Ayah Ku Idola Ku

Ayah Ku Idola Ku
bab 41


__ADS_3

Di perjalanan ke sekolah baru Cahaya hanya diam, Bagus yang melihat anaknya itu sedih tapi sebagi seorang ayah yang di idolakan anaknya dia berusaha untuk mengembalikan kebahagiaan anaknya itu.


"Cahaya sekarang sudah sampai, ayo" ajak Bagus.


"Iya ayah."


Mereka pun masuk ke ruang kepala sekolah untuk mengurus perpindahan Cahaya.


"Terimakasih pak sudah menerima anak saya di sini" ucap Bagus


"Sama-sama Pak Bagus, saya harap Cahaya betah sekolah disini" jawab kepala sekolah.


Dari luar pintu ada yang mengetuk pintu dan masuk, sosok wanita berjilbab, cantik dan ramah.


"Nah Ini Pak Bagus perkenalkan Bu Prita wali kelas Cahaya" ucap kepala sekolah mereka pun berkenalan.


"Prita" ucapnya.


"Bagus" jawab Bagus.


"Bu Prita baru seminggu mengajar dan menjadi wali kelas disini, Tapi tidak usah khawatir pengalamannya di luar negeri betul-betul tidak di ragukan lagi" bangga kepala sekolah itu.


"Bu Prita saya titip anak saya Cahaya Mentari" pinta Bagus.


"Iya Pak Bagus ngak usah khawatir" jawab Prita.


"Ayo Cahaya kita ke kelas" ajak Prita, Cahaya pun mengangguk.


Mereka pun pamit dan keluar dari ruang kepala sekolah.


"Cahaya ayah ingin sekali mengantar sampai depan kelas, boleh ya" bujuk Bagus.


"Enggak" jawab Cahaya.


"Plis" pintanya.


"Okey deh, ayah maksa banget sih" kesal Cahaya, Bagus pun tersenyum puas. Saat di perjalanan jalan menuju kelas suara hp bu guru berdering sehingga bu guru mengangkatnya.

__ADS_1


"Pak Bagus dan Cahaya, saya mohon maaf tadi pak kepala sekolah telpon lagi kalau ada anak baru lagi yang masuk. Pak Bagus dan Cahaya boleh duluan ke kelasnya, kelasnya ada di ujung jalan ini" jelas bu guru.


"Iya bu ngak apa-apa" jawab Bagus, bu guru pun meninggal Bagus dan Cahaya.


"Sekarang sudah di depan kelas, Cahaya masuk ya semoga sekolahnya menyenangkan" langsung mencium Cahaya.


"Iya ayah, hati-hati di jalan" teriak Cahaya, Cahaya pun masuk ke dalam kelas tapi di dalam kelas rasanya sangat tegang bagi Cahaya untuk pertama kali.


"Hey lihat deh ada anak baru masuk" ucap salah satu dari mereka.


"Anak manja, masak masuk aja di antar oleh ayahnya di depan pintu" hardik yang lain.


"Hey asal kalian tau ya aku bukan anak manja" balas Cahaya.


"Hey teman-teman udah donk, dia kan anak baru kenapa kalian omongannya jahat banget" bela salah satu dari mereka.


"Lihat ngak tadi dia antar ayahnya doank ngak bareng ibunya, berarti dia ngak punya ibu donk. Apa jangan-jangan dia tidak punya ibu" semuanya menertawakan Cahaya, Cahaya rasanya ingin menangis melihat ejekan teman-temannya namun tiba-tiba pukulan dari suara pintu sangat keras sehingga membuat mereka pada kaget.


"Hey kalian semua berani banget ngejek Cahaya, bukan hanya Cahaya yang tidak punya ibu tapi aku juga ngak punya ibu bahkan aku juga ngak punya ayah. Hari ini kalian bilang Cahaya ngak punya ibu siapa tau dari kalian semua pulang nanti ayah atau ibu kalian juga pergi ninggalin kalian. Jangan ada yang berani mengejek Cahaya, kalau ada yang berani kalian berhadapan dengan! Johan ayo masuk" panggil Kevin. Johan pun langsung ikut masuk ke dalam kelas.


"Ini dia Johan juara satu karate, kalau ada yang berani Johan yang akan membasmi kalian. Dan aku akan menganjurkan kalian" marah Kevin.


"Ibu sudah mendengar dari luar apa yang kalian katakan tadi, tidak baik menyakiti teman kalian sendiri. Kalau ada yang berani berkata seperti tadi di kelas ibu, ibu akan segera menghukum dan melapor kalian kepada dua orang tua kalian. Paham" marah bu guru.


Semuanya menjawab bersamaan "paham bu."


"Cahaya, Kevin dan Johan silahkan kalian duduk di bangku kosong itu, untuk Cahaya duduk dengan Linda" perintah bu guru.


Mereka pun mengangguk dan pergi ke tempat duduk mereka masing-masing. Cahaya yang saat itu senang melihat sahabatnya ada di kelas tapi tetap bertanya-tanya kenapa keduanya bisa pindah berbarengan.


"Hey kenalin aku Linda" ucap anak berambut lurus memakai bando pink duduk di sebelah Cahaya yang membela Cahaya tadi.


"Aku Cahaya" jawabnya.


"Omongan anak di kelas tadi ngak usah di pikirin ya Cahaya" ucapnya, Cahaya mengangguk tersenyum.


Di kantor Bagus memulai pekerjaan, Putri dengan riasan wajah super tebal dan merah itu datang menghampiri Bagus.

__ADS_1


"Selamat pagi Pak Bagus" sapa Putri.


Bagus heran kenapa Putri menjadi ramah beberapa hari ini, dia sering ikut pengajian untuk Mira setiap hari ke rumah dan selalu menegur Bagus padahal Bagus sangat risih. Yang membuat Bagus jengkel dia mendekati Cahaya.


"Hahaha" ketawa Bagus.


"Kenapa tertawa" tanya Putri.


"Kamu hari ini ngak ngaca ya" tanya Bagus.


"Saya hari ini ngaca terus pak bisa 10 kali pagi ini" jawab Putri keceplosan.


"Lihat aja dulu dandan kamu kaca, udah ah waktu saya terbuang karena kamu" kesal Bagus.


"Nanti dulu, jawab dulu kenapa dandanan saya" tahan Putri penasaran dengan ucapan Bagus.


"Kamu" Bagus memanggil Arya yang tiba-tiba masuk di kantor.


"Ada apa pak" tanya Arya.


"Jelasin makeup perempuan ini" jawab Bagus menunjuk Putri dan pergi meninggalkan mereka.


Arya pun menoleh ke arah Putri dan dia pun tertawa melihat Putri.


"Ada apa sih kok kamu tertawa" tanya Putri lagi.


"Kamu dandan di mana" tany Arya sambil menutupi mulutnya.


"Aku dandan di rumah lah terus di sini aku tambahin lagi" jawab Putri.


"Mending kamu hapus deh, dandanan kamu itu berlebihan malah sekali lewat seperti ondel-ondel saking merahnya blus on di wajah dan lipstik yang tidak karuan. Udah aku ke ruangan dulu ya" ucap Arya langsung meninggalkan Putri.


Putri pun tercengang dengan perkataan Arya dia buru-buru pergi dari situ mencari toilet karena semua orang menertawakannya.


Saat berkaca Putri pun kaget melihat wajahnya sangat merah dan di pipinya ada bekas coretan lipstik.


"Hah, kok jelek gini" teriaknya di toilet itu dan dia pun mengingat kejadian sebelumnya. Saat dia tau Bagus ada di parkiran Putri buru-buru menggunakan bedak dari dalam tasnya tapi yang dia ambil salah malah blush on dan menggunakannya berlebihan sambil bercermin menggunakan layar hp. Saat dia ingin memakai lipstik temannya tidak sengaja menyenggolnya dan saat dia ingin menghapus lipstik itu tiba-tiba Bagus masuk ke dalam kantor tanpa sadar dia lupa menghapus dan pergi mendekati Bagus.

__ADS_1


"Sial, kenapa hari ini gue bodoh banget. Kalau gini kan usaha untuk dekatin Bagus malah gagal, bodoh, bodoh, bodoh" teriaknya dari toilet itu langsung mengambil tisu dan mencuci wajahnya.


__ADS_2