Ayah Ku Idola Ku

Ayah Ku Idola Ku
bab 75


__ADS_3

"Ngak ada rencana apa-apa kok, siapa juga yang mau bisik-bisik. Kamu cemburu yah lihat kami bisikan" Ucap Kevin membuat Linda kesal.


"Idih apaan sih, ngak perlu yang di cemburuin kali. Kecuali kalau kamu kak Rido baru" menutup mulutnya karena keceplosan.


"Ha ha ha ketahuan, Linda suka sama kak Rido anak nakal itu" ketawa Johan.


"Apaan sih Kak Rido ngak nakal dia cuma salah jalan aja, lagian kita masih kecil ngak boleh suka-suka nanti kena marah orang dewasa" jelasnya.


"Iya deh Kak Rido, eh salah Linda" ledek Kevin.


Mereka pun tertawa puas menertawakan Linda di dalam mobil itu.


Sesampai di rumah sakit Bagus, Kim dan Harisza pun sudah menunggu di sana, Cahaya segera turun dan menghampiri mereka.


"Dadah Cahaya" ucap mereka berbarengan melihat Cahaya yang berlari kecil ke arah Bagus, Cahaya pun tersenyum kecil sambil melambaikan tangannya.


Cahaya segera memeluk Bagus dan mengambilkan sesuatu di tasnya.


"Ini" memberikan gosok gigi kepada Bagus.


"Makasih sayang, ayah benar-benar senang sekali" mencium kening Cahaya.


"Sama-sama ayah, ini demi bunda" jawab Cahaya.


Merekapun masuk bersama-sama ke rumah sakit untuk melakukan tes DNA, "saya mau ambil hasil yang lebih cepat jadi hari ini hasilnya harus ada" ucap Bagus.


"Baik pak, silahkan tunggu walaupun memerlukan waktu agak lama" jawab perawat di rumah sakit itu.


Makanan pun datang ke tempat Rian dan Astri, semua di hidangkan makanan laut "wah enak" ucap Astri langsung menyantap makanan itu.


Rian yang melihat ekspresi Astri menyukai makanan di depannya tersenyum puas, "ternyata Astri menyukai makanan laut, kalau Astri yang asli dia tidak menyukai makanan seperti ini bahkan daging. Dia wanita yang menjaga penampilannya sehingga dia hanya makan sayuran, tapi Astri yang di depan mataku ini membuat aku tersenyum hanya melihat dia makan dengan lahap" ucap Rian dalam hatinya.


Saat Astri menyantap kerang tenggorokannya terasa sakit serta badannya pun langsung gatal-gatal, Astri pun langsung minum dan menggaruk tubuhnya itu.


Saat dia melihat tangannya bengkak dan merah "Ah gatel, panas, sakit" memegang tenggorokannya.


"Kenapa" Rian pun kaget melihat Astri yang menahan sakitnya, dia segera mendekati Mira.


"Ayo kita ke rumah sakit" ajaknya berjalan pelan-pelan.

__ADS_1


Arya yang melihat itu dari kejauhan pun langsung menarik Putri, "Ayo kita keluar sekarang" ajaknya.


"Eh tapi" Putri pun segera mengambil tasnya saat di tarik oleh Arya.


Saat dia keluar pun dia langsung menghampiri Rian dan Astri.


"Dok istrinya kenapa" tanya Putri penasaran melihat Astri memegang tenggorokannya.


Belum sempat Rian menjawab Astri langsung pingsan "Astri" teriak Rian.


"Ayo biar kami yang antar dokter" bantu Arya yang ikut menahan Astri yang pingsan juga.


Mereka pun bergegas ke mobil, Astri duduk di belakang bersama Rian dalam kondisi pingsan sedangkan Arya yang membawa mobilnya duduk bersama Putri.


"Aduh kok bisa gini" tanya Putri lagi.


"Saya juga tidak tahu, kalau di lihat dari gejalanya seperti alergi" jawab Rian.


Arya yang melihat itu tersenyum dan berkata "Kenapa dokter memberikan makanan yang menyebabkan istri dokter alergi, dokter kan suaminya tidak mungkin tidak tahu dengan riwayat penyakit istri sendiri" sindir Arya yang memancing percakapan Rian.


"Saya lupa" jawab Rian.


"Pembohong" celoteh Arya dalam suara kecil.


"Bukan apa-apa" jawab Arya.


"Ayo cepat turun bantu dokter" berhentikan mobilnya dan segera turun membantu Rian mengangkat Astri ke bed sampai masuk ke ruang IGD.


Astri pun di periksa dan di berikan resep obat untuk segera di tebus dan di minum. Rian segera keluar dari IGD tersebut dan menghampiri Arya dan Putri yang menunggu di luar.


"Terimakasih, sudah membantu kami" ucap Rian kepada mereka.


"Sama-sama dok, gimana keadaan istri dokter" tanya Putri.


"Dia sudah membaik, sekarang lagi istirahat. Saya mau menebus obatnya dulu ke apotik" jawab Rian.


"Ya udah kalau sudah baik kami permisi pulang dulu" ucap Putri.


Arya pun enggan berjalan dari tempat itu tapi di tarik Putri untuk keluar saat ingin keluar Putri merasa sakit perut. "Aduh kamu tunggu disini, aku mau ke toilet" ucapnya pergi meninggalkan Arya.

__ADS_1


Bagus, Harisza, Cahaya dan Kim pun masih gelisah menunggu "pak saya permisi kekantin dulu, ayo non" dia pun mengajak Cahaya, Bagus pun mengangguk.


"Pa aku benar-benar yakin kalau Astri itu Mira, kalau tes DNA itu akurat 100% aku akan ambil dia dari dokter gila itu " kesal Bagus.


"Kamu tidak usah marah-marah begitu, papa juga kalau itu benar Mira maka akan menuntut laki-laki itu. Tega sekali dia menjauh menantuku dengan cucuku" ucap Harisza.


Percakapan mereka pun ternyata di dengar oleh Rian yang kebetulan lewat saat ingin menebus obat.


"Apa mereka tes DNA Astri, bagaimana ini hasilnya pasti akurat karena Astri kan memang Mira. Aku harus melakukan sesuatu" Segera pergi meninggalkan tempat itu.


Secara diam-diam Rian pun masuk ke ruangan laboratorium sebagai dokter di sana dan menukar hasil tes DNA yang asli dengan yang palsu saat hasilnya di letakkan di atas meja.


"Kenapa dok" tanya perawat di sana mengagetkan Rian saat sedang melancarkan aksinya.


"Oh iya, aku mau minta hasil laboratorium atas nama Astri. Gimana hasilnya" jawabnya dengan salah tingkah.


"Tadi hasilnya sudah di antar sama teman saya dokter, dokter ke ruangan aja mungkin sudah sampai di sana" ucap perawat itu.


"Oh iya, kalau gitu terimakasih ya."


"Sama-sama dokter" jawabnya, Rian pun buru-buru pergi dari ruangan itu.


Rian pun membuka hasil tes DNA itu dan meremasnya sampai lecek, membuang kertas itu ke tong sampah.


Putri yang keluar dari toilet melihat Rian meremas dan membuang sesuatu itu sambil tersenyum menjadi penasaran.


"Itu kan dokter Rian, ngapain dia kayak gitu" ucap Putri sambil melihat ke arah tong sampah melihat kertas yang sudah di buang Rian.


Dengan penasaran Putri mengambil kertas itu "ini isinya apa ya" ucap Putri.


Arya di luar pun masih menunggu Putri "lama banget, aku susul aja deh" ucap Arya berjalan masuk dan bertemu dengan Cahaya.


"Om" ucap Cahaya.


"Cahaya dan Sekretaris Kim, kalian disini" tanya Arya.


"Iya om, kita dari kantin. Itu ayah dan opa menunggu di sana" tunjuk Cahaya.


Cahaya melihat Bagus di datangi oleh perawat dan di berikan sebuah kertas. "Om ayo kesana kayaknya sudah" menarik Kim untuk berjalan.

__ADS_1


Mendengar ucapan Cahaya Arya pun penasaran, sehingga dia pun mengikuti Cahaya dan Kim dari belakang menemui Bagus.


Bagus pun membuka dan membaca hasil tes DNA itu langsung duduk lemas.


__ADS_2