Ayah Ku Idola Ku

Ayah Ku Idola Ku
bab 117


__ADS_3

Cahaya yang saat itu kakinya sakit tidak bisa berdiri saat di tari, melihat Cahaya yang ke sakitan Mira langsung memukul penculik bertopeng sampai jatuh. Saat dia menghampiri Cahaya Mira sudah di tutup mulutnya menggunakan sapu tangan yang sudah di berikan obat tidur hingga pingsan.


Bagus yang keluar dari apotik melihat Mira di gendong ke dalam mobil dan Cahaya menangis berontak saat di gendong oleh sekelompok penculik itu, melihat Mira dan yang di bawa pergi bagus berteriak dan buru-buru masuk ke dalam mobil.


Di dalam mobil Cahaya berteriak "Bunda" sambil menangis melihat Mira dalam ke adaan pingsan.


"Om lepasin bunda dan Cahaya, kalau kaki Cahaya ngak sakit aja kalian semua pasti k.o sama Cahaya" celoteh Cahaya.


semua penculik yang ada di dalam mobil itu tertawa mendengar ucapan Cahaya, "Adik kecil, mana bisa kamu menang melawan kami tubuh besar semua seperti ini" ucap salah satu dari mereka.


Cahaya pun mengelap air matanya "om, minta tisu hingus Cahaya mau keluar ini" ucapnya sambil melihat ke arah Mira yang masih pingsan.


"Ini, ni, jangan buang sembarangan. Kalau sudah nanti ikat tangannya" perintah salah satu dari penculik itu.


"Ngak usah di ikat, kaki Cahaya sakit jadi mana bisa berdiri gerak-gerak. Kalau di ikat tangan berarti tangan Cahaya ikut sakit juga."


"Kita ngak akan ikat tapi kita akan mengikat mata kamu aja."


"Bos mobil Bagus mengejar kita" ucap supir penculik itu.


Cahaya pun menoleh kebelakang sambil tersenyum "ayah pasti mau nyelamatin Cahaya dan bunda. ayah, ayah, ayah" teriak Cahaya.


"Berisik! kamu cepat bawa mobilnya" marah salah satu dari mereka yang membuat Cahaya semakin berteriak.


"Tolong, Cahaya dan bunda di culik. Tolong kami di culik, tolong selamatkan kami, ayah gunakan semua kekuatan mu" Cahaya semakin berteriak.


Mereka pun mengambil plaster menutup mulut Cahaya serta mengikat tangan Cahaya juga, "sekarang kamu bisa diam."


Cahaya yang coba gerak pun tidak bisa karena tangannya di ikat dan mulutnya ditutup plaster.


Bagus yang masih mengejar segera menelpon Arya "iya pak" jawab Arya.


"Sekarang kamu di mana, bisa-bisanya kamu pulang cepat" marah Bagus.


"Bukankah tadi bapak dan ibu yang suruh pulang" jawab Arya.


"Banyak alasan, kamu sekarang cepat pulang kemari karena saya mengejar Mira dan Cahaya di culik saat lagi belanja di apotik tadi" teriak Bagus.

__ADS_1


Arya pun segera putar balik dengan kecepatan penuh, "kenapa?" tanya Putri yang kaget saat mobil itu melaju cepat.


"Saat kita pulang dari sana Mira dan Cahaya di culik, sekarang kita harus bantu pak Bagus" ucap Arya sambil melanjutkan mobil yang di bawanya.


Saat Bagus mengejar mobil itu tiba-tiba di depan mobil Bagus ada mobil yang menghalangi jalannya sehingga Bagus kehilangan mobil yang membawa Mira dan Cahaya.


"Sialllllll, kemana lagi itu mobil. Ini jalan simpang 4 aku harus kemana" teriak Bagus kesal.


"Aku coba lurus saja deh" celotehnya lagi sambil menjalankan mobilnya dan melihat lihat.


Namun saat itu Arya menelpon "pak dimana" tanyanya.


"Sekarang kamu kemari, aku share look lokasi" memberhentikan mobilnya sambil menunggu Arya.


5 menit kemudian Arya sampai bersama Putri, "Pak gimana?" tanya Arya.


"Aku kehilangan jejak mereka, kamu kenapa saat itu langsung pergi dan tidak menjaga istri serta ankku" kesalnya.


"Dalam kondisi seperti ini jangan menyalahkan orang lain, mending kita laporkan pada polisi biar di bantu. Semakin banyak yang cari semakin mudah menemukan Mira dan Cahaya" ucap Putri.


Mendengar ucapan Putri itu Bagus langsung membuka pintu mobil, "Kemana pak?" tanya Arya lagi.


Di dalam mobil Putri pun berceloteh "Bagus itu katanya pintar tapi saat mencari istri dan anaknya malah kelihatan bodoh" tawanya.


"Udah hentikan ngatain Pak Bagus begitu, Pak Bagus itu khawatir jadi dia ngak bisa berpikir secara jernih" ucap Arya.


"Belain aja terus bos kesayangan kamu" kesal Putri.


Sampai di kantor polisi mereka segera masuk, Bagus pun segera membuat laporan tapi dia lupa plat mobil yang di gunakan karena terlalu khawatir. Selesai membuat laporan mereka pun keluar dari kantor polisi, namun hp Bagus berbunyi ternyata dari Harisza.


"Papa" sambil mengangkat telpon tersebut.


"Ada apa pa?"


"Kamu kenapa belum pulang" tanyanya.


"Aduh aku lupa lagi" celoteh Bagus.

__ADS_1


"Apa, lupa apa?" tanya Harisza.


"Ini pa, Mira dan Cahaya tadi di culik saat aku membeli obat. Sekarang aku lagi di kantor polisi memberikan ke saksian"


"Apa, ini masalah besar kenapa kamu tidak langsung telpon papa sih. Kamu dimana sekarang papa menyusul" marah Harisza.


"Iya, iya pa Bagus share look lokasi bagus sekarang."


Mereka pun mematikan hp nya, Lilian yang mendengar ucapan Harisza segera mendekati "Ada pa, kenapa mama dengar culik. Emang siapa di culik" paniknya.


"Mira dan Cahaya di culik ma saat Bagus keluar membeli obat untuk Cahaya" jawab Harisza.


"Apa, kok bisa. Sekarang ayo pa kita cari Bagus" Harisza belum sempat bicara lagi Lilian pun segera ke kamar mengambil tasnya.


Bagus, Arya dan Putri yang menunggu Harisza pun masih duduk di depan kantor polisi. Saat Harisza datang bersama Lilian menaiki taxsi.


"Pa, ma" panggil Bagus.


"Gimana" tanya Harisza.


"Udah laporan pa, polisi akan bantu cari tapi kita ngak bisa mengandalkan polisi jadi kita juga harus mencari" ucap Bagus.


"Kamu ingat wajah penculiknya"


"Mereka menggunakan topeng pa"


"Plat mobil" sambung Lilian. Bagus pun hanya menggeleng kepala.


"Kalau gitu CCTV di dekat sana" ucap Harisza.


"Bagus ngak tau, tapi kit coba lihat dulu pa."


"Ya udah, Arya dan Putri ke lokasi cari CCTV sebagai petunjuk di saat Mira dan Cahaya di culik. Kami keliling mencari Cahaya dan Mira" mereka pun segera bergegas masuk ke dalam mobil masing-masing dengan ke adaan panik.


Mira yang saat itu masih pingsan tiba-tiba terbangun, Mira membuka matanya melihat di daerah sekitar dan berusaha duduk. "Aku dimana" sambil menyadarkan kesadarannya.


"Aku ingat, tadi aku melihat Cahaya jatuh saat datang beberapa orang bertopeng menarik-narik kami. Cahaya, Mas Bagus" segera berdiri membuka pintu kamar namun pintu itu terkunci sehingga Mira berteriak.

__ADS_1


"Tolong, siapa di luar tolong buka pintunya. Aku mau keluar" sambil menggedor-gedor pintu itu.


Kedua pria yang bertopeng pun membuka pintu kamar dan masuk ke dalam, Mira pun langsung berteriak.


__ADS_2