Ayah Ku Idola Ku

Ayah Ku Idola Ku
bab 143


__ADS_3

Gaga saat itu merapikan kerah bajunya "aku tidak ingin mengusik kamu, tapi aku hanya ingin melihat keadaan calon anakku. Kalau kamu masih menuduh aku berbohong lebih baik kita lakukan tes DNA agar tahu anak yang dikandung Mira itu anak ku atau anak kamu" ucapan Gaga dengan percaya diri.


Sehingga membuat bagus ingin marah namun dokter segera membuka pintu dan memanggil nama Bagus sehingga Bagus pun menahan emosinya "bagaimana keadaan istri saya?" tanya bagus kepada dokter.


"Sepertinya Ibu Mira perlu di rawat beberapa hari di sini, tubuhnya sangat lemah dan kekurangan cairan karena terlalu sering mual dan muntah yang berlebihan. jadi dia harus istirahat total dan diberikan makanan-makanan yang bergizi."


"Apa bisa istri saya dirawat di rumah?"


"Bisa, tapi harus dengan pengawasan oleh tenaga kesehatan seperti suster" mendengar ucapan dokter itu pun Bagus lega.


"Sepertinya istri saya memang harus rawat di rumah saja dokter dan saya minta tolong ke pada dokter tolong siapkan perawat yang bersedia menjaga dan merawat istri saya selama di rumah. Saya tidak ingin istri saya di rumah sakit ini nanti akan diganggu oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, kalau di rumah tidak akan ada orang yang berani mendekati istri saya sedikitpun" ucapan Bagus itu pun membuat Gaga kesal.


"Dokter apa bisa usia kehamilan masih muda di lakukan tes DNA" pertanyaan mendadak Gaga itu membuat Bagus emosi sehingga mendorong tubuhnya.

__ADS_1


"Apa maksud pertanyaan kamu itu" kesal Bagus sehingga dokter pun menahan Bagus.


"Pak Bagus jangan emosi di sini nanti Ibu Mira akan ke pikiran, mengenai pertanyaan Bapak tadi kehamilan usia muda bisa saja di lakukan DNA tapi sangat berbahaya. Walaupun itu sangat di perlukan maka harus dilakukan dengan penuh hati-hati" jelas dokter.


Mendengar ucapan dokter itu Gaga pun tersenyum "terimakasih dokter" segera pergi meninggalkan Bagus dan dokter.


Bagus yang melihat Gaga penuh dengan kebencian itu pun segera membalikkan tubuhnya masuk ke kamar Mira.


Mira yang melihat suaminya itu pun tersenyum "mas kita bisa pulang kan, aku mau bersama dengan Cahaya" ucap Mira.


"Makasih mas"


Cahaya yang berada di rumah pun gelisah mondar mandir, Blue yang melihat ke ponakannya itu pun segera menarik bajunya sehingga Cahaya menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Tanteeee" kesal Cahaya.


"Kenapa? gelisah" Cahaya pun mengangguk.


"Bunda kamu tidak apa-apa."


"Kenapa Tante enggak mual muntah dan pingsan seperti Bunda, mengapa tante santai-santai saja?" tanya Cahaya kepada Blue.


"Sayang setiap orang hamil itu berbeda-beda jadi tidak akan sama tante dan Bunda kamu, tante juga sudah melewati masa-masa itu dimana usia kehamilan tante waktu masih menginjak 2 bulan. Sekarang kan usia kehamilan Tante sudah tua dan tinggal berapa bulan lagi melahirkan makanya mual dan muntah juga sudah berkurang sekarang".


"Cahaya kasihan sama Bunda tante dan Cahaya juga kasihan sama dedek bayinya masa dedek bayinya nggak terima makanan yang dikasih Bunda sih" Blue tersenyum mendengar ucapan Cahaya itu.


"Ya idah Tante telepon Kevin dan Johan untuk temenin Cahaya di sini biar Cahaya nggak mondar-mandir kayak setrikaan gini."

__ADS_1


"Enggak nggak nggak nggak, Cahaya nggak mau di temenin mereka. Yang ada kepala Cahaya makin pusing di omelin mereka, mendingan Cahaya duduk di luar aja deh nungguin Ayah sama Bunda" ucap Cahaya langsung pergi meninggalkan Blue sendiri.


__ADS_2