
"Ini teman Cahaya om" jawab Cahaya.
"Pagi om, saya saudari Cahaya" sapa Mia.
"Saudari" kaget Kim mendengar ucapan Mia.
Pintu kamar Rian pagi-pagi sekali di gedor oleh Bik Darmi, mendengar gedoran itu Rian pun terbangun serta berdiri untuk membuka pintu kamarnya dalam kondisi mata yang masih mengantuk.
"Ada apa Bik" tanyanya.
"Maaf tuan, non Mia tidak ada di kamarnya. Saya sudah mencari kemana-kemana tapi tidak bertemu makanya saya segera mengetuk pintu kamar tuan, siapa tau non Mia ada di sini" ucapnya.
"Mia" berlari ke kamar Mia dengan melihat di sekitar kamar yang rapi, membuka lemari baju Mia pun ada separuh lagi yang rapi. Rian pun membuka semua kasur Mia dan membuka rak lemari di dekat ranjang Mia, Rian melihat kertas yang di lipat terus membuka serta membacanya.
Setelah membaca itu Rian pun bergegas ke luar kamar mencari kunci mobilnya, "ada apa tuan" tanya Bik Darmi.
"Aku perlu kunci mobil, tolong buka semua pintu depan sekarang aku mau menjemput Mia" ucapnya bergegas keluar rumah.
Cahaya yang bingung dengan kedatangan Mia itu menarik tangan Mia, "ayo masuk, aku mau panggil bunda dan ayah. Lagian kamu ngapain juga bicara yang aneh-aneh di sini, kita kan bukan saudara" Mia pun mengikuti Cahaya masuk dan dia duduk di kursi ruang tamu.
Kim yang melihat itu segera masuk ke kamarnya lagi untuk memanggil Blue.
"Kamu tunggu disini, jangan kemana-mana" perintah Cahaya, Mia pun mengangguk.
Cahaya masuk ke kamar Bagus dan Mira yang masih tidur, Cahaya menarik selimut mereka. "Ayah, bunda bangun" teriak Cahaya.
"Kenapa sayang, ayah masih ngantuk. Nanti aja bangunnya dan Cahaya sini tidur lagi disini ayah peluk" ucap Bagus sambil mencari selimut yang di tarik Cahaya.
"Bunda, ayo" teriak Cahaya lagi, Mira pun segera bangun "ada apa pagi-pagi udah teriak bangunin ayah sama bunda" tanya Mira.
__ADS_1
"Di luar bunda, ada orang yang mau ketemu bunda. Cahaya bingung dia mau ngapain tapi yang jelas bunda bisa menyelesaikan masalah ini" ucap Cahaya.
Mendengar perkataan Cahaya itu Mira segera berdiri "ya udah ayo, bunda penasaran" ajak Mira.
Mendengar ucapan Cahaya itu Bagus pun ikut juga bangun "apa maksud perkataan Cahaya, mending aku keluar untuk melihat langsung" segera berdiri menyusul Mira dan Cahaya yang keluar.
Mira yang keluar bersama Cahaya dan di iringi oleh Bagus itu pun melihat ada Blue, Kim, Harisza, Lilian dan Mia.
"Mama" teriak Mia berlari memeluk Mira.
Melihat itu Bagus pun seolah kesal "hei kamu siapa, kenapa peluk istri saya" tanyanya.
Mendengar ucapan Bagus itu Mia segera melepaskan pelukannya dan menghampiri Bagus, "maaf om, kalau saya salah. Perkenalkan nama saya Mia anak dari Dokter Ariansyah" ucapnya.
"Anak dokter itu, kenapa kamu pagi-pagi kesini" tanyanya lagi.
Mia pun mendekati Mira lagi "ma, papa sudah kasih tau kalau mama bukan mama kandung aku. Aku sedih banget dan aku udah beresin semua baju aku untuk tinggal sama mama, walapun mama bukan mama kandung aku. Dulu saat mama sakit aku selalu merawat dan menjaga mama, jadi aku putusin untuk pindah kesini dan melihat langsung apa mama di sini bahagia" jelas Mia.
"Cahaya boleh yah, aku udah anggap kamu sebagai saudari aku karena aku juga sayang sama mama" ucapnya memegang tangan Cahaya yang satunya.
Mira pun hanya diam tidak bisa berkata-kata untuk menjawab pertanyaan dari Mia, Cahaya yang saat itu di tanya langsung menjawab "semuanya terserah sama bunda, tapi kamu harus tau kalu bunda itu bukan mama kamu jadi kamu ngak bisa anggap bunda itu mama kamu" ucap Cahaya.
"Aku tau kok, mama adalah bunda kamu. Makanya aku datang kesini ingin melihat langsung kebahagiaan mama bersama keluarga ini, kalau mama benar-benar bahagia tinggal di sini maka aku akan pulang" ucapnya.
"Pokoknya ngak boleh, mending kamu pulang saja. Lagian ngapain juga kamu masih kecil mau lihat keluarga orang" kesal Bagus.
"Bagus, dia hanya anak kecil tolong rendahkan nada suara kamu" ucap Lilian.
"Bagus, papa tidak masalah kalau dia mau tinggal disini karena ingin melihat kebahagiaan Mira di sini. Mungkin dengan cara itu Mia akan ikhlas melepaskan Mira dengan sendirinya, lagian selama ini dia yang menjaga istri kamu" ucap Harisza.
__ADS_1
"Tapi om dan Tante, anak kecil seperti Mia yang ada orang tuanya harusnya tinggal bersama orang tuanya dan ngak perlu kepo dengan urusan keluarga orang lain" ucap Blue.
"Betul apa kata Blue pa, ma. Mia lebih baik kita antar pulang saja, iya kan sayang" tanya Bagus kepada Mira.
"Ngak apa-apa mas kalau Mia mau tinggal disini, Mia sudah janji sama Cahaya kalau dia lihat aku bahagia disini maka dia akan pulang" jawab Mira.
"Iya ma, aku janji. Aku ingin memastikan mama bahagia disini, mama kenal aku kan kalau aku bukan anak nakal" ucap Mia.
Rian yang sampai di rumah Bagus pun segera masuk ke dalam rumah Bagus, dia melihat Mia yang sedang di dekat Mira, Bagus dan Cahaya.
"Mia, ayo kita pulang" menarik tangan Mia.
"Wah apa-apaan ini, anak sama bapak sama saja. Anaknya datang tiba-tiba serta bapaknya juga datang tiba-tiba tanpa mengucapkan kalimat bertamu" kesal Bagus.
"Maaf Pak Bagus, Om, Tante dan Mira. Saya tidak sopan datang kesini tiba-tiba karena saya kaget pagi-pagi anak saya kabur dari rumah" ucapnya.
"Ngak apa-apa, saya maklumkan. Namanya anak-anak tidak bisa di tebak" jawab Harisza.
"Ayo" menarik tangan Mia.
"Ngak mau pa, Mia udah putusin untuk tinggal di sini" teriak Mia.
"Apa? kamu ngak boleh melakukan hal itu karena kamu itu anak papa" teriak Rian.
"Om, mama, Opa dan Oma Cahaya ngizinin kok. Tanya aja" ucap Mia.
Rian pun menoleh ke arah Harisza, "tenang dulu Dokter Ariansyah, duduk dulu kita bicara santai di sini semuanya" ajak Harisza sehingga mereka semua duduk bersama-sama di ruang tamu.
Cahaya pun segera duduk di pangkuan Mira, Mia segera di tarik oleh Rian untuk duduk di pangkuannya. Mia menolak tarikan tangan Rian sehingga dia hanya berdiri di samping Rian.
__ADS_1
"Ini pak kita mulai saja permasalahan pada pagi hari ini, yang secara tidak sengaja tiba-tiba ada keributan kecil disini" ucap Harisza menenangkan suasana di tempat.