
Mendengar pertanyaan Mia, Rian pun diam dan berpikir apa yang dia katakan dengan anaknya ini. Namun,
"Mia kamu tanya mama kamu yah, bukannya mama kamu sudah pulang sama keluarganya" ucap Bida.
"Pulang kemana tante" tanya Mia.
"Loh, orang yang sering kamu panggil mama itu kan tante kamu sendiri jadi dia pasti pulang dengan suami dan anaknya" celoteh Bida.
Mia yang mendengar ucapan Bida itu pun bingung, "maaf Bu kayaknya saya harus segera masuk karena perlu istirahat, permisi" ucap Rian langsung memegang tangan Mia masuk ke dalam rumah dengan terburu-buru.
"Gosip apa ini, kenapa mereka mengira Mira adalah tantenya Mia. Siapa yang menyebarkan cerita ini" dalam hati Rian saat masuk ke dalam rumah.
"Pa, papa, pa, papa" panggil Mia yang mengagetkan Rian dari lamunannya.
"Iya sayang" ucapnya.
"Kok papa bengong, jawab mama di mana. Mia mau main sama mama" tanyanya lagi.
"Mia, mama kamu lagi pergi ke rumah temannya. Jadi beberapa hari dia tidak akan pulang" jawab Rian.
"Oh, Mia mau telpon mama kalau gitu" ucapnya berlari mengambil hpnya.
"Jangan sayang."
"Kenapa." memberhentikan langkahnya.
"Mama kamu kan sudah lama tidak bertemu dengan temannya, jadi biarkan saja dulu dia senang-senang sama temannya. Mia jangan ganggu dulu ya."
"Iya deh pa kalau gitu, yang penting mama bahagia sama teman-temannya. Ya udah Mia mau ke kamar dulu mau main boneka" ucapnya, Rian pun mengangguk.
"Maafin papa sudah berbohong sama kamu sayang, papa belum siap kamu kecewa kalau cerita semuanya" dalam hati Rian sambil memandangi Mia yang berjalan kearah kamarnya.
Cahaya di ruangan Mira bercerita tiada henti "Bunda, yang tolongin bunda ternyata Bu guru cantik loh" ucapnya.
"Bu guru cantik siapa sayang" tanya Mira.
"Bu guru cantik itu, gurunya Cahaya. Dia baik banget sama Cahaya dan bahkan dia terluka tidak bisa berjalan karena bantui Cahaya, Cahaya suka banget sama Bu guru cantik ini yang baiknya sama seperti bunda" celotehnya.
"Oh ya, kalau gitu Cahaya ngak sedih donk lalu ada yang mirip bunda" ucapnya.
__ADS_1
"Tetap sedih donk bunda kalau bunda ngak ada, tapi Bu guru cantik selalu bantu Cahaya dan teman-teman. Nanti Cahaya kenalin deh sama Bu guru karena ruangan Bu guru ada di dekat sini."
"Kalau gitu kita bisa jenguk donk" sambil mengelus rambut anaknya itu.
"Boleh, ayo bunda" ajaknya.
"Hem, ngak bisa sekarang Cahaya. Oma kamu lagi nebus obat, ayah kamu di rumah, di sini tante yang jaga bunda dan kamu. Kalau bunda kamu pergi tante jaga siapa, masa jaga kasur" kesal Blue.
"Ih tante cerewet banget sih kayak nenek sihir, padahal kan Cahaya hanya mau ajak bunda keluar" kesal Cahaya juga.
"Kalau bunda kamu kenapa-kenapa gimana, ayo" ucap Blue yang membuat Cahaya mengerutkan bibirnya itu.
"Udah ngak usah ribut, tante benar sayang kalau bunda harus tetap disini. Dokter belum mengizinkan bunda untuk keluar kan" ucap Mira.
"Iya deh, maaf tante" jawab Cahaya.
"Hem, begitu donk anak kecil itu harus mengalah" ledek Blue.
"Tante ngeselin" berlari ke tempat Blue, Blue pun menggelitiki Cahaya.
Di rumah Bagus secepatnya bergegas rapi-rapi untuk secepatnya ke rumah sakit, namun dia mendapatkan telpon dari Kim.
"Kenapa orang itu sombong sekali, saya kan ada urusan keluarga jadi dia harus ngerti" kesal Bagus lagi.
"Okey aku kesana" menutupkan telponnya dan segera pergi ke kantor.
Mira yang saat itu perban lukanya sudah di lepas oleh perawat serta infus di tangannya pun sudah di lepas di izinkan pulang, mereka menunggu Bagus untuk menjemput yang belum datang sama sekali.
Cahaya yang kesal pun berceloteh "ayah lama banget."
"Oma udah telpon berkali-kali tapi tidak di angkat" ucap Lilian.
"Oma, aku tadi telpon Mas Kim ternyata kak Bagus masih rapat bersama dewan dari Bandung, dewan itu tidak mau di wakili sama siapapun saat rapat makanya kak Bagus datang" jelas Blue.
"Ya udah kita pulang sendiri saja kalau gitu, opa kamu masih sibuk mengurus orang yang menabrak Mira" ucap Lilian.
"Ma, apa papa tau siapa orangnya" tanya Mira.
"Orangnya itu sih Arman gembleng sahabat papa kamu sendiri, papa kamu itu terlalu baik sampai-sampai dulu menjodohkan anak kandungnya sama anak sih Arman yang ngak tau diri itu" kesal Lilian.
__ADS_1
"Ma, udah lah ngak usah ingat masa lalu lagi nanti marah sendiri terus darah tingginya kambuh" ucap Mira.
"Iya tante, kita sih harus ngucapin terima kasih juga sama om Arman karena dia kak Mira ingat kita lagi. Yah walaupun harus bertaruh nyawa sih" ucap Blue.
"Ogah, pokoknya kita tidak boleh berterimakasih sama sih gembleng itu" kesal Lilian.
"Udah-udah, sekarang lebih baik Blue kamu cari taksi aja. Kakak udah ngak betah di sini" ucap Mira.
"Iya deh" mengambil hpnya untuk menelpon taksi.
Saat ingin menelpon suara hp Lilian berbunyi ternyata dari Jeni, "Iya Jen" angkatnya.
"Tante saya dan anak-anak mau berkunjung ke kamar Mira, tapi anak-anak tidak boleh masuk jadi saya sendiri yang akan masuk" ucapnya.
"Kami mau pulang Jen, ini mau telpon taksi" jawabnya.
"Kok taksi, ya udah biar Jeni yang antar aja karena mobil Jeni kosong cuma anak-anak aja."
"Nanti ngerepotin kamu" ucap Lilian.
"Ngak kok, ya udah Jeni tunggu di parkiran sama anak-anak ya tante" mematikan telponnya.
"Tante kenapa" tanya Kevin.
"Cahaya dan bundanya pulang hari ini, jadi kita antar saja mereka pulang. Ayo masuk kita tunggu di depan sana" ajak Jeni serta memindahkan mobilnya.
Bagus di kantor pun sangat gelisah karena sudah tidak sabar untuk pulang "Pak Bagus kenapa anda seperti tidak fokus" tanya dewan yang ada di sana.
"Maaf pak, saya sebenarnya ada janji untuk menjemput istri saya yang baru sembuh dari rumah sakit. Saya minta maaf karena seperti orang yang tidak konsisten dalam bekerja" jelas Bagus.
"Saya mengerti, baiklah saya akan menunda rapat kita ini tapi pak Bagus harus datang langsung ke Bandung untuk melanjutkan rapat kita ini" senyumnya.
"Baik pak, terimakasih banyak" ucap Bagus senang. "Kalau gitu boleh saya pulang duluan" pamit Bagus.
Dewan itu mengangguk, Bagus pun langsung menjabat tangannya sambil tersenyum dan langsung buru-buru pergi.
Dia pun mengambil hpnya untuk menelpon Lilian ternyata mereka sudah pulang ke rumah. Sehingga dia melajukan mobilnya untuk segera pulang.
Di perjalan pulang Bagus melihat seseorang yang dia kenal "itu kan" ucapnya langsung memberhentikan mobilnya.
__ADS_1