
Harisza pun menarik nafasnya dan mengembuskan secara berlahan agar tidak emosi namun Bagus duluan yang langsung membantah perkataan itu.
"Pak Arman yang terhormat saya benar-benar berterima kasih karena putri anda bernama Prita sudah membantu anak saya dari kecelakaan sehingga dia sendiri terluka, dan asal anda tau Pak Arman otak di balik kecelakaan ini adalah" jelas Bagus.
"Sudah Bagus hentikan tidak perlu di jelaskan" ucap Harisza langsung memotong pembicaraan Bagus yang panjang itu.
"Kenapa harus di hentikan cepat ceritakan semuanya" bentak Arman langsung memegang kera baju Bagus.
Harisza pun langsung menarik Arman dan membuat dia jatuh ke lantai, "hey Arman aku sudah menahan emosi karena kamu seolah menuduh kami, tapi asal kamu tau ini semua kesalahan anak kandung mu sendiri Putri yang sudah merencanakan mencelakai cucuku. Tapi semuanya malah mengenai Prita adik kandungnya sendiri. Ayo Bagus kita pergi dari sini" menarik tangan Bagus pergi meninggalkan Arman sendiri.
Arman pun mencoba berdiri dan duduk di kursi tunggu sambil menangis dan menggerutu "anak bodoh selalu saja membuat susah hidupku dan adiknya sendiri, tapi aku akan tetap membuat Bagus dan Harisza mempertanggung jawabkan ini semua karena menolong anaknya nyawa anakku jadi taruhannya" Arman pun tersenyum memikirkan rencananya.
Keesokan harinya Mia pagi-pagi masuk ke kamar wanita yang selalu dia jaga, "mama" teriaknya masuk ke kamar dan memeluk wanita yang dia panggil mama.
Wanita itu hanya tersenyum dan Bik Darmi pun mengetuk pintu dari luar dan masuk ke kamarnya.
"Bu, kita mandi dulu sudah itu baru makan" ucap Bik Darmi sambil menyiapkan semuanya.
"Bik aku mau mandi sendiri saja, kita berjalan pelan-pelan saja ke kamar mandi" pintanya.
"Ma, kalau susah aku panggil papa untuk gendong mama ke kamar mandi" ucap Mia.
"Ngak usah Sayang, mama bisa kok. Papa kamu juga pagi tadi udah berangkat pamitan sama mama" sambil mengelus rambut Mia. Dia pun mengingat kejadian pagi tadi saat dokter Rian masuk ke kamarnya pagi-pagi.
"Kamu sudah bangun" dia pun kaget ada suara dari balik pintu kamarnya.
"Iya" jawabnya sambil melihat dokter rian berjalan ke arahnya.
"Aku tau kamu pasti bingung dengan semua ini karena kamu hilang ingatan, tapi aku tidak mau saat kamu sadar kamu jadi acuh dengan Mia anak mu. Mia menjaga mu seharian, dia berubah menjadi anak pendiam dan tidak pernah keluar untuk bersosialisasi dengan orang lain. Aku harap kamu bisa bersikap seolah ibu dan anak dengan Mia agar dia tidak merasa sendirian" jelas Dokter Rian.
"Baik lah, tapi apa benar aku istrimu" tanyanya, membuat dokter itu diam untuk berpikir.
"Aku akan menjelaskan semuanya setelah kondisimu sudah benar-benar sehat, sekarang aku permisi pergi kerja" pergi meninggalkan wanita itu.
"Mama kenapa bengong, katanya mau mandi. Ayo" membantu untuk berdiri.
__ADS_1
"Iya mama mandi dulu ya" berjalan ke kamar mandi pelan-pelan sambil di papah oleh Bik Darmi.
Cahaya pagi-pagi pun mencari Bagus di temani Kevin dan Johan yang pagi-pagi ke hotelnya.
"Ayah dimana sih" sambil melihat ke arah sekitar.
"Telpon aja susah banget sih" celoteh Kevin.
"Udah tapi ngak di angkat, aku udah ngak sabar mau ke rumah sakit melihat keadaan bu guru" Cahaya pun memeriksa kantong baju dan celananya.
"Kamu kenapa" tanya Johan.
"Cari uang, kita berangkat sendiri aja ke rumah sakit kalau tidak ada ayah" jawabnya.
"Nanti kita di omelin, mending kita minta antar itu" sambil menunjuk ke arah laki-laki dan wanita yang lagi bermesraan untuk sarapan.
"Jangan, kita ngak boleh ganggu Om Kim dan Tante Blue. Mereka lagi seneng" ucap Cahaya.
"Bodoh amat, aku ngak mau di omelin. Kakek, oma dan opa kamu juga sibuk entah kemana, papa dan mama Johan semalam udah pulang" ucap Kevin langsung berlari ke arah Kim dan Blue.
"Hem" ucap Kevin di belakang Kim dan Blue yang lagi asik makan suapan.
"Kevin, tuan kecil" ucap mereka.
"Om dan Tante cepat antar aku, Cahaya dan Johan ke rumah sakit. Semua orang sibuk di cari ngak tau kemana, sisanya tinggal kalian" celotehnya.
"Baik lah saya akan antar tuan kecil dan nona" ucap Kim.
"Iya kami akan antar kalian, tapi kalau di izin kan oleh kak Bagus" ucap Blue.
"Tante, kita udah cari ayah dan ditelepon ngak angkat. Ayo tante plis" jurus Cahaya memeluk Blue agar mau.
"Okey" berdiri menarik tangan Kim mengajaknya untuk pergi. Kim pun mengikuti karena dia tidak bisa menolak.
"Hore berangkat" teriak Cahaya, Johan dan Kevin.
__ADS_1
Selesai mandi dan berganti baju wanita itu di ajak ke meja makan untuk sarapan.
"Bu Astri mau makan apa biar bibik yang siapin" ucap Bik Darmi langsung menuangkan teh hangat dan susu di meja. Wanita itu pun hanya diam "kenapa panggilan Astri membuat perasaan ku tidak nyaman seolah itu bukan namaku" dalam hatinya.
"Mama" teriak Mia membuat kaget dari lamunannya.
"Ayo tehnya di minum, ini Mia udah siapin roti oles untuk mama" meletakkan roti itu di depan meja makannya.
"Bik boleh saya tanya sesuatu" tanyanya.
"Mau tanya apa bu" jawab Bik Darmi.
"Betulkah Astri itu namaku, kenapa aku tidak merasakan apa pun dengan panggilan itu" tanyanya yang membuat Bik Darmi bingung.
"Maaf bu, kata bapak nama ibu Astri, Saya hanya mengikuti perkataan bapak saja. Kalau ibu mau tanya-tanya silahkan tanya sama bapak saja karena saya juga pembantu baru di sini" jelasnya.
Saat itu datang supir masuk ke dalam menghampiri mereka.
"Maaf bu mengganggu, Pak Rian tadi berpesan kalau ibu dan Non Mia sudah selesai makan. Ibu dan Non Mia saya antarkan ke puskesmas" ucap supir itu.
"Kenapa saya harus ke puskesmas" tanyanya.
"Saya tidak tau bu, saya hanya menyampaikan pesan dan perintah Pak Rian" jawabnya.
"Udah ma kita ikutin aja, kita makan yang banyak" celotehnya sambil makan roti buatannya. Astri pun tersenyum dan mengangguk mendengar celotehan Mia.
Cahaya, Johan, Kevin, Blue dan Kim sampai di rumah sakit.
"Ayo kita masuk, kita tanya dulu Bu Prita ada di ruangan mana" ajak Blue. Mereka pun masuk mengikuti Blue dan Kim yang bertanya dengan perawat di sana. Selesai bertanya Blue dan Kim senyum-senyum melihat mereka bertiga yang berdiri di belakang Kim.
"Kenapa tante kok seneng gitu" tanya Johan.
"Berita baik, ternyata Bu Prita sudah sehat jadi di pindahkan ke ruangan perawatan" ucap Blue sambil tersenyum senang.
"Alhamdulillah, ayo tante dan om kita masuk" mereka bertiga pun secepatnya menarik tangan Blue dan Kim.
__ADS_1
Sampai di depan pintu ruang perawatan Prita mereka semua kaget melihat Bagus terjatuh di hadapan mereka.