
Blue pun menarik nafas panjang untuk melanjutkan ceritanya.
"Terus kak aku di antar mereka ke makam ayah" tangis Blue makin pecah.
"Kenapa ke makam, apa yang terjadi" tanya Mira lagi.
"Ayah sudah meninggal 1 tahun yang lalu, ayah mengalami kanker otak. Sebelum ajalnya ayah meminta keluarganya untuk mencari aku dan ibu tapi mereka tidak menemukan kami. Ayah menyampaikan amanatnya kepada keluarga mau meminta maaf kepada ibu dan aku. Selama ini ayah menolakku dan ibu karena dia terkena kanker dan dia tidak mau membebankan kami makanya dia bersikap seperti orang jahat agar kami benci kepadanya" tangis Blue.
"Setiap orang tua mempunyai alasan tersendiri Blue untuk jauh dari keluarganya" ucap Mira pun untuk menenangkan Blue.
"Ternyata ayah sangat menyayangi aku kak, awalnya ayah di nyatakan sembuh tapi saat dia mencoba mencari aku dan ibu penyakit itu kambuh lagi. Bertahun-tahun dia melawan kanker itu agar bisa bertemu tapi pada akhirnya dia tetap tidak bisa di tolong" ucap Blue sambil memegang tangan Mira.
"Sekarang kamu harus sabar dan ikhlas ya, pelan-pelan kamu harus cerita ini semua ke ibumu agar kebencian ibumu kepada ayahmu hilang. Tidak baik menyimpan dendam bertahun-tahun" ucap Mira membuat Blue tenang.
"Iya kak, pelan-pelan aku akan memberitahu ibu. Makasih ya kak, selalu ada dan memberikan nasihat kepada adikmu ini" senyum Blue sambil memandang Mira.
"Sama-sama, adiknya Mira kan dewasa. Apalagi adikku yang satu ini juga akan menikah dengan sekretaris Kim" ledek Mira.
"Kak jangan bicara begitu, aku kan malu kalau Cahaya dengar" mereka pun tertawa bersama-sama.
Keesokan pagi Putri ke kantor Bagus menaiki angkutan umum. Saat masuk pun dia merasa jijik di dalam itu penuh dengan aroma yang bermacam-macam, di pertengahan jalan ada yang masuk sambil membawa seekor kambing.
"Yieu, rasanya mau muntah" batin Putri langsung membuka tasnya mengeluarkan parfum menyemprotkan seisi angkot dan membuat penumpang marah.
"Neng, apaan sih semprot-semprot gini emangnya ada nyamuk apa" tanya salah satu penumpang.
"Bau tau, kalian di dalam sini emangnya ngak ada yang mandi apa. Apa lagi hewan ini" sambil menunjuk kambing di depannya.
"Neng ngak tau apa, kalau aroma kambing memang seperti ini. Emangnya ngak pernah lihat kambing apa" tanya penumpang yang punya kambing.
__ADS_1
"Gue kan orang kaya jadi ngak tau lah hewan bau-bau gini, mendingan hewan ini sebelum di bawa pergi suruh mandi dulu" marah Putri.
"Hadeh neng ngak usah bohong deh, kalau orang kaya ngak mungkin naik angkot gini" ledeknya dan kambing itu pun langsung buang air besar di dekat kaki Putri sehingga membuat dia menjerit dan membuat semua orang di dalam tertawa.
"Berhenti-berhenti, saya turun di sini" sambil memegang mulutnya menahan rasa mual.
Putri pun turun dengan kesal "sial banget sih jadi orang miskin, naik angkot, kepanasan, bau dan di eek kambing juga. Ini semua karena papa, kenapa aku di keluarkan dari kartu keluarga. Sekarang aku harus masuk dan meminta semua hakku. Terpaksa aku harus merendahkan diriku di depan laki-laki kaku ini."
Seiring berjalan Arya pun sampai di kantor, dia melihat wanita di depannya berjalan seolah tidak seimbang. Melihat wanita itu ingin jatuh Arya langsung menangkap dan menahannya sehingga mereka saling berpandangan.
Bagus yang saat itu tiba di kantor melihat kejadian itu hanya tersenyum "pasangan serasi" gerutunya sambil pergi meninggalkan tempat itu menuju ruangannya.
Mereka pun melepaskan pelukannya dan Arya merasa bau mendekati wanita itu sehingga menutupi hidungnya dan bertanya "anda tidak apa-apa nona."
"Terimakasih" ucap Putri sambil mencium aroma bajunya terasa bau kambing. "Okey sekarang saya permisi dulu ke toilet" Putri pergi meninggalkan Arya.
"Cantik sih tapi kok bau ya" ucap Arya dalam hatinya.
"Kenapa aku bisa tergoda meminjam uang dengan depkolektor mafia seperti itu, mereka mencari ku seperti anjing yang mencari mangsanya" ucap Tiara sampai di terminal.
"Aku harus bisa sampai ke Bali penyamaran ini jangan sampai ke tauan" langsung menyelinap ke dalam bis sedangkan semua anggota depkolektor yang mencarinya ke bingungan.
"Selesai" ucap Putri di kamar mandi menyemprotkan parfum ke seluruh tubuhnya dan merapikan pakaiannya yang berantakan.
Putri pun terburu-buru berjalan ingin masuk ke ruangan Bagus tapi di cegah oleh sekretaris Kim yang berada di luar.
"Minggir" usir Putri.
"Lebih baik nona pergi dari sini, bukannya nona dan pak Bagus sudah tidak ada hubungan lagi" ucap Kim.
__ADS_1
"Sial, kalau tidak miskin aku mana mau masuk kesini. Aku harus lemah lembut bicara padanya dari pada sia-sia datang kesini" dalam hati Putri.
"Sekretaris Kim saya kesini akan berbicara 4 mata secara pribadi dengan pak Bagus, izinkan saya masuk" Putri pun berbicara dengan lembut.
"Oke" sekretaris Kim langsung menelpon dan dia pun membuka pintu itu "silahkan."
Putri pun masuk ke ruangan Bagus dan melihat ekspresi Bagus yang dingin.
"Ada apa?" tanya Bagus.
"Aku kesini mau meminta hakku" jawabnya.
"Hak apa?"
"Hak yang kamu janjikan setelah kita bercerai" jawab Putri sambil mengeluarkan kertas perjanjiannya yang masih ada di kopernya saat dia meninggalkan rumah Bagus. Koper yang dia bawa dari awal pergi belum sama sekali dia buka lagi setelah beberapa bulan.
"Kalau aku menolaknya bagaimana, karena kamu sendiri yang bilang tidak membutuhkannya" dengan nada datarnya.
Putri yang mendengar perkataan Bagus langsung di buatnya kesal, dalam hatinya "dasar laki-laki kaku berani sekali dia mempermainkan aku, aku harus bisa sabar menghadapinya" Putri pun menarik nafas panjang.
"Aku minta maaf waktu itu aku benar-benar tidak sadar, hari ini aku tersadar ingin meminta hakku. Aku mohon berikan itu pada ku" dengan nada sedih.
Bagus pun tertawa mendengar ucapan Putri, " hahahaha sekarang seorang Putri Arman memohon kepada Bagus Sandi Dinoto, apa aku tidak salah dengar. Atau jangan-jangan keluarga Arman sudah bangkrut" ledek Bagus.
Putri pun menarik nafas panjang lagi mendengar ucapan Bagus yang merendahkan harga dirinya. "Iya kami bangkrut makanya aku kesini meminta hakku" ucap Putri menahan emosinya.
"Sekretaris Kim beri sesuai dengan perjanjian dulu, sekarang kamu lihat sendiri sekretaris Kim apa yang aku katakan bahwa dia akan datang lagi kesini" sambil tertawa dan mengusir Kim serta Putri pergi dari ruangannya.
"Ayo nona ikut saya" ajak Kim, Putri pun mengikuti Kim dari belakang. Di depan pintu ruangan Bagus Putri pun bergerutu "laki-laki sial dia benar-benar membuat aku ingin sekali menjambak rambutnya itu."
__ADS_1
Kim menoleh ke belakang melihat Putri yang sedang mengupat bosnya itu "Ada apa nona ayo sekarang sebelum pak Bagus berubah pikiran" ucap Kim dan membuat Putri menganggukkan kepalanya.