Ayah Ku Idola Ku

Ayah Ku Idola Ku
bab 46


__ADS_3

Jeni dan Hans keluar dari mobil mendekati Bagus dan Johan.


"Pak Bagus terimakasih sudah mengantarkan anak saya" ucap Hans.


"Iya sama-sama" jawab Bagus. Bagus pun langsung menunduk dan duduk di depan Johan sambil berkata "Terimakasih sudah menjadi teman Cahaya, tapi om harap kamu bisa mengendalikan emosi kamu."


Johan pun mengangguk atas ucapan Bagus, Hans dan Jeni pun bingung mendengar ucapan Bagus seperti itu kepada anaknya.


Di dalam rumah Kevin memberikan bingkisan besar yang di siapkan untuk Cahaya.


"Ini" langsung memberikan ke tangan Cahaya.


"ini apa" tanyanya.


"Buka biar tau" ucapnya, Cahaya pun membukanya ternyata isinya seperangkat alat untuk melukis. Melihat itu wajah Cahaya sedih dan memberikannya lagi pada Kevin.


"Kenapa?"


"Aku ngak mau" tolaknya.


"Tapi kan kamu suka melukis" ucap Kevin, Rahayu yang melihat mereka sedang murung langsung mendekati mereka.


"Kevin, Cahaya hanya butuh waktu. Cahaya ngak apa-apa kan" tanya Rahayu.


"Ngak apa-apa tante, Kevin maaf ya" tunduk Cahaya dengan wajah sedih.


"Ya udah deh ngak apa-apa aku simpan dulu, kalau suatu saat kamu sudah sadar kamu boleh ambil" kesal Kevin.


"Emangnya aku pingsan, eh gelang permata di tangan kamu kok ngak ada" tanya Cahaya penasaran.


"Ada kok, tadi saat mendorong nenek sihir itu gelangnya lepas" langsung mengambil gelang yang ada di kantong celananya.


"Sini aku benerin" pinta Cahaya langsung mengambil gelang itu dari Kevin.


"Udah deh ngak usah sok, aku bisa kok benerin itu. Aku kan serba bisa" celoteh Kevin.

__ADS_1


"Anak-anak udah ngak usah ribut, tante keluar dulu yah" langsung pergi meninggalkan Cahaya dan Kevin.


"Udah aku aja yang benerin, besok aku kasih ke kamu" langsung menyimpan gelang Kevin.


Di teras luar Rahayu melihat Jeni, Hans, Bagus dan Johan yang sedang mengobrol, Rahayu pun menghampiri mereka.


"Mas Hans, kak Jeni dan Kak Bagus ayo masuk ke rumah, kenapa di luar" ajak Rahayu ke dalam.


"Ngak usah yu, kakak dan mas mu akan langsung pulang. Kasihan Johan lama-lama menunggu" ucap Jeni.


Jeni, Hans dan Johan langsung masuk ke mobil. Jeni di dalam mobil pun penasaran dengan perkataan Bagus tadi ke pada Johan.


"Johan apa yang kamu lakukan tadi, kenapa pak Bagus berkata seperti itu" tanyanya.


"Tadi Johan hampir melukai orang ma, Johan hanya kesal melihat dia mendorong Cahaya sampai jatuh" jawab Johan. Jeni pun tersenyum mendengar perkataan anaknya itu.


"Bagus deh, kamu harus berteman dan menjaga Cahaya. Pokoknya kamu harus membuat Cahaya nyaman kalau ada kamu" ketus Jeni.


"Engak, papa ngak setuju. Kamu hampir melukai orang lain karena menjaga Cahaya. Papa mau kamu hanya berteman saja tidak perlu menjaganya seperti itu nanti kalau kamu yang terluka gimana" Hans pun tidak menyetujui dan membuat Jeni kesal mendengar perkataannya itu.


"Pa, ngak apa-apa menjaga Cahaya lagian anak kita kan bisa karate" jawab Jeni sambil memegang pundak Hans yang masih menyetir mobil.


"Ngak ada salahnya pa, ini juga bagus untuk kerja sama PT Halilintar dan PT Cahaya muda" senyum Jeni yang masih usaha untuk melembutkan hati suaminya itu.


Cahaya dan Kevin pun langsung ke luar rumah.


"Kevin, tante Cahaya pulang" ucap Cahaya.


"Iya hati-hati ya sayang" jawab Rahayu.


Cahaya dan Bagus masuk ke mobil untuk pulang ke rumah, Bagus melihat anaknya murung di dalam mobil itu pun langsung bertanya "Cahaya, tadi Kevin kan mau kasih sesuatu. Kok ayah lihat Cahaya tidak membawa apa-apa keluar."


Mendengar pertanyaan ayahnya itu Cahaya menjadi sedih dan menangis, "Sayang ada apa" tanya Bagus lagi.


"Tadi Kevin memberi Cahaya perlengkapan melukis, tapi Cahaya menolak karena Cahaya sudah memutuskan untuk tidak melukis lagi" tangis Cahaya di mobil.

__ADS_1


"Hem Cahaya tidak perlu menangis seperti itu, ayah tau Cahaya belum siap saja. Cahaya dan ayah sama-sama saling membantu dari keterpurukan ini" langsung menghapus air mata Cahaya.


"Apa bunda di surga akan marah sama Cahaya" tanyanya.


"Bunda tidak akan marah sama Cahaya jadi Cahaya ngak perlu sedih ya" jawab Bagus.


Sesampainya di rumah, Hans pun langsung pergi lagi ke kantor meninggalkan Johan dan Jeni. Jeni langsung membawa anaknya ke dalam.


"Sayang pokoknya apa yang mama katakan di mobil tadi harus di lakukan yah, jangan dengerin perkataan papa mu. Johan sayangkan dengan Cahaya, kalau Johan mendengar papa maka Johan akan kehilangan Cahaya" ucap Jeni yang membuat Johan tidak bisa membantah perkataannya.


"Iya ma, Johan ngak mau terjadi apa-apa dengan Cahaya" jawab Johan.


"Pinter, bila perlu kalau ada yang jahatin Cahaya Johan kasarin aja ngak apa-apa nanti mama yang akan bantu Johan" Johan mengangguk dan Jeni pun tersenyum puas, dalam hati Jeni "Aku akan membuat Johan dan Cahaya selalu bersama sampai dewasa, kalau Cahaya merasa nyaman bersama Johan maka aku akan menjodohkan mereka. Karena Cahaya satu-satunya pewaris PT Cahaya Muda, aku bisa menyingkirkan siapa pun mengganggu rencanaku. Sama seperti aku menyingkirkan almarhum David walaupun akhirnya rencana ku gagal karena adanya Kevin."


Jeni mengingat kejadian di masa lalu dimana dia membayar orang untuk memotong tali rim mobil David karena David adalah anak pertama Dirga Kencana. David meninggal karena kecelakaan menabrak mobil bus akibat rem mobilnya blong tapi polisi malah membuat kasus kecelakaan itu karena David mengonsumsi obat terlarang, Jeni menukar narkoba ke vitamin David saat David ingin berlibur bersama istrinya.


Karena efek dari narkoba itu kepala David pusing sehingga dia menabrak bus, sayangnya istri David selamat dan malah hamil. Karena selalu mengingat David istrinya menjadi stres sampai melahirkan bayi prematur hingga dia meninggal.


Bayi prematur itu sehat bernama Kevin, Jeni tidak bisa melukainya karena Kevin lebih memilih tinggal di Bali. Tapi saat Jeni mengetahui tentang Cahaya dari Dirga dan Kevin akhirnya dia sengaja mendekatkan Johan dengan Cahaya dengan cara menyuruh Johan bersama dengan Kevin dan memindahkan Johan ke sekolah yang sama dengan Cahaya.


"Sekarang anakku Johan bisa di andalkan, suatu saat Johan akan sama statusnya dengan Kevin kalau dia bersama Cahaya" senyum Jeni, Johan yang melihat mamanya senyum-senyum sendiri pun bingung.


"Mama kenapa senyum-senyum ya, udah ah biarin aja mending aku masuk kamar aja" Johan langsung pergi meninggalkan mamanya.


Selesai rapat putri terburu-buru ke mejanya dia pun membuka hpnya memilih sesuatu.


"Yang mana ya" sambil mengotak atik hpnya itu. Arya pun mendekatinya yang sibuk sendiri itu.


"Put kamu kenapa" tanyanya.


"Ini aku mau kasih sesuatu seperti boneka sama anak perempuan, tapi bingung yang mana karena ini semua imut-imut banget" gerutunya.


"Anak perempuan sekarang sukanya Rapunzel" jawab Arya asal-asalan.


"Makasih ya, okey aku pesan ini aja" sambil memesan.

__ADS_1


"Untuk siapa sih" penasaran.


"Ada deh, udah kita makan dulu" ajak putri, Arya pun langsung mengikutinya.


__ADS_2