
Bagus melihat Harisza duduk di ruangan sambil melihat hpnya, "papa" ucap Bagus.
"Kamu sudah pulang" tanyanya.
"Iya, tapi ini aku juga mau langsung pergi lagi ke Bali bersama Kim dan Prita. Tapi Cahaya, mama dan Blue kemana, sepi banget" ucap Bagus.
"Iya tadi mereka ke makam semua" jawabnya.
"Maksud papa makam Mira, tapi kok papa ngak ikut" tanya Bagus.
"Itu dia ada yang mau papa katakan pada kamu, papa mau ke makam Mira sama kamu karena" belum selesai melanjutkan suara hp Bagus pun berbunyi.
"Nanti dulu pa, Bagus angkat telpon" pergi keluar meninggalkan Harisza. Selesai menelpon Bagus pun masuk lagi ke dalam.
"Pa, kita ke makam Mira setelah Bagus pulang dari Bali. Sekarang waktunya sudah mepet Bagus harus jemput Prita dan ke bandara, maaf ya pa tapi papa harus tau kalau cinta Bagus hanya untuk Mira. Tolong papa katakan itu pada mama dan Cahaya" langsung masuk ke kamarnya ganti baju dan pergi bersama Kim dengan terburu-buru.
Harisza yang saat itu tidak bisa berkata apa-apa pun langsung terduduk di sofa, "Bagus kamu sibuk sekali mengurus anak Arman, seandainya kamu tau kemungkinan Mira masih hidup kamu pasti menjadi orang yang paling gila untuk mencarinya. Tapi aku tidak bisa melakukan otopsi dan membuka makam itu kalau tidak ada persetujuan dari Bagus, benar-benar pusing kepala ku memikirkan ini sendirian" langsung menggulingkan tubuhnya di sofa sampai akhirnya tertidur.
Cahaya yang saat itu di makam Mira menangis tiada henti "bunda, Cahaya kangen banget sama bunda. Cahaya minta maaf ya ngak datang setiap hari karena Cahaya sering banget ngalamin hal-hal yang terduga. Cahaya juga belum bisa melukis lagi tapi wajah bunda selalu terlukis di hati dan pikiran Cahaya sama ayah" sambil memeluk makam.
"Kak aku juga minta maaf selalu lalai menjaga Cahaya sampai-sampai Cahaya selalu terluka, Tapi aku janji kak kalau aku tidak akan meninggalkan Cahaya. Kakak bahagia ya di sana karena di sini aku selalu mendoakan kakak" ucap Blue dalam hatinya.
Lilian pun menaburkan bunga-bunga di makan itu sambil berkata "Mira kamu menantu idaman setiap orang tua, mama yakin kamu di sana bahagia karena kamu menantu yang baik, istri yang setia dan ibu yang penyayang."
"Oma, bunda sekarang melihat Cahaya kan dari atas sana" tanyanya sambil berdiri mendekati Lilian.
__ADS_1
"Iya sayang, bunda kamu pasti sedang melihat anak cantiknya ini di sana, makanya Cahaya jangan jadi anak yang cengeng" ucap Lilian.
Cahaya hanya mengangguk dan suara hp dari Blue pun berbunyi ternyata wa dari Kim.
"Tante, ada pesan kalau Kak Bagus, Mas Kim dan Prita pergi ke Bali untuk mengobati kakinya Prita" ucap Blue.
"Terimakasih Blue atas infonya, ya udah ayo sayang kita pulang. Oma tau perasaan Cahaya tapi jagan sedih lama-lama nanti bunda di sana juga sedih" bujuk Lilian agar Cahaya mau pulang.
"Iya oma, dadah bunda. Kalau Cahaya libur lagi Cahaya akan datang lagi" pergi meninggalkan makam itu.
Astri yang masuk ke kamar membuka lacinya hanya melihat obat-obatan di dalam laci itu, akhirnya dia pun mencari-cari foto yang belum sempat dia lihat itu tapi tidak ketemu "aku ingat ada di laci, kalau jatuh juga ngak ada ini. Apa Mas Rian yang ambil tapi untuk memastikannya aku harus masuk ke kamarnya, tapi bagaimana " ucap Astri.
"Aku punya ide" langsung masuk ke kamar mandi memasukkan sapu tangan ke dalam pipa dan menutupnya lagi.
"Bik, kamar mandinya macet ne" teriaknya dari dalam, Bik Darmi pun masuk setelah mendengar suara Astri.
"Iya bik" langsung keluar dan Astri pun masuk ke kamar Rian, dia mencari dan membuka semua yang ada di kamar Rian tapi saat dia ingin membuka lemari terakhir tiba-tiba Astri mendengar suara kaki yang ingin masuk ke kamar itu akhirnya dia mengurungkan niatnya untuk membuka dan berlari ke depan pintu.
Saat membuka pintu seseorang itu kaget Astri ada di depan matanya, "kamu kenapa ada di depan pintu" tanya Rian.
"Tadi kamar mandi di kamar ku macet mas, dan aku mencoba membuka kamar mandi mas juga tapi ternyata sama saja macet. Saat mau keluar mas sudah membuka pintu duluan" jawabnya agak gugup.
"Oh, ya udah suruh mang Diman aja" ucap Rian.
"Iya tadi Bik Darmi udah telpon mang Diman suruh kemari, tapi kok mas pulang bukannya pagi tadi udah berangkat" tanya Astri untuk mengalihkan perhatian Rian agar tidak curiga.
__ADS_1
"Tadi ada berkas penting yang ketinggalan di kamar, sekarang aku mau ambil" jawab Rian langsung masuk ke kamar dan membuka lemarinya.
"Ya udah mas kalau gitu aq mandi kamar mandi utama saja" Rian pun mengangguk dan Astri buru-buru pergi.
Saat mengambil berkas yang ketinggalan tiba-tiba berkasnya terjatuh, Rian baru sadar kalau susunan di lemari kamarnya ada yang berbeda. Bahkan Rian pun langsung masuk ke kamar mandinya dan dia melihat kamar mandi itu dalam keadaan kering tanpa ada pijakan kaki seseorang pun masuk.
Rian menarik nafas dalam-dalam dan membuka lemarinya saat dia lihat dan membuka kotaknya ternyata foto-foto masa lalunya masih ada di dalam, akhirnya dia pergi keluar membawa berkas-berkasnya itu.
Rian pun memberhentikan langkahnya dan berpesan pada Bik Darmi kalau Mia dan Astri menyusul ke puskesmas untuk melanjutkan terapinya.
Bagus, Kim dan Prita yang sampai di Bali melanjutkan perjalanan jauh mereka ke tempat praktek dokter untuk mengobati kakinya.
Saat di perjalanan mereka di hadang oleh segerombolan preman untuk memberhentikan perjalanan mereka. "Ada apa lagi ini, sudah 3x hari ini aku di cegat begini" kesal Bagus.
Kim memberhentikan mobilnya itu langsung keluar dan menghajar semua preman itu, namun dia seperti kewalahan karena terlalu banyak yang menyerang sedangkan pertahanan tubuhnya sudah tidak kuat lagi seperti muda dulu.
Melihat itu Bagus hendak keluar "Prita kamu jangan keluar dan kunci semua mobil" ucap Bagus, Prita pun mengangguk dan mengunci semua pintu mobil saat Bagus masuk.
Perkelahian pun berlanjut dan semua preman itu kalah sehingga mereka kabur meninggalkan Bagus dan Kim yang sudah ngos-ngosan menghadapi mereka semua.
"Kamu ngak apa-apa" tanya Bagus.
"Ngak apa-apa pak, maaf kalau saya sampai lengah tadi sebab tubuh saya tidak kuat lagi seperti dulu menahan mereka yang menyerang semuanya" ucap Kim.
"Tidak apa-apa, harusnya di usiamu sekarang sekretaris Kim kamu harus pensiun" ucap Bagus.
__ADS_1
"Jangan pak, saya belum terlalu tua" jawab Kim.
Bagus dan Kim pun saling melihat dan tertawa bersama, "ya udah sekarang kita masuk mobil lanjutkan perjalanan" ajak Bagus, hingga akhirnya mereka melanjutkan perjalanan.