
Di sekolah Cahaya hanya murung di taman, Linda pun mendekati Cahaya.
"Cahaya, kamu kenapa" tanya Linda langsung duduk di sampingnya.
"Ngak apa-apa kok" jawabnya.
"Kamu sedih karena bu guru ngak ngajar kita yah, bu guru kan lagi sakit Cahaya nanti kalau bu guru sehat juga bakal balik lagi ke sekolah" ucap Linda.
"Apa kamu yakin bu guru bakal balik, bu guru sekarang lumpuh jadi gimana dia bisa mengajar" celoteh Cahaya, mendengar itu Linda kaget dan berteriak "Bu Guru Prita lumpuh, kamu serius Cahaya."
Dari dekat mereka ada sosok guru yang tidak sengaja lewat akhirnya menguping pembicaraan mereka.
"Apa Prita lumpuh" senyum Bu Vivi "berarti dia tidak bisa mengajar ke sekolah ini lagi donk, aku baru saja memulai rencana untuk membuat dia pindah mengajar di sini tapi dia keburu lumpuh. Kalau gitu aku punya ide" ucapnya sambil tersenyum memikirkan memikirkan rencananya.
Kevin melihat Cahaya duduk dengan Linda di taman sehingga mendekatinya, tapi sekilas dia melihat Bu Vivi tadi tersenyum di dekat mereka.
"Cahaya, Linda kalian ngapain sedih-sedih disini. Aku punya sesuatu di dalam tas ayo ikut aku" sambil menarik kedua tangan temannya itu.
"Apa sih" tanya Cahaya.
"Ikut dulu" ajaknya.
"Kevin mau ngerjain aku sama Cahaya ya" cetus Linda.
"Udah lihat aja dulu" mereka pun masuk ke dalam kelas, Johan pun sudah menunggu di sana, Kevin mengambil sesuatu kotak di dalam tasnya dan memberikan kepada Cahaya.
Cahaya pun memegang kotak itu tapi dia diam dan berpikir karena dia yakin kotak ini jebakan, saat dia menoleh ke Johan dia pun mengedipkan matanya seolah pertanda buruk. Dengan senyum Cahaya pun membuka kotak itu dan menghadapkannya ke arah Kevin namun yang muncul boneka mainan pir yang panjang yang siap menembakkan sesuatu.
Kevin pun kaget boneka itu mengeluarkan air mengenai wajahnya hingga dia terjatuh, melihat itu semua orang menertawakan Kevin. Cahaya senyum puas karena dia tau niat buruk Kevin yang selalu mengerjainya.
"Cahaya" teriak Kevin kesal.
"Makanya jangan usil" tawa Cahaya.
"Itu namanya senjata makan tuan" ledek Linda tertawa puas.
Johan pun mendekati Cahaya dan memberikan kotak yang sama, melihat Johan yang tersenyum Cahaya percaya kalau kotak itu tidak akan terjadi apa-apa.
__ADS_1
Cahaya membuka kotak itu ternyata isinya penuh dengan cokelat, "Ini apa" tanya Cahaya.
Kevin pun langsung memarahi Johan, "jadi kamu sengaja menukar kotak mainan itu dengan cokelat ini" kesalnya.
"Maaf Kevin, aku sengaja memberikan isyarat kepada Cahaya agar melakukan sesuatu" ucap Johan.
"Bajuku jadi kotor semua, harusnya Cahaya yang bajunya kotor biar dia bisa cepat pulang" marahnya.
"Benar, tapi hari ini aku tidak bisa pulang cepat karena tante Blue bisa antarin aku ke rumah Bu Prita nanti malam" jawab Cahaya.
"Aku gimana donk" sambil membersihkan bajunya.
Cahaya pun mengambil baju olahraganya yang ada di bawah mejanya, "ini, pakai ini soalnya tadi kan aku ngak ikut olahraga."
Kevin mengambil baju itu dan menarik Johan untuk menemaninya ke toilet ganti baju, sedangkan Cahaya langsung membagikan semua cokelat itu ke teman-teman di kelasnya.
Di kantor Bagus kesal melihat investor yang sudah di ambil oleh perusahaan saingannya dengan cara curang, dia tau pelakunya adalah Hendra laki-laki licik yang sudah menjebaknya tapi gara-gara si licik itu Bagus bisa mengenal Cahaya dan Mira.
"Bagaimana pak" tanya Kim.
"Dia sudah mengambil investor dari Singapura, berarti kita harus melawan" jawab Bagus.
"Besok adalah persentasi, aku akan membuat investor itu membatalkan kontraknya dan beralih ke Cahaya Muda" ucap Bagus dengan percaya diri.
"Bagaimana pak" tanya Kim lagi.
"Ini" Bagus memberikan plasdis kepada Kim.
"Simpan ini, besok aku akan memulai rencana untuk mengambil proyek itu biar investor itu menyesal sudah mengabaikan Bagus Sandi Dinoto seorang CEO cerdas ini. Dan aku akan buat pesaing kita diam seribu bahasa" ucap Bagus langsung mengambil hpnya yang sedang berdering di kantong bajunya.
Ternyata dari rumah sakit, Bagus langsung mengangkat telpon itu.
"Oh baik lah saya akan segera kesana" ucap Bagus dari telpon.
"Aku pergi, selesaikan apa yang aku perintah" pergi meninggalkan Kim. Saat berjalan keluar Bagus melihat Arya wajahnya penuh dengan luka memar sehingga dia pun memberhentikan jalannya dan memanggil Arya.
"Arya" teriak Kim.
__ADS_1
Arya pun menoleh dan mendekati Bagus "iya pak" tanyanya.
"Wajah kamu kenapa" Sambil menunjuk ke arah wajahnya.
"Kemarin saat sampai di Jakarta aku dan Putri di keroyok pak, untung Putri tidak kenapa-kenapa tapi wajahku jadi lebam" jawabnya.
"Di keroyok gimana, terus kenapa masuk kerja dengan wajah seperti itu" tanya Bagus.
"Saya tidak tau pak, orang itu datang dan langsung memukuli sehingga kami sudah untuk menghindar. Saya tidak bisa tidak bekerja karena sudah beberapa hari tidak masuk nanti saya bisa di marahi oleh HRD" jawab Arya.
"Kamu masuk ke HRD dan bilang aku yang mengizinkan pulang, tapi sebelum itu aku penasaran kenapa kamu melindungi Putri. Apa kamu menyukai perempuan itu, tapi ya sudah lah tidak usah di jawab karena itu bukan urusan ku."
"Makasih pak" ucap Arya yang melihat Bagus meninggalkan dirinya keluar.
Bagus secepatnya ke rumah sakit bertemu dengan dokter di sana hasil dari pemeriksaan Prita kemarin, "gimana dokter" tanya Bagus.
"Dari hasil laboratorium ternyata kaki saudari Prita sulit untuk di sembuhkan di rumah sakit ini" ucapnya.
"Apa" teriak Bagus
"Kakinya sangat parah, kalau di paksa akan fatal dan bisa lumpuh selamanya" lanjut dokter.
"Solusinya dok gimana" tanya Bagus.
"Ada satu solusi" ucap dokter.
"Apapun itu dok akan saya lakukan."
"Di rumah sakit permata ada seorang dokter yang pernah menyembuhkan seseorang lumpuh total bisa berjalan dengan cara terapi" jelas dokter.
"Berarti bisa dok" ucap Bagus senyum.
"Iya, masalahnya dokter itu sudah pindah dari Jakarta. Dia menetap di puskesmas daerah untuk membantu orang tua yang sulit berjalan, ke Jakarta pun bisa satu bulan sekali atau bahkan tidak sama sekali selama sebulan" jelasnya.
"Dimana tempat itu dok, aku akan datang kesana dan memohon agar dia mau membantu" Bagus menarik nafas lega.
Dokter pun membuka kertas yang berisi alamat dan memberikannya kepada Bagus "ini alamatnya, namanya adalah Dokter Ariansyah dia mengambil gelar spesialis ortopedi di luar negeri, dan dia dokter yang sangat cerdas dalam terapi kelumpuhan" jelas dokter.
__ADS_1
"Baik dokter, terimakasih banyak atas pertolongannya terutama informasi tentang dokter Ariansyah ini. Saya akan segera memberi tahu ini semua kepada Prita" Bagus pun bersalaman dengan dokter dan segera pergi meninggalkannya untuk segera menemui Prita di rumahnya.