Ayah Ku Idola Ku

Ayah Ku Idola Ku
bab 85


__ADS_3

Mira yang duduk di taman belakang bersama Harisza itu pun menceritakan kejadiannya waktu dia di culik serta hilang ingatan, begitu juga Harisza menceritakan kejadian saat mereka merasa kehilangan Mira serta bisa bertemu sampai sekarang.


"Pa, kalau gitu nanti aku mau melayat ke kuburan Tiara" ucap Mira.


"Kamu tidak perlu baik sama Tiara yang sudah meninggal, bukan gara-gara kamu dia jadi begitu. Mending kamu istirahat aja di rumah santai-santai kayak gini" ucap Harisza.


"Pa, Tiara itu adalah sahabat ku dari kecil. Meski pemikirannya berubah dia tetap sahabatku pa" jawab Mira.


"Ya, terserah kamu deh. Papa juga ngak bakal bisa ngelarang kamu karena kamu bukan anak kecil, kamu tau mana yang menurut kamu baik dan tidak" jelas Harisza sambil meminum kopi yang ada di depannya.


"Gimana pa, enak ngak kopi buatan aku yang papa minum" tanya Mira untuk tidak melanjutkan percakapannya yang tadi.


"Enak, tapi masih enakan buatan mama kamu walaupun buatnya kadang ada rasa asinnya dikit" meletakkan minuman kopinya ke tempatnya.


"Pa, aku permisi ke kamar yah karena aku mau siap-siap jemput Cahaya dan mengunjungi makam Tiara" sambil berdiri tersenyum meninggalkan Harisza.


Prita yang bersama Putri pun menceritakan kejadian saat dia bertemu dengan papanya 15 menit yang lalu.


"Prita akhirnya kamu datang juga, kamu akan membebaskan papa kan. Papa percaya kamu memang anak kebanggan papa dari dulu, papa sudah bosan satu hari di sini benar-benar tempat yang menyedihkan" ucap Arman.


"Maaf pa" jawab Prita.


"Apa maksud kamu maaf, apa jangan-jangan" kaget Arman mendengar ucapan Prita.


"Iya pa" jawabnya.


"Prita kamu tau papa melakukan itu demi kamu, papa ingin kamu bahagia jadi papa menyingkirkan semua orang yang akan menghalangi itu. Kamu bisa bebas kan papa karena kamu cukup bilang dengan Bagus karena ini unsur ketidak sengajaan papa" Teriak Arman.


"Pa cukup, papa tau kalau anak papa bukan hanya Prita tapi kak Putri juga. Papa benar-benar sudah membandingkan aku dengan kak Putri bagaikan langit dan bumi, aku tidak mau papa berbuat jahat lagi jadi papa harus menerima hukuman sesuai dengan apa yang papa lakukan" ucap Prita.

__ADS_1


Arman pun memukul meja dengan tangannya sehingga membuat semua orang kaget menoleh ke arahnya "Kamu tidak boleh seperti ini pada papa, kamu harus menjadi anak penurut sesuai dengan keinginan papa" teriak Arman.


Prita pun berdiri "Pak tolong masukan lagi papa saya ke dalam" panggil Putri kepada polisi yang sedang menunggu mereka berbicara.


Polisi pun segera memborgol tangan Arman dan menariknya untuk masuk ke sel tahanan lagi "Prita kamu harus bebaskan papa, karena kamu tidak boleh menjadi anak durhaka" teriak Arman semakin keras saat di tarik masuk ke dalam sel.


"Prita-Prita, pak tolong pak jangan masukan saya lagi ke dalam. Saya yakin anak saya hanya bercanda dan dia pasti akan membebaskan papanya" ucap Arman di paksa masuk ke dalam sel.


Polisi pun mengunci sel sedangkan Prita berlari keluar parkiran mobil sambil menangis.


"Jadi begitu, ya udah kalau begitu kamu ngak usah pikirkan papa, kita fokus saja bagaimana kita berdua kedepannya. Sekarang kita antar kamu pulang ya karena kakak dan Arya mau ke kantor" ucap Putri.


"Ngak usah kak, aku mau ke sekolah saja bertemu dengan kepala sekolah karena mulai besok aku sudah mau masuk lagi" jawab Prita.


"Baik lah, kakak ngak akan melarang kamu sebab anak-anak di sekolah itu pasti bisa menghibur suasana hati kamu ini."


Mereka pun berdiri masuk ke dalam mobil, Arya pun mengantar Prita ke sekolah sedangkan mereka berdua langsung berangkat ke kantor.


"Itu kan guru pengacau itu, kok bisa sih sehat dan berjalan normal gitu. Aku harus cepat-cepat kesana neh untuk cari informasi apa yang ingin dia katakan ke ruang kepala sekolah" berjalan dengan terburu-buru menghampiri Prita yang persis di depan pintu kepala sekolah.


"Bu Prita sudah sembuh" ucap Vivi.


"Alhamdulillah Bu, kalau gitu mari bu saya masuk dulu" mengetok pintu terus masuk ke ruangan.


Bu Vivi pun menempelkan telinganya di depan pintu ruangan kepala sekolah,


"Apa, sih pengacau ini mau masuk lagi mulai besok, sial pengacau ini benar-benar mau bersaing dengan saya rupanya" celoteh Vivi.


Di belakang Vivi pun Kevin dan Cahaya saling toleh menoleh melihat kelakuan Bu Vivi yang menempelkan telinganya di depan pintu, Kevin pun mulai berbisik "gimana kita kerjain aja."

__ADS_1


Cahaya hanya mengangguk dan mengangkat jempolnya ke atas tanda setuju.


Mereka berdua memberikan kode masing "1, 2, 3 Bu Vivi" teriak Cahaya dan Kevin.


Dengan spontan Bu Vivi kaget hingga pintu di ruang kepala sekolah terbuka dan Bu Vivi terjatuh di depan pintu itu, Cahaya dan Kevin tertawa puas melihat gurunya itu.


Bu Vivi segera bangun dan melihat Kevin dan Cahaya, serta dia pun menoleh kepala sekolah dan Prita segera mendekati mereka.


"Sial anak-anak nakal ini" kesal Vivi.


"Bu guru" teriak Cahaya langsung memeluk Prita yang mendekati mereka.


"Ada apa ini Bu Vivi" tanya kepala sekolah.


"Ngak ada apa-apa pak, tadi saya main hp saat lewat depan pintu terus kaget lihat anak-anak ini memanggil saya jadinya gaduh gini" jelas Vivi.


"Tapi Bu guru kayak orang ngintip bukan kayak orang main hp" celoteh Kevin yang membuat Vivi kesal mencari alasan.


"Anak-anak kalian masuk ke kelas, ini kan pelajaran ngapain di luar" perintah Vivi.


"Kami baru saja mengumpulkan tugas di ruang guru, kami ngak ngapa-ngapain" jawab Kevin.


"Ini anak cowok mulutnya lincah banget, sampai buat aku kesal pengen cubit" ucap Vivi dalam hatinya.


"Ayo sekarang kalian masuk, dengarin apa kata guru kalian" usir kepala sekolah.


Cahaya pun melepaskan pelukannya dan berjalan bersama Kevin pergi meninggalkan mereka, Bu Vivi yang masih di sana pun "Maaf pak, ngak usah di dengarin apa kata anak-anak soalnya mereka ngak melihat secara seluruh hanya bisa mengagetkan saja" ucap Bu Vivi.


"Ya udah ngak apa-apa Bu, sekarang masuk lah ke ruang kelas karena kita bentar lagi harus pulang. Dan saya minta tolong ibu panggil pak Tarjo untuk membersihkan meja Bu Prita karena sudah lama sekali dia tidak masuk pasti mejanya sangat kotor karena di tinggal."

__ADS_1


"Baik pak, saya permisi" Vivi segera pergi meninggalkan mereka


__ADS_2