
Melihat mobil itu membelokkan stirnya seperti tidak terkendali Bagus pun langsung menghentikan mobilnya, hingga Bagus pun menyaksikan mobil itu masuk ke jurang.
Bagus langsung keluar dan mobil itu sudah meledak terbakar di depan matanya saat Bagus ingin turun Kim dengan sigap menangkapnya agar tidak turun ke bawah.
"Lepaskan" teriak Bagus sambil menangis menyaksikan kejadian itu.
"Tidak pak itu bahaya, tim evakuasi akan segera datang" masih menahan Bagus.
Bagus tidak bisa melawan dari tahanan Kim yang lebih kuat darinya itu menangis tersungkur, Harisza yang turun dari mobil melihat anaknya untuk pertama kali bersedih langsung mendekati dan memeluknya.
"Mira, pa. Mira" di pelukan Harisza.
"Sabar, Mira pasti selamat. Biar lah tim evakuasi yang menangani ini" pelukan Harisza semakin kuat.
Mobil kebakaran pun memadamkan api dari mobil itu, tim evakuasi langsung turun memeriksa mobil yang terjun itu dan salah satunya berteriak "ada korban."
Langsung semuanya begerak dan Bagus yang mendengar ada korban itu langsung berdiri untuk menyaksikannya.
Kim pun langsung menelpon Blue dan menceritakan kejadiannya, Blue sangat histeris.
"Ada apa" tanya Lilian.
"Tante ayo kita susul mereka sekarang" ajak Blue.
"Kenapa?"
"Mobil yang menculik kak Mira masuk ke dalam jurang dan terbakar" jawab Blue langsung menangis.
Mendengar itu Cahaya menangis.
"Bunda, tante, oma apa yang terjadi dengan bunda. Mobil yang terbakar itu apa" tanya Cahaya.
"Sayang bunda ngak apa-apa kok, sekarang kita susul ayah dan opa di sana" ajak Lilian.
Mereka pun pergi menyusul Bagus dan Harisza dengan menaiki taksi, Blue dan Lilian sangat gelisah sepanjang perjalanan itu.
Setelah sampai mereka melihat Bagus dan Harisza yang menunggu di sana.
"Ayah" teriak Cahaya langsung menghampiri Bagus.
"Cahaya" ucap Bagus langsung memeluk Cahaya.
"Gimana kak Mira om" tanya Blue ke Harisza.
"Kita masih menunggu, tim evakuasi masih memeriksa korban untuk di bawa ke atas" cerita Harisza.
__ADS_1
Saat itu salah satu tim evakuasi mendekati mereka.
"Pak di dalam sana kami menemukan satu korban yang hangus terbakar" ucapnya.
"Apa pak satu, tapi di mobil itu ada dua orang" jawab Bagus penasaran.
"Kami akan mencari korban yang lain, bapak bisa cek sendiri korban yang hangus ini apa istri bapak apa bukan" ucapnya.
Saat itu pun mayat yang sudah di bungkus itu di angkat ke atas dan di letakkan di depan mata mereka semua untuk menyaksikan siapa jenazah itu.
"Pak ini satu jenazah itu, tapi maaf seluruh tubuhnya hangus jadi tidak bisa di kenali lagi" ucap tim itu.
"Saya akan tetap memastikannya" ucap Bagus.
"Baiklah" Ucapnya dan langsung membuka jenazah yang hangus itu tidak dapat di kenali sama sekali dan Bagus pun saat itu kaget melihat cincin yang menempel di jari jenazah itu.
"Ini" Bagus langsung mengingat kejadian saat pertama kali dia menunjukkan cincin itu kepada Mira di mobil.
"Mas kamu mau kasih kejutan aku apa sih di dalam mobil ini" tanya Mira penasaran.
"Okey" Bagus pun mengambil sesuatu kotak di dalam laci mobilnya "ini" ucap Bagus langsung memberikan kotak itu kepada Mira.
Mira pun kaget dan membuka kotak itu ternyata isinya cincin, cincin itu di belakangnya ada tulisan yang membuat Mira penasaran untuk bertanya.
"Apa ini?"
"Mira" teriak Bagus sambil menangis memeluk jenazah itu. Semua orang kaget melihat itu sehingga ikut menangis.
"Bunda" teriak Cahaya.
"Kak Mira" ucap Blue langsung pingsan di peluk oleh Kim agar tidak terjatuh.
"Pak jenazah ini akan kami bawa ke mobil ambulance" ucap tim evakuasi.
"Ngak, ngak boleh. Ini istri saya kalian tidak boleh membawanya" teriak Bagus.
"Tapi pak jenazah ini mau kita bersihkan dahulu sebelum di ambil sama keluarga" ucapnya.
"Kamu berani membantah saya, kamu mau saya habisin sekarang juga kalau berani menyentuh istri saya. Sekarang kamu pergi" usir Bagus.
"Tapi pak" jawab tim itu membuat Bagus kesal hingga mendekatinya dan ingin memukul tim evakuasi itu. Saat tangan Bagus ingin melayangkan pukulan Cahaya pun berteriak.
"Ayah, hentikan."
Bagus yang mendengar ucapan Cahaya langsung berhenti dan duduk tersukur sambil menangis, Cahaya pun mendekati Bagus dan memeluknya.
__ADS_1
"Ayah, kita bisa melewati ini sama-sama" ucap Cahaya sambil menangis.
Melihat itu Harisza memberi kode kepada tim untuk membawa jenazah Mira. Sehingga tim pun mengangkat jenazah itu ke dalam mobil.
Lilian dan Harisza mendekati Bagus dan Cahaya. "Sayang yang kuat yah, sekarang ayo kita kawal jenazah bunda sama-sama" ajak Lilian sambil memegang tangan Cahaya dan Bagus.
Mereka pun berdiri dan masuk ke dalam mobil ambulance itu, saat itu Blue tersadar dari pingsannya.
"Kak Mira" teriak Blue. Kim yang ada di sebelah Blue terdiam.
"Mana kak Mira mas, jenazah tadi benar kak Mira" tanya Blue. Kim pun mengangguk.
"Ayo kita susul mereka" ajak Kim. Mereka pun pergi meninggalkan tempat itu.
Sepanjang perjalanan Cahaya menangis mengingat kenangan-kenangan bersama bundanya, begitu juga dengan Bagus.
"Maafkan aku menjadi laki-laki cengeng seperti ini, tapi aku benar-benar tidak bisa berpura-pura tegar di hadapan jenazah mu" ucap Bagus dalam hatinya.
"Mir, walaupun pertemuan kita singkat tapi kamu benar-benar menantu yang aku banggakan, kehadiran kamu dan Cahaya bisa membuat rumah berwarna" dalam hati Lilian sambil menangis dan memeluk Cahaya.
Putri yang saat itu di hotel keluar dari kamarnya melihat Arya yang mondar-mandir di luar akhirnya mendekati karena penasaran.
"Arya" teriak Putri di telinga Arya sehingga Arya kaget.
"Putri, kamu kenapa mengageti aku" tanya Arya.
"Habis sih, aku lihat dari tadi mondar-mandir kayak setrikaan terus bengong kayak banyak pikiran" jawab Putri.
Tiba-tiba suara hp Arya pun berbunyi dan Arya pun mengangkatnya ternyata dari sekretaris Kim.
"Apa, ini ngak salah" jawab Arya dari hp itu langsung duduk lemas.
"Kenapa, kok kamu kaget gitu. Ayo cerita" tanya Putri penasaran.
"Bu Mira" ucapnya.
"Iya, sih Mira itu, eh tu Mira itu kenapa" tanya Putri.
"Bu Mira meninggal, mobilnya terjun ke jurang dan terbakar" jawab Arya.
"Maksudnya, kok bisa" tanya Putri.
"Nanti aku ceritakan semuanya, sekarang kita bergegas pulang ke Jakarta untuk membantu pemakaman" ayo ajak Arya langsung menarik Putri.
"Iya, iya" Putri pun mengikuti perkataan Arya dan bersiap-siap ke bandara untuk pulang ke Jakarta.
__ADS_1
Setelah jenazah selesai di bersihkan, merekapun sekeluarga membawa jenazah ke Jakarta untuk di makamkan.