
"Sombong sekali bocil ini" ucap Bagus. Mereka pun semuanya tertawa.
Blue dan Kim keluar membawa koper mereka, "om, Tante, kak Bagus dan kak Mira makasih yah sudah kasih libur untuk mas Kim" ucap Blue.
"Sama-sama Blue, kamu dan Kim sudah om dan tante anggap seperti anak sendiri. Jadi kalau kalian bahagia kami juga ikut bahagia" ucap Harisza.
"Terimakasih banyak Pak Harisza, nyonya dan Pak Bagus" ucap Kim.
"Aduh Kim, mulai hari ini kamu harus panggil saya dan suami seperti Blue saja om dan tante. Karena kamu sekarang sudah jadi anak kami" ucap Lilian.
"Tapi nyonya."
"Hem, lakukan apa yang papa dan mama katakan Sekretaris Kim. Kamu panggil saya nama saja di rumah tidak apa-apa karena umur kita berbeda jauh, tapi ingat di kantor kamu tetap panggil pak agar situasi di kantor tidak rame" ucap Bagus.
"Baik pak, eh Bagus."
"Om Kim jangan kaku begitu, Om Bagus suaranya aja galak tapi aslinya takut" celoteh Kevin.
"Eh bocil, kamu bicara seperti itu atas dasar apa" kesal Bagus.
"Om ngak sadar yah, kalau di pelototi Tante Mira kayak gini ne suara galak om itu langsung lembut. Itu apa kalau ngak takut" ucap Kevin.
"Kevin itu bukan takut, tapi bucin. Kalau Tante Mira marah nanti cinta Tante Mira bisa berkurang ke om" celoteh Johan.
Bagus pun mendekati mereka dan kedua tangannya menjewer telinga mereka berdua, "Anak kecil sudah bisa ngeledek orang tua, terus bilang bucin segala. Bahasa kayak gitu dapat dari mana" kesal Bagus.
"Aduh, lepasin om sakit" teriak Kevin dan Johan sedangkan yang lain tertawa melihat tingkah mereka.
"Mas sudah, kita mau berangkat semua ini" ucap Mira sambil memegang tangan Bagus.
"Maaf om, kami sering dengar kata kayak gitu dari internet. Cahaya aja tau kok kata seperti itu" tunjuk Kevin.
"Ayah, Bunda, Opa, Oma, Tante dan om jangan dengerin ucapan mereka berdua. Udah ayo kita masuk mobil" ucap Cahaya sambil menjewer telinga mereka berjalan ke arah mobil.
"Kita pamit permi ma, pa" ucap Mira.
"Iya hati-hati di jalan" jawab Harisza.
__ADS_1
"Cahaya lepasin" teriak Kevin, Cahaya pun melepaskan jewerannya di depan pintu mobil.
"Cahaya, tadi om yang jewer sekarang kok malah kamu" ucap Johan.
"Itu hukuman biar kalian sopan sama ayah, dan juga hukuman karena sudah menyebutkan nama aku" kesal Cahaya.
"Maaf deh, jangan marah kita kan mau senang-senang" sambung Kevin.
"Kali ini aku maafin tapi kalau buat kesal lagi aku tarik sampai putus telinga kalian. Ya udah ayo masuk" sambil masuk ke dalam mobil.
Rian pun selesai berganti baju segera menuju ke kamar Mia, "Mia" panggilnya.
Bik Darmi pun mendekati Rian "Anu pak dokter dari kemarin non Mia belum keluar kamar dan makanannya aja belum di sentuh sudah 2x bibik antar ganti yang baru" sambil menunjuk makanan yang ada di atas meja dekat kamar Mia.
"Kalau gitu, tolong bik cari kunci serap. Kita paksa buka aja" perintah Rian.
"Baik dokter" Bik Darmi pun pergi mencari kunci serap, "Ini dia" segera memberikan kunci itu kepada Rian.
Rian pun segera membuka pintu kamar, dia melihat Mia yang masih menangis tengkurap di atas ranjang nya.
"Mia" ucapnya mendekati Mia.
"Mia, kamu dari kemarin ngak makan dan hanya mengurung diri di kamar. Nanti kamu sakit" Bujuk Rian.
"Biarin Mia sakit, papa juga ngak sayang sama Mia" kesal Mia.
Namun bik Darmi masuk ke kamar mendekati Rian, Bik darmi segera berbisik kepada Rian. Rian mengangguk mengerti dan berdiri "Mia, papa tinggal sebentar yah" berdiri berjalan keluar kamar.
Rian segera pergi meninggalkan Mia, melihat Rian yang pergi Mia tengkurap lagi menangis.
Rian menghampiri Prita yang sudah menunggunya di ruang tamu.
"Prita" sapanya.
"Maaf pak dokter mengganggu, tadi aku dapat telpon dari Mira. Dia menceritakan semuanya pada saya, karena saya khawatir dengan keadaan Mia saya datang ke sini" ucap Prita.
"Mira, dia benar-benar wanita baik dan perhatian. Pantas saja Mia selalu berusaha untuk mendapatkan perhatiannya" ucap Bagus.
__ADS_1
"Iya, Mira memang baik makanya saya kesini ingin melihat keadaan Mia " jawab Prita.
"Kenapa yah hatiku rasanya sakit saat dokter muji Mira" dalam hati Prita.
"Ayo, aku antar ke kamar Mia" ajak Rian.
Mereka pun masuk ke kamar Mia, "Mia coba lihat ada siapa yang datang" ucap Rian.
Mia pun menoleh, dia melihat Prita tersenyum mendekati dirinya. "Kenapa yang datang Bu Prita, harusnya yang datang kan mama Mira" ucap Mia dalam hatinya.
"Mia kata papa kamu, kamu dari kemarin belum makan yah. Ibu tau kamu lagi sedih tapi kamu harus makan biar tidak sakit, biar kamu bisa ketemu sama teman-teman kamu" ucap Prita.
"Betul, aku tidak boleh sakit karena aku harus sekolah mengambil hati Cahaya untuk bisa kembali lagi ke rumahnya" dalam hati Mia. Mia pun langsung bangun dari ranjangnya.
"Iya Bu aku mau makan, mana makanannya" tanya Mia.
Mendengar ucapan Mia itu Rian segera mengambil makanan yang ada di atas meja depan pintu yang sudah di taruh Bik Darmi tadi, "Mia mau di suapin sama Bu guru, mau kan Bu" ucapnya.
"Iya, ibu yang akan suapin anak murid cantik ibu satu ini" sambil mengambil makanan yang ada di tangan Rian dan menyuapinya ke dalam mulut Mia.
Rian pun tersenyum dan keluar dari kamar Mia, dia menunggu Prita di teras depan rumah sambil membaca koran di sertai teh dan camilan yang sudah di siapin oleh Bik Darmi di sampingnya.
"Tuan, boleh saya bicara" ucap Bik Darmi.
"Boleh bik, silahkan." sambil mengambil teh dan meminumnya.
"Bu Prita itu cantik, baik, cerdas, serta non Mia nurut mau makan saat di bujuk. Kayaknya tuan cocok sama Bu Prita" ucapan Bik Darmi itu membuat Rian kaget hingga teh yang dia minum itu sampai memuncratnya keluar.
"Aduh tuan kenapa, tunggu bibik ambil tisu dulu" berlari ke dalam mengambil tisu.
Prita dan Mia yang sudah selesai makan keluar dari kamar melihat Bik Darmi berlari membawa tisu ke teras luar segera menghampiri.
"Ada apa Bik, loh kok baju dokter basah semua" tanya Prita melihat baju Rian yang basah.
"Ini non ke tumpahan teh saat tuan lagi minum" jawab Bik Darmi.
"Kok bisa bik" tanya Mia.
__ADS_1
"Iya bisa non, tuan keseleg saat bibik tanya tentang."