
"Cahaya kamu betein banget, kenapa warna pink sih tali gelangnya" kesal Kevin.
"Ngak apa-apa, cocok untuk kamu. Udah ngak usah protes, aku udah susah benerinnya sekarang kamu harus menghargai aku yang udah susah buatnya" protes Cahaya.
"Udah sini tangan kamu, pakek aja apa pun yang di buat Cahaya" Johan sambil menarik tangan Kevin dan memasangkannya ke tangan Kevin. "Udah ayo kekelas" ajak Johan, mereka pun langsung masuk ke kelas.
Dari parkiran Rido dan temannya melihat ke arah mereka. "Lihat Do mereka bahagia banget sedangkan kamu seperti ini, kita kasih pelajaran aja hari ini" ucap salah satu dari mereka sambil mengambil tas di punggung Rido.
"Biarkan, kita tidak boleh gangguin mereka karena aku tidak mau papi dan mami dalam masalah. Sekarang kita belajar saja" Rido sambil menggandengkan tangan dengan kedua temannya itu. Mereka pun menganggukkan kepala dan pergi ke kelas.
Hari dan bulan pun telah terlewati, Bagus dan Cahaya sudah melupakan kesedihannya. Bagus yang sibuk bekerja dan mengurus Cahaya, Cahaya yang semakin ceria dan dekat dengan teman serta Bu Guru Prita serta Kim yang sibuk menjelang pernikahannya dengan Blue.
Di suatu desa ada seorang wanita yang sedang terbaring lemah tidak sadarkan diri sudah beberapa bulan, dia di rawat oleh seorang dokter dan anak dari dokter tersebut.
Anak dokter itu mengelus rambut wanita itu dan tidur-tiduran di kamar itu.
Pintu pun terbuka dia menoleh ke arah yang membuka pintu.
"Sayang, ayo makan" ucap dokter tersebut.
"Disini aja pa, aku mau makan bareng mama di sini" ucapnya sambil duduk di sebelah wanita itu dan menggenggam tangannya.
"Jangan ganggu dia sayang, papa sudah bilang dia bukan mama. Ayo keluar biarkan dia" ucapnya.
Anak itu berdiri marah mendengar perkataan papanya itu, dia mendekati papanya itu "papa dia itu mama, mending papa pergi saja dari sini. Mia lebih suka sama mama dari pada sama papa, Mia benci sama papa yang selalu menjauhi Mia dengan mama" langsung masuk ke kamar dan menutup kamar itu dengan ke adaan marah.
"Sayang" panggil laki-laki itu namun saat dia mau menggedor pintu pembantunya datang menghampirinya.
"Pak ada telpon dari puskesmas" langsung memberikan telepon yang ada di tangannya.
mendengar telpon itu laki-laki itu langsung pergi terburu-buru mengeluarkan mobilnya dan pergi dengan tergesa-gesa.
Anak kecil itu menangis di kamar sambil memeluk wanita yang sedang berbaring itu, "ma, cepat sadar donk biar papa ngak marah terus sama Mia" tangisnya di pelukan wanita itu.
__ADS_1
Bagus, Harisza, Lilian dan Cahaya pergi ke Bali untuk menjelang pernikahan Kim dan Blue besok, Kevin pun ikut bersama Adi dan Rahayu sedangkan Johan bersama papa dan mamanya.
Cahaya berpapasan dengan Bu Guru Prita saat mereka di bandara ke Bali.
"Bu guru" teriak Cahaya langsung berlari menyusul gurunya itu.
"Cahaya" langsung berhenti menghampiri keluarga Cahaya.
"Oma dan opa ini perkenalkan Bu Guru Prita, guru cantik Cahaya" menggenggam tangan gurunya itu.
"Ini ya bu guru cantik itu, wah betul-betul cantik" senyum Lilian langsung mendekati Prita.
"Makasih bu, itu berlebihan menurut saya" jawab Prita.
"Bu guru mau ke tempat acara Om Kim dan Tante Blue kan" tanya Cahaya, Prita pun mengangguk.
"Ya udah bu guru bareng kita aja, nanti bu guru nginap di hotel Cahaya aja" pinta Cahaya yang semakin kuat menggenggam tangan gurunya itu. Bagus pun melihat anaknya sudah berkeinginan seperti itu tidak bisa di tolak lagi.
"Cahaya punya hotel" tanya Prita.
"Baiklah" jawab Prita membuat Cahaya tersenyum lagi. Mereka pun pergi bersama-sama ke Hotel Mentari, sesampai di hotel mereka pun keluar dari mobil. Prita yang saat itu keluar ingin menghampiri Cahaya tidak sengaja tersandung oleh sendalnya sendiri membuat dia hampir terjatuh tapi langsung di tangkap oleh Bagus. Mata mereka saling berpandangan.
"Hem" ucap Harisza, mereka pun kaget melepaskan pegangannya sehingga salah tingkah.
"Ibu ngak apa-apa" tanya Bagus.
"Ngak apa-apa, ayo Cahaya kita masuk" jawabnya menunduk langsung memegang tangan Cahaya.
Putri yang sudah menyiapkan rencananya di Bali pun langsung tersenyum puas di kamar hotel.
"Besok Bagus akan mulai tunduk dan berhutang budi kepada ku, aku yakin dia tidak akan bisa menolak aku lagi sedangkan Cahaya akan semakin dekat dengan aku. Pokoknya aku hidup mewah lagi dan aku tidak bisa lagi kembali dengan papa karena namaku sudah tidak ada lagi di KK" ucapnya di kamar hotel itu sambil tersenyum membayangkan hal yang sudah dia rencanakan. Saat itu tiba ada pintu kamarnya pun berbunyi.
"Siapa sih yang ganggu, lagi asyik membayangkan hal yang mewah-mewah" gerutu Putri sambil berjalan menuju pintu kamarnya.
__ADS_1
"Arya" ucap Putri.
"Loh kok kaget, ayo kita ke luar melihat sunset di sore hari dari pada di kamar doank" ajak Arya.
"Okey deh, aku ambil tas dulu" masuk mengambil tasnya dan menutup pintu kamarnya lagi.
Di perjalanan keluar hotel mereka bercerita tiada hentinya. "Oh iya tadi aku lihat Pak Bagus, Cahaya dengan seorang perempuan" ucap Arya.
"Perempuan, perempuan siapa" tanya Putri penasaran, mereka sambil duduk di depan pantai.
"Enggak kenal siapa, cantik orangnya tapi ngak tau karena aku hanya sekali lewat menoleh saat mereka masuk ke gedung hotel" jelas Arya.
Dalam hati Putri "berati perempuan itu ada di dalam hotel ini, siapa dia. Buat penasaran aja, awas aja kalau dia pengganggu akan aku singkirkan."
"Kamu kenapa kok melamun" sambil mengagetkan Putri yang lagi melamun. "Lihat itu cantik banget" sambung Arya langsung menunjuk ke arah sunset. Arya pun memandang Putri yang lagi melihat sunset bersamanya sambil tersenyum. Putri pun ikut menoleh ke arah Arya sehingga mata mereka saling berpandangan sangat lama.
"Aduh kenapa jantung ku dag dig dug kencang gini" ucap Putri dari dalam hatinya.
"Jantung kenapa detaknya kencang banget nanti kalau Putri dengar gimana" dalam hati Arya.
Mereka berdua saling berbicara di dalam hati masing-masing.
"Hem, sunsetnya udah gimana kalau kita masuk terus makan malam, udah malam juga" gugup Arya saat berbicara dengan Putri.
"Oh iya kamu benar, ayo kita masuk kamar. Eh salah maksudnya masuk makan" gugup sambil menahan detakkan jantungnya mereka pun masuk.
Acara pernikahan Kim dan Blue pun di mulai Cahaya yang saat itu sudah berdandan menghampiri Blue di ruang makeup. "Tante cantik banget" ucapnya.
"Makasih cantik, Cahaya juga cantik" sambil mengelus rambut Cahaya.
"Jangan di elus nanti rusak tante" marah Cahaya pada Blue, Blue pun tersenyum melihat marahnya Cahaya.
Putri pun bersiap keluar dari kamar tapi suara hpnya berbunyi, ternyata suara dari seberang hotel yang menelponnya. Putri mengangkat telpon itu.
__ADS_1
"Iya, kamu tunggu aba-aba dari saya" langsung mematikan hpnya sambil tersenyum keluar.