
Bagus pun datang ke rumah yang mewah dan indah itu, dia pun membunyikan bel. Rian, Astri dan Mia yang lagi ingin menikmati makanan mereka pun memberhentikan aktifitasnya karena Bik Darmi masuk "tuan ada tamu ingin bertemu" ucapnya.
Rian pun bergegas keluar dan menghampiri Bagus dan Harisza.
"Ayo pak silahkan masuk" tawar Rian.
"Tidak perlu saya hanya perlu bertanya kepada istri dokter" ucap Bagus
"Ada apa yah pak dengan istri saya, bukannya tadi bapak bilang kalau istri saya mirip dengan almarhumah istri bapak" ucap Rian.
"Iya makanya dari itu, saya ingin bertanya langsung kepada istri dokter" kesal Bagus.
"Maaf pak saya tidak bisa, istri saya mungkin mirip dengan almarhumah istri bapak tapi dia ibu dari anak saya bukan istri bapak" jelas Rian.
"Kenapa dokter tidak mengizinkan kalau dia benar-benar istri dokter, asal dokter tau mayat yang di kubur itu sudah saya otopsi dan hasilnya itu bukan istri saya" teriak Bagus. Harisza pun memegang pundak Bagus karena dia khawatir kalau Bagus akan nekat.
"Bapak tidak percaya, baik lah saya akan beri bukti pada bapak" Rian pun segera masuk ke kamar mengambil sesuatu, melihat Rian yang sibuk seperti itu Astri pun segera ikut menyusul keluar rumah dengan di susul oleh Mia.
Harisza melihat Astri yang keluar di buat kaget "Mira" mendekati Astri dan hendak memegang wajahnya.
Dokter Rian pun langsung menahan tangan Harisza yang ingin memegang Astri, "Ini lihat" dia mengeluarkan buku nikah kepada Harisza dan Bagus.
Bagus pun melihat buku nikah itu kaget wajah di buku itu mirip sekali dengan Mira, hanya nama dan alamatnya yang berbeda.
Astri pun diam melihat tingkah mereka. "Kalian sudah lihat kan, sekarang saya mohon kalian pergi dari sini" usir Rian.
"Aku tidak percaya dengan buku ini, aku perlu bukti yang lain" mengembalikan buku itu ke tangan Rian.
"Sayang ini aku, aku tidak tau apa yang terjadi kepada kamu. Tapi aku yakin kamu Mira, kalau kamu bukan Mira tidak mungkin tadi kamu membalas pelukanku" sambil memegang dan menatap Astri.
Astri yang melihat tatapan itu seolah langsung luluh karena dia merasa tatapan itu tidak asing sekali baginya. Rian yang melihat tingkah Bagus langsung memukuli Bagus sampai terjatuh "aku sudah bilang pak Bagus hentikan, kamu tidak boleh menatap istri orang lain dengan tatapan seperti itu" marahnya.
__ADS_1
Bagus pun ingin membalas pukulan itu tapi Harisza menahannya "berhenti, kamu lihat ada anak kecil. Tidak baik orang tua bersikap seperti ini di depan anak, ayo kita pulang masih ada jalan lain."
Rian pun menarik Astri dan Mia masuk ke dalam rumah, "ada apa mas" tanya Astri.
"Bukan apa-apa, lebih baik kamu ajak Mia masuk ke kamarnya" perintah Rian.
Astri yang melihat Mia seperti ketakutan langsung memegang tangannya dan mengajak ke kamar Mia, selesai mengantar Mia Astri pun masuk ke kamar sambil berpikir.
"Kenapa dia berpikir aku ini istrinya, pada hal kenyataan aku istri Mas Rian. Tapi melihat dia aku merasakan ada sesuatu, sedangkan anak yang memelukku tadi siang itu membuat aku merasakan ada ikatan karena air mata yang mengalir di wajahnya membuat aku sangat sedih. Apa benar aku bukan istri mas Rian tapi orang lain, karena selama ini mas Rian tidak pernah menyentuhku seperti istrinya. Bahkan kami pun selalu tidur terpisah walaupun dia mengatakan aku perlu sendiri untuk bisa sembuh, sudah lah aku tidak boleh berpikir seperti ini karena kenyataannya aku adalah ibu kandung Mia" celotehnya di dalam kamar itu.
Bagus yang kesal di mobil pun berteriak, "kenapa papa menghentikan aku, aku ingin sekali menghajarnya."
"Sudah hentikan, bentar lagi kita sampai di rumah. Jangan sampai Cahaya bertanya tanya kenapa wajahnya babak belur kalau aku tidak menghentikannya tadi" sambil memarkirkan mobilnya di depan rumah.
Mereka pun masuk ke rumah, melihat Lilian, Blue dan Cahaya yang duduk terdiam di sana menunggu mereka.
"Sayang, Cahaya" ucap Harisza. Cahaya pun berlari memeluk Bagus sambil menangis.
"Bagus dan papa tadi di sekolah ada kejadian yang tidak di inginkan" jawab Lilian.
"Apa itu, Blue jelaskan karena kamu yang jemput Cahaya" tunjuk Bagus.
"Cahaya menangis dari pulang sekolah tadi kak, dia melihat seseorang wanita mirip dengan Kak Mira" jelas Blue.
"Ayah, tadi ada bunda di sekolah tapi bunda seperti tidak kenal Cahaya. Cahaya jadi sedih bunda dan lagi bunda malah di panggil mama oleh Mia" ucapnya sambil menangis.
"Mia siapa."
"Mia itu anak baru di sekolah, Cahaya mengenali Mia saat di Bali ada festival" menceritakan semua kejadiannya.
"Ayah juga tadi sudah lihat, kemungkinan bunda masih hidup tapi ayah ngak tau apa benar itu bunda atau orang lain sayang" sambil mengelus rambut anaknya.
__ADS_1
"Cahaya yakin itu bunda, Cahaya mau bunda ayah" ucapnya.
"Sekarang Cahaya masuk ke kamar, ayah, opa, oma dan Tante Blue mau berdiskusi masalah ini. Cahaya percaya kan sama ayah" mencium kening Cahaya.
Cahaya pun masuk ke kamar, saat dia masuk hpnya pun berbunyi ternyata video call dari Kevin.
"Cahaya kamu masih sedih" tanya Johan.
"Ngak kok, ayah akan cari solusinya" jawab Cahaya.
"Cahaya aku minta maaf ya, sebenarnya aku sudah pernah bertemu dengan tante yang mirip dengan Tante Mira tapi belum siap cerita sama kamu karena aku mau memastikan dulu apa itu benar tante atau bukan" jelasnya.
"Kamu benar-benar keterlaluan ya Kevin, aku kesal sama kalian berdua karena merahasiakan ini dari aku" celoteh Cahaya.
"Sebagai permintaan maaf kami akan bantu kamu menemui tante itu karena kita tau kok rumahnya" ucapnya. Cahaya pun berpikir dan "kalian berdua diam yah aku mau keluar sebentar jadi jangan bersuara sedikit pun" Cahaya pun keluar menyelinap menguping pembicaraan Bagus yang sedang membahas masalah Mira.
"Bagus dan papa kenapa tidak ceritakan ini pada mama" kesal Lilian.
"Maaf ma, ini semua mendadak" jelas Bagus.
"Kak aku jadi penasaran apa itu benar Kak Mira, tapi kalau Kak Mira pasti dia pulang karena kan Kak Mira punya keluarga. Kecuali Kak Mira itu hilang ingatan baru dia bingung" celoteh Blue sambil membolak-balikkan badannya berjalan.
"Betul" teriak Bagus.
"Kamu ngagetin kita aja, apanya yang betul" teriak Harisza juga.
"Yang terakhir Blue katakan pa, ma. Bisa jadi Mira hilang ingatan, Cahaya itu mempunyai ikatan batin dengan Mira kalau dia bilang itu Mira pasti itu Mira" jelasnya.
"Kalau gitu kamu mau ngapain, kalian bilang kalau dia itu istri dokter yang mengobati Prita. Nanti kalau benar dia istrinya kita yang akan malu" ucap Lilian.
"Ada satu cara" ucap Blue sambil tersenyum.
__ADS_1