Ayah Ku Idola Ku

Ayah Ku Idola Ku
bab 83


__ADS_3

Rian pun segera keluar, namun di pintu luar dia menarik nafas panjang dan berpikir apa yang di katakan Prita tadi "ternyata gadis ini gampang menyerah" celotehnya, langsung pergi ke ruangannya.


Di kamar Mira itu Cahaya, Kevin dan Johan sedang asik membuat sesuatu, sedangkan Jeni, Blue, Mira dan Lilian asik berbincang.


"Aduh udah jam segini, saya dan anak-anak pulang dulu ya Tante, Mira dan Blue. Mira juga kan perlu istirahat" ucap Jeni.


"Ngak apa-apa kok Jen, aku seneng ngobrol gini udah lama semenjak aku mengira bahwa diriku sudah mati aku hanya bermimpi berkepanjangan yang tidak ada akhirnya" ucap Mira.


"Kak, jangan bicara gitu donk. Kami senang ternyata kakak masih di beri umur panjang sehingga bisa bertemu dengan kita lagi" oceh Blue.


"Iya deh adik cantikku, Jeni hati-hati yah. Blue yang akan nemenin kamu keluar" ucap Mira.


"Iya, ayo anak-anak sudah waktunya pulang" ajak Jeni, Kevin dan Johan pun segera bergegas bangun dari tempat duduknya.


"Tante semoga cepat sembuh, agar Cahaya tidak jadi anak cengeng lagi yang merindukan bundanya" teriak Kevin dari tempat duduknya.


Cahaya pun segera berdiri dan mencubit pipi Kevin, "akhhh..." Kevin memegang pipinya itu.


"Pulang sana, jangan bawel besok di sekolah kita juga ketemu" celoteh Cahaya.


"Iya-iya, kamu harus masuk besok karena aku mau ngerjain seseorang" ucap Kevin.


"Siapa."


"Rahasia" menarik tangan Johan berlari pergi keluar.


"Cahaya sini sayang" panggil Lilian.


"Iya oma."


"Cahaya temenin bunda yah, Oma mau ke kamar dulu telpon opa" ucap Lilian, Cahaya pun duduk di sebelah Mira dan memeluknya erat.


"Bunda mau dengar cerita Cahaya ngak selama bunda ngak ada" tanya Cahaya.


"Boleh" Cahaya pun mulai menceritakan semua yang terjadi hingga mereka berdua sampai tertidur pulas.


Bagus yang masuk ke kamar itu pun melihat mereka tertidur tersenyum senang, Bagus menyelimuti Mira dan Cahaya serta mencium kedua kening ke sayangannya itu.


Blue yang sudah menemani Jeni, Kevin dan Johan keluar dari pintu rumah melihat mobil Kim yang pulang bersama Harisza.


Blue pun segera mendekati suaminya itu yang keluar dari pintu mobil, Blue membawa tas suaminya itu.

__ADS_1


Harisza yang juga ikut keluar dari mobil hanya tersenyum dan bertanya "kemana istriku."


Lilian pun keluar dari pintu depan mendekatinya. "Ini dia istriku" ucapnya lagi.


"Apaan sih" tanya Lilian.


"Kamu ngak lihat apa pengantin baru di sebelah kita sangat romantis, kita yang sudah tua ini juga ngak boleh kalah romantis dari mereka" ucap Harisza.


"Kalau mereka itu masih masa deg-degkan, sedangkan kita masa dodokan. Udah ah sudah tua nanti Bagus kesal lagi kita kasih adik" kesal Lilian.


Mereka pun masuk ke dalam rumah sambil tertawa, Bagus pun yang keluar dari kamar menoleh ke arah mereka. "Sepertinya kalian semua sedang bahagia" ucap Bagus.


"Iya, karena ke datangan Mira lagi di rumah ini" ucap Harisza.


"Oh iya tadi mama sempat berpikir bagaimana kalau malam besok kita adakan selamatan karena kembalinya Mira ke rumah dengan ke adaan sehat, kalian tau kan semua orang mengira Mira sudah tiada tapi Allah menyelamatkan dia dari kejahatan Tiara itu" jelas Lilian.


"Okey aku setuju" jawabnya.


"Kim dan Blue besok kalian belanja ya sama yang lain, Om dan Tante akan mengundang semua teman-teman yang dekat dengan kita" perintah Harisza sambil menunjuk mereka.


"Oke om, kalau gitu kita duluan ke kamar" pamitnya sambil berjalan ke ruangan Vapiliun.


"Kamu jangan sedih ya" Putri pun mendekati adiknya itu.


"Kenapa."


"Papa sudah di tangkap kemarin, Bagus sendiri yang menangkapnya saat papa berada di pinggir jalan" ucap Putri.


"Kak aku mau jinguk papa."


"Tapi kamu kan baru sembuh."


"Udah biarkan saja, om Arman juga harus tau kalau anaknya sekarang sudah sembuh berkat dirinya walaupun caranya salah" potong Arya dari pembicaraan mereka.


"Baiklah kalau kamu sudah bicara begitu" ucap Putri.


Mereka pun keluar dari ruangan rumah sakit, berpapasan dengan Rian di lorong rumah sakit. Arya dan Putri yang melihat Rian seolah kesal sehingga mereka tidak menghiraukan dan mencuekinya seolah masih marah.


Prita yang melihat mereka berdua segera menghampiri Rian, "dok aku mau berbicara" ucapnya, Putri yang melihat Prita mendekati Rian pun segera menarik tangan adiknya itu.


"Pulang, tidak ada yang perlu kamu bicarakan dengan dokter aneh ini" ucap Putri.

__ADS_1


"Kak, hanya sebentar saja" jawab Prita.


"Ya udah kakak dan Arya tunggu di mobil" melepaskan tangannya.


Mereka berdua pergi meninggalkan Prita dan Rian berdua. "Ada apa" tanya Rian.


"Saya cuma mau mengucapkan terimakasih karena sudah membantu saya selama ini" jawabnya.


"Sama-sama, itu juga sudah kewajiban saya untuk membantu semua pasien saya" ucap Rian.


Prita pun mengeluarkan sesuatu dari kantong bajunya dan memegang tangan Rian, dia membuka lebar telapak tangan Rian dan memberikan sapu tangan yang ada tulisannya Ariansyah serta lambang hati yang dia buat sendiri saat beristirahat di kamar.


Rian pun melihat tulisan itu yang di buatnya dengan benang wol, "ini" tanya Rian.


"Aku membuat ini agar dokter sedih dokter bisa menghapus air mata dokter dengan sapu tangan ini, dan lambang hati ini ada simbol walaupun dokter bersedih akan ada semangat baru yang memberikan cinta untuk dokter contohnya Mia anak kandung dokter sendiri yang menjadi penyemangat dokter untuk bangkit" jelas Prita.


"Kamu ternyata aslinya benar-benar cerewet yah" ledek Rian.


"Dokter bisa ngeledek juga."


"Aku ucapkan terimakasih, sekarang kamu harus pulang karena aku juga harus segera memeriksa pasien lain di ruangannya" ucap Rian.


"Iya" pergi meninggalkan Rian.


Rian pun memberhentikan langkahnya dan menoleh ke belakang melihat Prita yang sudah hilang dari pandangannya, dia membuka kembali sapu tangan itu dan melipatnya dengan rapi di masukan ke dalam kantongnya.


Cahaya yang saat itu berangkat sekolah bergegas sarapan di meja makan, "kok buru-buru" tanya Harisza.


"Iya opa, hari ini Cahaya kesiangan opa karena tidur sama bunda buat Cahaya pulas tanpa sadar sudah jam segini" sambil mengunyah rotinya.


Mira pun keluar dari kamar di temani oleh Bagus, "kamu kenapa keluar, istirahat saja" ucap Harisza.


"Bete pa di kamar, mau duduk di luar menghirup udara segar" ucap Mira.


"Ya udah papa temanin kamu, kita sambil minum teh di taman belakang."


"Boleh pa, Cahaya belajar yang rajin yah. Di antar sama ayah hari ini" ucap Mira.


"Iya bunda" jawabnya.


"Kok sepi yah, mama, Blue sama sekretaris Kim kemana" tanya Mira penasaran melihat di meja makan hanya ada Cahaya dan Harisza saja.

__ADS_1


__ADS_2