelah Bagus dan Cahaya pergi, saat masuk ke dapur Mira merasa kepalanya pusing dan perutnya terasa mual ingin muntah.
Mira berlari ke kamar mandi mengeluarkan isi perutnya itu sampai tubuhnya lemah, segera keluar dari kamar mandi Mira berjalan pelan-pelan namun di bantu oleh pembantyang melihatnya hampir jatuh saat keluar dari kamar mandi.
"Ibu ngak apa-apa?" tanya pembantu itu.
"Ngak apa-apa bik, cuma pusing aja. Kayaknya masuk angin" jawab Mira.
__ADS_1
"Ya udah bibik siapin teh anget yah biar terasa enakan" Mira pun mengangguk setuju dengan ucapan pembantunya itu.
Mira langsung menggulingkan tubuhnya di atas kursi sambil menunggu teh, Lilian melihat menantunya itu segera menghampiri "wajah kamu pucat, sakit Mir" tanya Lilian.
"Iya ma, pusing dan mual kayaknya masuk angin" jawab Mira.
"Ke dokter aja mama temenin."
"Ngak usah ma, minum obat, istirahat pasti langsung sembuh ma."
"Ya udah istirahat di kamar aja, mama bantu."
"Mira mau sama Mas Bagus aja ke kamarnya, sebentar lagi pulang beli rujaknya."
Lilian pun tersenyum mendengar ucapan Mira tentang rujak "jangan-jangan menantuku ini, ah nanti aja deh lebih baik aku bilang sama papa aja dulu" ucap Lilian dalam hatinya.
"Ya udah mama mau nemuin papa kamu yah di ruang lukisnya, kalau ada apa-apa jangan lupa bilang mama."
"Okey ma" Mira pun tertidur sambil menunggu Bagus dan Cahaya setelah meminum teh tadi.
Lilian pun berjalan secepatnya menemui Harisza "pa, pa, pa."
"Tadi Mira bilang kepalanya pusing, mual muntah dan menunggu Bagus untuk makan rujak. Sepertinya Mira hamil" tawa Lilian senang.
"Oh serius, kalau gitu ayo kita langsung periksa saja untuk memastikannya ma" ucap Harisza.
"Aduh, kita biarin saja dulu nungguin mereka sadar. Mama mau lihat ekspresi Bagus ke susahan mengurus orang ngidam seperti papa dulu" tawa Lilian.
"Mama" ucap Harisza mereka pun tertawa bersama-bersama.
1 jam kemudian Bagus pulang bersama Cahaya "bundaaaa" teriak Cahaya langsung membuka pintu rumah dan masuk.
Melihat Mira yang tertidur di kursi Cahaya berlari dengan cepat menghampiri, saat hendak mendekati Cahaya melihat Blue yang memberi kode menutup bibir agar Cahaya diam.
Cahaya pun mengangguk mengerti, saat Bagus meletakkan makanan rujak itu di atas meja Mira terbangun dari tidurnya.
Mira langsung duduk dan menghampiri makanan yang dia rasa itu enak "ini, buka" ucap Mira sehingga pembantunya pun membuka makanan itu dan meletakkannya di atas meja.
__ADS_1
Mira makan dengan lahap, sedangkan Cahaya yang ingin membeli rujak itu saat Bagus memberikan padanya Cahaya langsung menutup mulutnya.
"Loh tadi Cahaya yang mau tapi kenapa di rumah Cahaya ngak mau, malah bunda yang makan banyak banget" tanya Bagus.
Mira tidak peduli dengan ucapan Bagus, dengan rakusnya memakan rujak sebanyak itu. "Ngak mau ayah, Cahaya cuma mau beli untuk bunda bukan Cahaya yang mau."
Mendengar ucapan anaknya itu Bagus bingung "tadi kan Cahaya yang maksa mau makan, anak dan istri ku kenapa jadi aneh begini sih" ucap Bagus dalam hatinya memperhatikan Mira makan.
Bagus pun mencoba mencicipi rujak itu "uweee."
Cahaya pun tertawa melihat ekpresi wajah ayahnya "kenapa ayah?"
"Masem nak, kok bunda kamu lancar banget makannya kayak ke enakan gitu."
Pembantu yang meletakkan air minum di atas meja melihat Mira makan dengan lahap segera berceloteh "wah ibu makannya banyak banget kayak orang lagi ngidam."
Mendengar celotehan pembantunya itu Mira menghentikan makannya dan meminum air yang sudah di siapkan itu "aku mau ke kamar" ucapnya berjalan meninggalkan semuanya.
"Aduh apa saya salah ucap yah" ucapnya.
Lilian pun datang menghampiri "tidak salah kok bik, sepertinya dugaan mama juga benar kalau Mira hamil."
Bagus yang mendengar ucapan mamanya itu tersenyum senang "wah aku punya anak lagi" ucapnya dalam hati.
Cahaya pun berjalan mengikuti Mira dari belakang, Bagus pun mengikuti dari belakang juga sambil tersenyum karena mendengar ucapan mamanya.
"Loh lihat mereka bertiga jadi aneh seperti anak ayam mengikuti induknya berjalan beriringan dari belakang" tunjuk Lilian membuat mereka yang melihat pun tersenyum tertawa.
"Semoga benar yah Tante Kak Mira juga hamil" ucap Blue sambil memeluk Lilian.
Di dalam kamar pun Mira berdiri melihat ke arah luar jendela "bunda" Cahaya menghampiri sambil tersenyum.
Bagus pun ikut sambil memeluk mereka berdua "kamu kepikiran ucapan bibik kan?"
"Enggak kok, aku masuk angin jadi ngak mungkin aku ke pikiran ke sana."
"Besok kita ke dokter untuk memastikan."
__ADS_1
"Enggak mau, aku ngak mau nanti tidak sesuai harapan. Kamu jangan paksa aku" Bagus pun memeluk erat istri dan anaknya itu.