
Karena kesalahan Kevin, dia pun ikut membantu Cahaya membuat bunganya.
"Bete banget deh Cahaya harus buat ginian, beli kan banyak" omel Kevin.
"Beli emang banyak, tapi kalau buatan dari orang yang kita sayang itu hanya satu tidak ada yang jual" jawab Cahaya.
"Kalau om dan tante sudah menikah berarti kamu tinggal di Jakarta donk" tanya Kevin.
"Iya, aku pindah ke sana" jawab Cahaya.
"Asik deh, ngak ada lagi Cahaya disini bakal lebih seru karena ngak ada yang buat aku kesal" celoteh Kevin dan membuat jari Cahaya menjitak kening Kevin.
"Akhh.." teriak Kevin.
"Kamu pasti bakal kangen sama aku, karena kan kamu ngak punya teman selain aku" ledek Cahaya
"Temen aku banyak kok" ucapnya.
"Mana, ngak ada kan. Kamu kesini pasti cari aku" ledek Cahaya yang membuat Kevin terdiam, karena yang di ucapkan Cahaya benar bahwa dia tidak memiliki teman.
"Udah deh sekarang bantu aku aja merangkai" ajak Cahaya.
"Tapi ini memerlukan waktu yang lama Cahaya, apalagi tangan kita kecil gini" ucap Kevin langsung melihat tangannya.
"Aku ngak mau tau pokoknya kita buat ini sampe selesai walaupun lama, ingat jangan protes" Oceh Cahaya, Kevin pun menganggukkan kepalanya tanda setuju mengikuti ucapan Cahaya.
Putri pun mendapatkan kos-kosan untuk tempat istirahatnya. "Ini pak tempatnya" tanya Putri.
"Iya ini, satu hari 100 ribu" ucap pemilik kosan itu.
Putri merasa jijik melihat kos-kosan itu yang kotor tapi dia tidak bisa menolak lagi karena sudah banyak tempat yang dia kunjungi sambil berjalan kaki cuma kos-kosan ini yang harganya pas.
"Baik pak saya mau" jawab Putri.
Pemilik kosan itu pun mengangkat jarinya. Putri pun mengira pemilik kosan itu ingin membawa barangnya sehingga dia menyantolkan tasnya langsung ke tangan pemilik kosan itu
"makasih pak" ucap Putri.
__ADS_1
"Eh ini apaan?" tanya pemilik kosan itu.
"Loh bapak kan mengangkat tangan begitu mau bawa tas saya masuk kedalam kan" jawabnya.
"Eh maksudnya itu uang, siapa juga yang mau angkat tas kamu. Angkat sendiri kedalam sana" marahnya sambil menurunkan tas Putri.
"Kirain, ya udah ini uangnya" memberikan uang 50 ribu ke tangannya.
"Loh kok 50 ribu, kan saya bilang 100 ribu satu hari" kesalnya kepada Putri.
"Besok saya bayar pak 2x lipat, hari ini saya bayar setengah dulu karena uang saya ada 100 ribu. Nanti malam saya makan apa kalau di kasih ke bapak" Putri pun langsung memelas.
"Itu bukan urusan saya" jawabnya.
"Tolong pak, saya janji besok saya bayar 2 kali lipat setelah pulang dari kantor" langsung mengulurkan tangannya untuk memohon.
"Okey, awas bohong" omelnya.
"Iya pak, makasih pak" Putri pun langsung masuk ke kosan menutup pintunya.
Tiara yang saat itu menggunakan baju jaket tebal menutup kepalanya secara diam-diam masuk ke rumah Arya melewati jendela.
"Gue nginap di sini aja, dari pada di luar di cari-cari sama rentenir mending disini aman" pikirnya langsung duduk di kursi sofa sambil tertidur.
Arya yang saat itu pulang dari kantor masuk ke rumahnya kaget melihat seseorang bertutup lagi duduk di kursinya, dengan sigap dia pun mendekati sosok tersebut. Saat di lihatnya dari dekat ternyata Tiara.
"Hei bangun" sambil menggoyangkan tubuh Tiara sehingga Tiara pun terbangun.
"Apaan ini, kenapa kamu tidur disini. Pergi dari sini" usir Arya.
"Rumah ini juga milikku, kamu bilang ingin menjual rumah dan mobil untuk tinggal di rumah yang lebih kecil tapi kamu tidak menjualnya malah enak-enakan sendiri" oceh Tiara.
"Ini rumah ku dan mobil itu juga punyaku, kamu itu sebelum menikah dengan aku tidak punya apa-apa. Yang bisa kamu lakukan hanya minta uang dan berpoya-poya" oceh Arya juga.
"Aku ikut serta juga dalam membantu bisnismu, jadi kamu jangan hanya mengira ini punyamu. Aku mau tidur dan istirahat jadi kamu pergi sana" usir Tiara.
"Sekarang kamu pergi atau tidak, kalau tidak aku akan laporkan kamu kepada rentenir itu" ancam Arya. Tiara kaget dalam hatinya "dari mana dia tau urusannya dengan rentenir."
__ADS_1
"Kamu bingungkan dari mana aku tau, rentenir itu mencari kamu kesini. Sekarang kamu harus pergi" langsung menarik tangan Tiara.
"Sial, kamu memang laki-laki yang tidak tau berterimakasih. Berkat aku kamu bisa mengambil semua harta Mira, sekarang kamu memperlakukan aku seperti ini" langsung melepas tarikan tangan dari Arya.
"Aku tidak peduli dengan jasa-jasamu karena jasa mu itu lah yang membuat aku bangkrut dan memulai semua dari nol lagi" oceh Arya.
"Aku ngak akan pergi dari sini kecuali kamu memberikan aku uang" pinta Tiara.
"Tidak" jawab Arya.
"Aku hanya memerlukan uang untuk pergi jauh dari sini, kalau kau memberikan aku uang maka aku akan pergi dari kehidupanmu" ucap Tiara yang membuat Arya senang dengarnya.
"Okey, berapa" tanyanya
"50 juta" jawabnya dan Arya pun segera ke kamarnya mengambilkan uang "sebenarnya uang ini mau aku gunakan untuk bisnis modal, tapi hilangnya wanita itu dari kehidupanku lebih penting sekarang" dalam hatinya. Arya keluar memberikan uang itu kepada Tiara dan secara sigap Tiara menghilang dari pandangannya.
Selesai makan malam pun Mira memperhatikan Blue yang hanya diam saja, Mira pun sadar sepulang Blue dari Singapura dia tidak menceritakan apa pun ke Mira.
"Bunda" Cahaya mengagetkan bundanya yang lagi melamun melihat Blue.
"Kenapa" tanya Mira.
"Beberapa hari ini Cahaya mau tidur sendiri jadi bunda jangan ganggu Cahaya, ya udah Cahaya masuk kamar sekarang" langsung mencium pipi Mira dan menutup pintu kamarnya secara cepat. Mira bingung melihat tingkah anaknya itu seperti ada yang di sembunyikan.
"Blue, kemari" panggil Mira di saat Blue selesai membersihkan meja makan.
"Ada apa kak" tanyanya.
"Sekarang kamu ceritakan semua kejadian saat kamu di Singapura, kamu belum mengatakan sekata patah apa pun dengan kakak mu ini. Ingat jangan ada rahasia di antara kita" jawab Mira dan Blue pun menunduk sedih langsung memeluk Mira.
"Kak, pada saat di Singapura aku menemui keluarga ayah. Keluarganya sangat ramah dan baik menerimaku" ucap Blue memulai ceritanya.
"Terus yang membuat kamu sedih apa kalau keluarga ayahmu sangat baik seperti itu" tanya Mira.
"Saat aku menanyakan ayah mereka diam dan menangis, mereka meyakinkan aku untuk bertemu dengan ayah atau tidak. Aku menjawab tetap yakin, akhirnya mereka mengantarkan aku menemui ayah. Terus?" Blue pun menangis sekencang-kencangnya di hadapan Mira dan Mira langsung menenangkannya untuk tidak menangis.
"Terus apa Blue, ayo lanjutkan" tanya Mira penasaran langsung menghapus air mata adiknya itu.
__ADS_1