
Cahaya melihat di dalam tempat itu memakai baju seragam beladiri karate dengan ikat pinggang yang berbeda warna di perutnya.
"Itu Johan" tunjuk Cahaya.
"Betul?"
"Johan ngapain disini" tanya Cahaya.
"Tugas kita di sini menyemangati Johan karena hari ini Johan final lomba karate, aku tau Cahaya kalau kamu sedih tapi sebagai teman kita harus saling mendukung. Sama seperti aku mendukung kamu dan kita mendukung Johan" tegas Kevin.
"Kamu hari ini sok baik deh, tapi kamu betul kita harus dukung Johan agar dia senang. Aku juga kan ngak mungkin sedih terus di rumah. Sekarang ayo kita teriak" ucap Cahaya.
"Ayo" ucap Kevin mereka berdua berteriak. "Johan, Johan, Johan, Johan."
Johan pun menoleh ke arah mereka yang datang menyemangatinya dengan wajah senyum dan bahagia, dalam hati Johan "Kevin, Cahaya mereka datang, aku harus bisa menang hari ini untuk mereka."
Di taman pun Bagus termenung dia pun di kagetkan dengan suara hp miliknya yang di telpon oleh Kim.
"Apa, jadi hari ini selesai pencarian dan di nyatakan Tiara hilang. Hari ini kamu pulang ke Jakarta bersama yang lain" kesal Bagus langsung membanting hpnya.
Dalam hati Bagus "Maafkan aku Mira, aku bahkan tidak bisa membuat ke adilan untuk kamu" dengan wajah sedih dan marah.
Melihat ekspresi anaknya itu Lilian yang dari jauh langsung mendekatinya dan memeluknya.
"Sudah hentikan, jangan bersedih berlarut-larut" bujuk Lilian.
"Tapi ma, keadilan untuk Mira belum terwujud. Wanita itu harus merasakan apa yang Mira rasakan" tangisnya.
"Kamu adalah Bagus Sandi Dinoto CEO dari Cahaya Muda, mama yakin kamu bisa mengatasi ini dengan mudah sama seperti kamu mengatasi musuh-musuh kamu dalam bisnis. Bangun nak, ingat walaupun Mira tiada tapi Cahaya masih hidup" ucap Lilian yang membuat Bagus sadar.
Selesai lomba pun ternyata Johan menang lomba karate kategori anak-anak. "Hore" sorak Cahaya dan Kevin serta yang lainnya. Medali pun di bagikan ke pada juara Johan yang saat itu selesai menerima medali langsung mendekati orang tuanya.
"Akhirnya anak mama dan papa menang" mama Johan.
"Iya lah siapa dulu anak papa" teriak papa Johan.
"Iya ma, pa. Tapi medali ini aku mau kasih dengan seseorang. Papa dan mama tunggu di sini" berlari meninggalkan papa dan mamanya.
"Cahaya, Kevin lihat deh aku menang" ucap Johan.
"Iya kami tau kok, tapi kan kamu baru menang satu kali. Lihat aku donk selalu menang dalam lomba apa pun" ucap Kevin yang selalu sombong.
"Johan selamat yah, udah kita ngak usah ladenin orang sombong kayak dia. Pada hal ngak pernah ikut lomba apa pun tapi sombong" ledek Cahaya.
"Eh Cahaya aku dengar tau kamu bilang apa" sambung Kevin.
"Biarin aja, kamu tu bisanya cuma ngomong doank" tawa Cahaya dan Johan.
__ADS_1
"Ini" Johan memberikan medali itu ke tangan Cahaya.
"Apa?" bingung Cahaya.
"Ini untuk kamu" jawab Johan
"Kok kasih sama Cahaya, Cahaya kan ngak ikut lomba" sambung Kevin yang melihat itu kesal.
"Iya, tapi aku mau kasih sama Cahaya sebagai permintaan maaf karena ngak datang ke pemakaman bunda Cahaya. Aku dari kemarin-kemarin masih lomba" jawab Johan.
Orang tua Johan yang melihat Johan bercerita dengan temannya langsung mendekati mereka.
"Jadi ini orang yang mau di kasih medali itu" ledek mama Johan.
"Papa, mama, tadi kan Johan bilang tunggu kenapa kesini" ucapnya malu.
"Habis lama banget sedangkan kita harus makan merayakan kemenangan, eh ada Kevin" ucap papanya.
"Om dan tante, iya Kevin kesini mengajak Cahaya untuk lihat Johan, oh iya ini Cahaya temen Kevin dan Johan" memperkenalkan diri.
"Selamat siang om dan tante" senyum Cahaya.
"Selamat siang cantik, perkenalkan nama tante Jeni dan ini om Hans kami mama dan papa Johan. kok malah Kevin yang memperkenalkan harusnya Johan" ledek Jeni.
"Oh kamu Cahaya anaknya Bagus Sandi Dinoto itu" tanya Hans.
"Aduh om dan tante minta maaf ya belum sempat ke rumah untuk belasungkawa, mungkin malam nanti kita kesana" ucap Hans.
"Ngak apa-apa kok om dan tante, ya udah Cahaya dan Kevin pulang dulu ya. Ini medalinya kamu yakin Johan mau kasih ke aku" tanya Cahaya.
"Iya ambil aja, nanti aku nyusul ke rumah kamu" jawab Johan.
"Eh nanti aja pulang, kita makan dulu ngerayain kemenangan Johan" pinta Jeni.
"Ngak usah tante, Kevin antar Cahaya pulang dulu kayaknya Cahaya perlu istirahat. Om, tante dan Johan kami pulang dulu" pamit Kevin meninggalkan tempat itu bersama Cahaya.
Mereka pun menaiki mobil pulang ke rumah di perjalanan Kevin senang melihat Cahaya sudah tersenyum lagi.
"Cahaya, surat pindah kamu sudah di urus ya. waktu itu aku lihat om Kim ke sekolah" tanya Kevin.
"Iya kayaknya udah, dari awal aku kan memang akan tinggal di Jakarta sama bunda tapi sekarang aku sendiri" sedihnya.
"Ngak usah sedih Cahaya, aku akan temenin kamu terus kok" ucap Kevin.
"Temenin gimana" tanya Cahaya penasaran.
"Ada deh, kamu lihat aja sendiri" jawab Kevin.
__ADS_1
Malam hari pun tiba mereka menggelarkan yasinan meninggalnya Mira. Banyak teman, keluarga dan tetangga yang datang mendoakan.
Setelah seminggu kemudian Cahaya mulai masuk ke sekolah barunya, Bagus pun mulai masuk ke kantor lagi. Walaupun mereka sudah menjalankan aktivitasnya tapi Mira selalu ada di hati mereka berdua.
Pagi itu Blue keluar dari kamar membawa kopernya.
"Tante mau kemana" tanya Cahaya.
"Cahaya sayang, tante mau pulang ke Bali melanjutkan pekerjaan bunda Cahaya yang sudah tertinggal serta mempersiapkan pernikahan tante tinggal satu bulan lagi" ucap Blue.
"Cahaya sedih tante ninggalin Cahaya" ucapnya.
"Cahaya tiap hari tante akan hubungi Cahaya terus, kalau Cahaya suruh ke Jakarta tante pun akan cepat ke Jakarta" bujuknya.
"Janji" ucap Cahaya yang mengulurkan jarinya dan di balas dengan senyum oleh Blue, Blue pun memeluk Cahaya dan pergi pamit dengan Lilian, Harisza dan Bagus.
"Apa sekretaris Kim ikut" tanya Bagus.
"Tidak, mas Kim akan ikut mendekati 2 Minggu pernikahan" jawab Blue.
"Kenapa ngak hari ini saja" tanya Bagus.
"Apa boleh pak" sambung Kim.
"Ya ngak boleh lah, kerjaan di kantor banyak" ucap Bagus sambil tertawa melihat ekspresi Blue dan Kim yang tadi senyum menjadi cemberut.
"Udah kalian hati-hati ya, Kim antar Blue pelan-pelan ya" ucap Harisza.
"Baik pak, saya permisi" mereka pergi meninggalkan tempat itu.
Cahaya yang sudah menggunakan seragam baru untuk ke sekolah hari ini hanya diam.
"Cahaya kenapa" tanya oma.
"Cahaya hari ini pertama kali masuk sekolah, nanti kalau Cahaya ngak punya teman gimana" ucapnya.
"hahaha" Lilian, Harisza dan Bagus tertawa.
"Kok oma, opa dan ayah tertawa" tanyanya.
"Kenapa cucu oma ngak percaya diri seperti ini" jawabnya.
"Cahaya, ayah tau Cahaya. Semua orang akan suka dengan Cahaya. Hari ini ayah langsung yang akan antar Cahaya" ucap Bagus.
"Iya, opa yakin Cahaya akan punya banyak teman jadi jangan ngak percaya diri seperti itu. Cucu opa bukan orang yang gampang menyerah bukan."
"Iya" angguk Cahaya kepada mereka semua.
__ADS_1
"Sudah selesai makan, sekarang ayo kita berangkat" ajak Bagus.