
Johan hanya menggelengkan kepalanya, Jeni pun langsung memeluk Johan "bagus lah nanti Cahaya sedih, lagian Johan hanya lihat sekilas. Ya udah tidur udah malam besok sekolah" menyuruh Johan keranjang tidur terus menyelimutinya.
Keesokan paginya Cahaya bersiap-siap berangkat ke sekolah sedangkan Bagus bersiap untuk ke kantor bersama Kim, di meja makan Cahaya penasaran dengan opanya yang tidak ada.
"Oma, apa opa masih belum pulang" tanyanya.
"Belum, apa Cahaya kangen. Kalau gitu kita telpon aja" jawab Lilian langsung mengeluarkan hp yang ada di dalam tasnya.
"Ngak usah Oma, nanti ganggu opa kerja. Cahaya penasaran aja opa ngerjain apa."
"Mungkin proyek besar" jawab Lilian lagi.
"Cahaya, kami di antar Tante Blue, hari ini ayah akan sibuk" sela Bagus di obrolan mereka.
"Ayah, nanti Cahaya mau lihat Bu Prita boleh yah."
"Boleh, tapi ingat jangan buat kegaduhan. Ayah berangkat duluan ya" mencium Cahaya dan pergi keluar bersama Kim.
Sedangkan Astri yang sudah bersiap-siap untuk pergi lagi bersama Rian dan Mia ke puskesmas,
"Non Mia, ada telpon dari guru kalau non ada jadwal menggambar yang belum di kumpulkan" sela Bik Darmi yang terburu-buru keluar menyampaikan telpon yang di angkat tadi.
"Pa buku gambar Mia sudah penuh" celotehnya.
"Ya udah selesai dari puskesmas kita langsung beli" jawab Rian.
"Okey" mereka pun masuk ke mobil untuk berangkat, sesampai di puskesmas Astri masuk ke puskesmas menunggu sesuai dengan antriannya. Di depan pintu wanita paruh bayah yang selesai terapi kaget dan bengong melihat Astri yang duduk di ruang tunggu, karena penasaran dia pun datang menghampiri Astri.
Astri yang di dekati wanita paruh baya itu bingung wanita itu memandangi wajahnya dekat sekali.
"Maaf bu ada apa ya" tanya Astri sambil menjauhi wajahnya yang di dekati wanita itu.
"Kamu benar Mira" jawabnya tanpa mengedipkan mata memandangi wajah Astri.
"Maksudnya apa" bingungnya.
"Benar, kamu itu Mira. Ini aku Nenek Galih, ternyata kamu masih hidup" ucapnya.
"Mira" jawab Astri dan kemudian kepalanya menjadi sakit saat mengucapkan nama itu.
__ADS_1
"Nanti dulu kamu jangan pergi ya, aku mau panggil Sri dulu biar dia tau kalau kamu masih hidup. Tetap disini jangan pergi kemanapun" dia pun pergi mencari seseorang.
Astri pun merasa ada bayang-bayang tapi wajahnya gelap di pikirannya, melihat mamanya kesakitan Mia pun khawatir.
"Mama kenapa" tanyanya, sedangkan Astri tidak menghiraukan ucapan Mia yang berbicara di sebelahnya karena kepalanya semakin berdenyut nyeri.
Dokter Rian pun keluar dari ruangannya mencari Mia dan Astri yang ada di ruang antri, melihat Astri yang memegang kepalanya seperti orang yang kesakitan Rian langsung cepat-cepat mendekatinya.
Saat mendekati mereka Astri pun pingsan tidak bisa menahan rasa sakitnya itu.
"Astri" rangkul Dokter Rian.
"Mama" teriak Mia sambil menangis melihat Astri yang pingsan di hadapannya. Dokter Rian menggendong Astri di bantu oleh orang yang ada di dekat sana membawanya ke dalan ruangan.
Wanita paruh baya itu datang lagi sambil menarik seseorang dengan paksa.
"Loh kok ngak ada" ucapnya.
"Aduh buk kenapa sih buru-buru menarik kesini, obatnya kan baru dapat. Ngak usah buru-buru" kesalnya sambil melepas tangan yang di tarik.
"Disini tadi ada Mira" ucapnya.
"Benar itu Mira, aku tidak salah karena aku melihatnya dengan jelas di depan mataku. Walaupun aku sudah tua Sri kamu tau sendiri kalau mataku masih normal, hp sekarang" marahnya sambil menarik tas yang di gandeng wanita itu.
"Sabar ibu, ini hpnya" dia pun memberikan hp itu. "Kenapa" tanyanya?
Dia pun langsung memukul tangan Sri "Kamu ngejek aku, aku mana bisa main hp. Ini kamu telpon Blue sekarang" perintahnya yang membuat Sri menggelengkan kepala melihatnya.
Blue pun sampai ke sekolah mengantar Cahaya, "belajar yang rajin, jangan berantem" ucap Blue.
"Siap tante" sambil tersenyum dan pergi meninggalkan Blue sendiri di dalam mobil. Saat Blue menghidupkan mobilnya hp Blue pun berbunyi.
"Iya ma" angkat Blue.
"Ini, Nenek Galih mau bicara" jawabnya dan hp itu pun langsung di rebut oleh Nenek Galih.
"Blue nenek mau bilang kalau tadi nenek ketemu Mira" ucapnya.
"Apa" kaget Blue. "Astafirullahhalazim nek, semua orang kan sudah tau kalau kak Mira sudah tenang di alamnya. Nenek salah lihat kali" ucap Blue.
__ADS_1
"Kamu harus percaya sama nenek, tadi nenek bertemu di sini. Kalau nenek lihat dia mau berobat, kamu harus percaya Blue. Mata nenek kamu ini masih sehat walaupun harus melihat dari dekat" jelasnya.
"Iya Blue percaya, tapi nenek harus merahasiakannya dari siapa pun yah biar Blue aja yang menceritakan cerita nenek ke semuanya" ucap Blue.
"Okey, kamu memang cucu nenek" jawabnya langsung memberikan hpnya kepada Sri.
"Hallo Blue, tolong jangan di percaya ucapan Nenek Galih tadi yah" ucap Sri.
"Iya ma, Blue juga tau Kak Mira sudah tiada jadi mana mungkin ada di sana. Blue cuma mau membuat nenek tidak memikirkan hal ini ma jadi anggap aja kita percaya agar dia cepat sembuh" ucap Blue.
"Iya, kamu memang anak baik. Ya udah mama matiin telponnya ya" mematikan hpnya.
"Apa yang ada di pikirkan nenek, tapi kalau nenek benar-benar melihat Kak Mira terus yang meninggal siapa. Udah lah nanti aku ceritakan sama Mas Kim aja, sekarang pulang dulu" celoteh Blue langsung menghidupkan mobil pergi dari sekolah itu.
Dokter Rian pun akhirnya berhasil membuat Astri sadar dari pingsannya. Saat Astri membuka matanya dia melihat wajah khawatir di hadapannya sedangkan Mia menangis tiada henti.
Astri pun langsung duduk di bantu oleh Rian, "Mama" Rian pun mengangkat Mia duduk di bed dekat dengan Astri, Astri pun langsung memeluk Mia agar berhenti menangis.
"Kamu kenapa" tanya Rian.
"Kepalaku pusing banget" jawabnya.
"Kok bisa pusing, kamu mikirin apa" tanyanya penasaran.
"Aku seperti mengingat sesuatu, Apa itu ingatan ku yang hilang."
Rian pun gugup mendengar ucapan Astri tadi,
"Seperti apa ingatan itu" sambil khawatir untuk bertanya.
"Ingatan itu masih samar-samar tidak jelas, suaranya pun masih acak-acakan tidak teratur" jelas Astri sambil mengingat sesuatu.
Dokter Rian pun menarik nafas lega mendengar ucapan Astri "kamu jangan memaksa ingatan itu, aku yakin ingatan itu akan pulih. Apalagi kami sekarang bersama dengan keluarga kamu sendiri" ucap Rian yang membuat Astri lega.
"Iya."
"Sekarang mending kita pulang saja, terapinya di lakukan besok setelah kamu sudah pulih" ucapnya.
"Baiklah, kita pulang saja" ajak Astri sambil melihat ke arah Mia sepertinya sudah tidak betah lagi di tempat itu.
__ADS_1