Ayah Ku Idola Ku

Ayah Ku Idola Ku
bab 87


__ADS_3

Mira yang melihat Cahaya memanggilnya menoleh "Cahaya" memeluk dan mencium Cahaya.


Mia yang berdiri melihat itu semua dengan kaget, sedih dan kecewa yang dia rasakan.


"Ma" panggil Mia.


"Hey Mia, mama, mama, mama, dari tadi. Lihat donk ini Tante Mira bunda kandung Cahaya bukan mama kamu" celoteh Kevin.


"Iya nih Mia, apa papa kamu tidak kasih tau kamu" sambung Johan.


Cahaya yang mendengar celotehan Kevin dan Johan melihat ke arah Mira yang mengangguk, segera dia berjalan mendekati Mia.


Mia pun menangis mendengar perkataan mereka, sedangkan Prita yang melihat dari kejauhan segera berjalan mendekati mereka


"Mia, kamu jangan sedih. Walaupun bunda bukan mama kandung kamu tapi bunda pasti sayang banget sama kamu" ucap Cahaya sambil mendekati Mia.


"Mia, Tante ngucapin terimakasih karena Mia sudah menjadi anak yang baik selama tante bersama Mia" sambung Mira untuk menenangnya.


"Tapi kenapa mama itu bunda Cahaya, kenapa papa ngak cerita. Kamu sengaja yah Cahaya mau ambil mama aku" marah Mia.


"Mia, kalau ngak punya mama terima aja. Aku aja ngak punya mama tapi ngak mau ambil mama orang lain" ucap Kevin, membuat Mia semakin menangis.


"Mia kamu harus tenang" pegang Cahaya.


"Ngak usah sok baik, kamu jahat" melepaskan pegangan tangan Cahaya dan berlari.


Cahaya pun ingin mengejar Mia tapi "Cahaya jangan" teriak Mira.


Bu Prita yang mendekati mereka segera bertanya "Ada apa" tanyanya.


"Itu Bu, sih Mia nangis karena Tante Mira bukan mamanya" ucap Johan.


Mendengar itu Prita langsung berlari mengejar Mia, "udah kita masuk ke mobil sayang, Mia itu butuh waktu sendiri untuk menerima kenyataannya jadi percuma saja kalau Cahaya dan yang lainnya menjelaskan semua ini" ucap Mira.

__ADS_1


"Iya bunda, semoga aja besok Mia udah ngak marah lagi" ucap Cahaya, masuk ke dalam mobil.


"Aku duluan ya, da da dah" ucap Cahaya kepada Kevin dan Johan yang masih berdiri di pinggir jalan.


Mereka pun membalas dadahan Cahaya dan tersenyum puas, saat mobil Cahaya sudah berangkat mereka tos "yes, akhirnya kita berhasil" celoteh Kevin sambil loncat-loncat.


"Iya, kamu kalau bicara nusuk banget sampe-sampe tu Mia ngak berhenti nangis" ucap Johan.


"Habis sih dia jadi orang jahat banget, dari awal aku juga udah ngak suka dan ngak mau berteman dengan dia. Kalau bukan karena Cahaya baik sama dia jadi terpaksa ikut baik" kesal Kevin.


"Tapi keadaanya gimana, kita intip yuk" ajak Johan.


"Nanti kalau Tante Jeni jemput gimana, lagian dia itu harus di buat sadar kalau dia tidak boleh mengambil kebahagiaan keluarga orang lain."


"Nah itu mama sudah datang, ya udah deh kita lihat aja besok dia berani masuk sekolah atau tidak" ucap Johan.


Mereka pun segera masuk ke dalam mobil untuk pulang bersama Jeni, sedangkan Prita yang menyusul Mia di taman ikut duduk di sebelah Mia.


"Mia" panggil Prita, Mia pun tidak menjawab dan hanya diam saja.


Mendengar ucapan Prita itu Mia menoleh serta berteriak sekuatnya-kuatnya "aku benci papa, aku benci papa, aku benci papa" ucapnya berkali-kali. Hingga akhirnya Prita memeluk Mia sampai dia berhenti menangis.


"Sekarang Bu guru antar Mia pulang yah" ajak Prita.


Mia pun hanya mengangguk, di tengah perjalanan Prita memberikan kabar kepada Rian bahwa Mia bersamanya pulang. Melihat wa dari Prita Rian secepatnya pulang dari rumah sakit untuk menemui Mia.


Arya pun memberikan kopi kepada Putri untuk menenangkannya yang lagi emosional, Putri pun mengambilnya "sekarang cerita" ucap Arya.


"Okey aku akan ceritakan semuanya" jawab Putri.


"Tidak boleh ada yang di tutupin atau aku sendiri yang akan cari tau dan melaporkan ke Pak Bagus" ancam Arya.


"Iya, iya, kamu bisanya ngancam aja. Semenjak kejadian penculikan Cahaya di Bali karna kesalahan ku semua teman di kantor pada tau, hingga mereka semua memusuhi aku. Setiap hari aku menerima perlakuan yang tidak menyenangkan tapi aku tidak bisa membalas karena aku tau semua itu kesalahan ku menyebabkan semuanya jadi membenci aku.

__ADS_1


Tapi saat Prita sudah sembuh, Mira sudah kembali ke Bagus aku sadar bahwa aku sudah cukup menerima perlakuan seperti ini. Hingga akhirnya aku sempat melawan tadi, yah kamu lihat sendiri kan bahwa aku ini wanita kuat" ucap Putri sambil meminum kopinya.


"Sekarang aku sudah paham, kamu benar-benar wanita kuat. Tapi aku minta maaf karena selama bersama kamu aku tidak sadar bahwa kamu di kucilkan di kantor" ucap Arya sedih.


"Udah lah, sekarang kita ngak usah bahas ini lagi. Mulai hari ini aku akan melawan siapa pun yang berani menyakiti aku di kantor."


"Bagus, aku akan bantu" sambil memegang punggung Putri.


Putri yang melihat punggungnya di pegang oleh Arya merasakan dag Dig dug di dadanya hingga wajahnya memerah, Arya pun menatap wajah Putri yang merah.


"Kamu kenapa? sakit karena mereka sudah ngapa-ngapain kamu" tanya Arya.


"Aku ngak apa-apa" Putri membalikkan badannya dan berdiri "dasar begok, aku begini karena kamu memperhatikan aku seperti tadi. Dasar laki-laki ngak peka" ucap Putri dalam hatinya.


"Hei, kamu jangan bohong" Arya mendekati Putri.


"Udah lah pembicaraan kita sudah selesai, ayo masuk kita harus bekerja" berjalan duluan meninggalkan Arya.


Mia yang saat itu sampai di rumah bersama Prita bertemu dengan Bida di depan pagar rumah.


"Loh, kok Mia nangis. Ada apa? dan kamu siapa , apa kamu yang buat Mia nangis" tanyanya.


Mia pun tidak mempedulikan ucapan Bida dan segera membujuk pintu pagarnya untuk masuk ke dalam, Prita pun segera mengejar Mia yang sudah masuk ke dalam.


"Gue tanya di cuekin, ngak ada hormat-hormatnya sama orang tua. Aduh, tapi gue kan kepo kenapa Mia bisa begitu. Kenapa gue bilang orang tua tadi, gue kan masih unyu-unyu" celotehnya Bida.


Namun tiba-tiba mobil Rian sampai dan masuk ke dalam rumah karena pintu pagar sudah terbuka, "nah itu dia pangeran gue, mending gue kepoin aja deh" berlari mendekati Rian yang baru keluar dari mobil.


"Mas dokter ganteng" panggil Bida.


"Iya ada apa Bu, eh sis Bida" jawab Rian.


"Tadi Mia nangis masuk ke dalam, dia di temani sama perempuan muda gitu. Kenapa yah?"

__ADS_1


"Mia" Rian pun segera pergi meninggal Bida saat mendengar perkataan Bida.


"Hadeh, belum di jawab udah pergi. Bete banget deh, mending gue ngintip aja deh mumpung pintunya terbuka" berjalan pelan-pelan di depan pintu rumah Rian.


__ADS_2