Ayah Ku Idola Ku

Ayah Ku Idola Ku
bab 98


__ADS_3

"Dari mana" tanya wanita itu.


"Tadi aku lupa jalan, jadinya balik lagi kesini" ucap Putri terbata.


Putri pun keluar dari tempat itu menemui Arya "kalau gitu makasih" ucap Arya. Mereka pun secepatnya pergi dari tempat itu menuju mobil.


Di rumah Mira melihat Mia yang sedang duduk sendirian "kenapa sendirian" tanya Mira.


"Tante, ngak apa-apa kok cuma sedih aja" jawabnya.


"Sedih, kamu kangen sama papa kamu sampai sedih."


"Bukan, Tante."


"Terus."


"Mia takut bilangnya nanti Mia di bilang pengadu" ucapnya.


"Kamu jangan takut, kalau ada apa-apa cerita saja sama tante. Tante akan dengerin."


"Tapi Tante janji yah jangan marah" Mira pun mengangguk, "sebenarnya Mia di sekolah di bully Tante, Cahaya pun ikut serta bukan membantu Mia."


"Bully, Cahaya ngak mungkin melakukan hal itu Mia. Mungkin Mia salah paham saja, tante sangat percaya sama Cahaya dia tidak akan menyakiti orang lain" ucap Mira.


Mia yang mendengar jawaban Mira itu merasa kesal, dia pun menarik nafas dan mengembuskan "tidak apa-apa kok kalau Tante ngak percaya, tapi Mia tolong jangan katakan ini pada Cahaya karena Mia tidak mau di sekolah Mia akan semakin di bully lagi karena mengadu. Kalau gitu Mia permisi pergi ke kamar" sambil tersenyum berjalan meninggalkan Mira yang sedang memikirkan ucapannya tadi.


Arya dan Putri yang masuk ke dalam mobil pun segera bergegas pulang ke rumah, "gimana tadi, aku mau lihat" ucap Arya meminta hp Putri.


"Ini, tapi kamu jangan kaget yah" Putri langsung memberikan hpnya.


"Ini" kaget arya sambil melihat foto keluarga yang dia lihat.


"Iya, wanita itu mirip sekali dengan mantan istri kamu" celoteh Putri.


"Kok bisa mirip begini, tapi ini bukan Tiara."


"Hem kayaknya ada yang baper ne" ledek Putri.


"Kamu bicara begitu, apa kamu cemburu."


"Idih siapa juga cemburu" kesal Putri.


"Aku akan selidiki dulu, sudah lengkap baru aku akan bilang ke Pak Bagus" ucap Arya, Mereka pun masuk ke kamar masing-masing.


Pagi hari pun Cahaya sudah siap di meja makan dahulu, "Cahaya sudah ada di sini" tanya Lilian.

__ADS_1


"Iya oma, mau nungguin ayah dan bunda" jawabnya.


Pada saat bersamaan Harisza, Mira, Bagus, Blue dan Mia juga ikut duduk sarapan.


Cahaya yang tersenyum puas langsung memberikan hasil lukisannya kepada Mira dan Bagus yang duduk bersebelahan.


"Ini apa sayang" tanya Mira.


"Ini adalah harapan Cahaya pada ayah dan bunda."


Mira dan Bagus membuka lukisan yang indah itu, "coba Cahaya jelasin."


"Ini ayah, bunda, Cahaya dan dedek bayi" ucap Cahaya. Mira dan Bagus pun memeluk dan mencium Cahaya.


"Cahaya udah kasih kode tu sama kakak" ledek Blue.


"Iya, sekalian aja dedek bayi dari Tante juga" ucap Cahaya.


"Boleh-boleh" jawab Blue, Mia yang melihat itu merasa risih dari dalam hatinya "Cahaya apa-apaan sih ngak cocok banget, harusnya di lukisan itu mama, papa, aku dan dedek bayi."


"Berarti rencana kamu mau ke puncak jadi" tanya Harisza.


"Jadi pa, saya mau berangkat bersama istri dan anak saya" ucap Bagus.


"Om, Mia boleh ikut juga yah" sambung Mia sambil mengunyah makanannya.


Mendengar ucapan Bagus Mia memberhentikan makannya, "Mas kamu jangan bicara seperti itu pada anak kecil" ucap Mira.


"Ngak apa-apa kok Tante, ucapan om benar" ucap Mia.


"Udah-udah sekarang ayo siap-siap Cahaya dan Mia mau berangkat ke sekolah" potong Lilian mencairkan suasana.


Cahaya dan Mia pun segera keluar rumah dan masuk ke dalam mobil bersama dengan Mira.


Sesampai di depan gerbang Kevin, Johan dan Linda sudah menunggu mereka.


Cahaya dan Mia yang turun dari mobil segera di tarik oleh Linda, "Tante hati-hati dijalan" ucap Linda sambil mengajak Cahaya dan Mia berjalan mengikutinya.


"Itu anak-anak kenapa yah" Mira pun penasaran dan turun dari mobil, saat keluar dari mobil Mira tidak sengaja menyenggol seorang wanita yang baru turun dari ojek.


"Prita" ucap Mira.


"Mira."


"Kamu udah ngajar lagi" tanya Mira.

__ADS_1


"Iya, Alhamdulillah hari ini saya mulai mengajar lagi. Saya juga sudah kangen banget sama anak-anak" jawabnya.


"Wah, kalau gitu Cahaya pasti senang banget kamu masuk hari ini."


"Ya udah aku duluan masuknya mir, aku mau menghadap kepala sekolah dan ketemu guru yang lain untuk metode belajar yang sudah lama aku tinggalin."


"Iya, silahkan."


Prita pun pergi meninggalkan Mira di luar gerbang, "oh iya, aku tadi mau mencari Cahaya" berjalan masuk ke dalam.


Linda pun memberhentikan jalannya saat di depan Kevin dan Johan "Aduh lepasin, kamu kenapa tarik-tarik" kesal Mia.


"Cahaya hari ini aku mau kasih tau kamu sesuatu" ucap Kevin.


"Sesuatu, apa?"


"Orang yang sudah merusak lukisan kamu" ucap Kevin.


"Siapa?" Cahaya pun penasaran.


"Dia" tunjuk Kevin ke Mia.


"Mia, maksud kamu" tanya Cahaya.


"Iya pelakunya Mia" jawab Kevin.


"Kamu jangan asal bicara yah, emang kamu punya bukti nuduh sembarangan. Itu fitnah Cahaya kamu tidak usah percaya sama mereka orang-orang aneh" ucap Mia.


"Ini buktinya Cahaya" Linda pun memberikan botol yang di pegang ya.


"Botol minum, maksudnya apa?" Cahaya semakin penasaran.


"Dari mana mereka dapat botol itu" dalam hati Mia. "Botol minum, apaan sih. Ngak etis banget nuduh hanya dengan botol minum, lagian semua orang bisa punya botol minum" ucap Mia.


"Kamu lihat Cahaya di botol ini ada warna bekas cat, saat orang itu menumpahkan air ke gambar kamu dia memegang gambar kamu sampai tangannya terkena warna. Saat itu tangannya juga terkena botol ini saat ingin membuangnya di kotak sampah, kemarin saat di bangku aku lihat tangan Mia warnanya sama dengan di botol ini. Saat aku tanya Mia malah mencari pembelaan dengan cara berteriak hingga Bu guru mengizinkan untuk pindah tempat duduk" jelas Kevin.


"Kalian jangan bicara sembarangan" bela Mia.


Mendengar ucapan Mia, Johan pun kesal sehingga mendekati Mia "ayo ngaku, ngaku, sekarang. Kalau tidak aku tidak segan-segan menghajar kamu" sambil mendorong tubuh Mia, Cahaya pun menahan Johan yang emosi berhadapan dengan Mia.


"Udah Cahaya kamu ngak usah menghalangi" ucap Johan.


"Apaan sih Johan, kamu gila yah" teriak Mia, Linda dan Kevin yang melihat itu ikut serta menahan Johan.


Sampai akhirnya Mia terjatuh, Cahaya pun mendekati Mia dan mengulurkan tangannya untuk membantu tapi Mia yang sudah marah karena terjatuh itu pun menolak tangan Cahaya.

__ADS_1


"Udah lah Cahaya kamu ngak usah sok baik, kalian bertiga juga ngak usah sok perhatian bela-bela Cahaya. Sekarang aku jawab, betul aku pelakunya" teriak Mia.


Mira yang melihat dan mendengar ucapan mereka kaget.


__ADS_2