
Bagus di kantor pun Bagus secepatnya menyelesaikan pekerjaannya di kantor, selesai mengirimkan beberapa file ke kliennya di luar negeri dia pun menyenderkan tubuhnya di kursi sambil berputar melihat foto keluarganya yang ada di samping mejanya. Bagus mengambil foto itu sambil tersenyum berceloteh "aneh banget, pada hal saya bos di perusahaan ini tapi kenapa saya harus sibuk untuk semua urusan kantor. Harusnya saya tinggal menunjukkan bawahan saja, pantas sekretaris Kim setiap saya suruh dia bilang istirahat ternyata jiwa tuanya meronta bahwa dia tidak kuat bekerja lama-lama. Kalau gini saya harus suruh sekretaris Kim cuti terus saya liburan bersama Mira dan Cahaya, itung-itung bulan madu yang tertunda beberapa bulan ini."
Bagus segera menelepon seseorang untuk segera datang ke ruangannya, Arya dan Putri yang baru datang pun segera masuk ke ruangan mereka namun di hentikan oleh seseorang "kenapa?" tanya Arya.
"Kamu di panggil pak Bagus sekarang keruangannya" jawab wanita itu.
"Baik lah saya akan kesana" Arya pun meletakkan tasnya dan buru pergi ke ruangan Bagus, sedangkan Putri yang masuk ke ruangannya pun kaget banyak sekali semut di mejanya karena makanan manis yang tercecer di atas meja.
"Ini apa, siapa lagi yang berantaki makanan manis-manis di sini sampai-sampai semua semut naik ke atas meja. Sial sepertinya aku harus bertindak agar tidak ada yang berani macam-macam, mereka belum tau siapa aku sebenarnya karena selama ini aku hanya diam" celoteh Putri sambil keluar dari ruangannya pergi ke dapur mengambil air dan lap untuk membersihkan mejanya.
Arya yang saat itu masuk ke ruang Bagus dengan gugup berusaha mengetuk dan masuk, "bapak memanggil saya" tanya Arya.
"Iya, duduk karena aku mau berbicara hal penting pada mu" perintah Bagus.
"Ada apa pak" tanyanya.
"Hari minggu lagi aku mau mengajak Mira dan Cahaya ke puncak, sebenarnya aku mau ke luar negeri tapi sangat tidak mungkin karena Cahaya harus sekolah. Sekretaris Kim harus ke Bali bersama istrinya jadi tugas kamu di hari minggu itu kamu selidiki investasi kita bernama Gaga Ardina Wijaya karena kita harus mencari tau apa dia benar ingin bekerja sama atau hanya akan bermain-main, dan satu lagi jangan sampai ke tahuan" perintah Bagus.
"Baik pak, saya akan mencari tau dan memberikan semua informasi yang ada" jawab Arya.
"Okey, sekarang" sambil mengulurkan tangannya menyuruh Arya segera pergi dari ruangan, Arya pun bergegas keluar dari ruangan.
Saat di tengah jalan dia melihat Putri sedang berkelahi dengan seseorang, melihat itu Arya segera melerainya menarik Putri.
Putri yang tarikannya di lepas segera berlari lagi dan menjambak wanita itu sampai dia terjatuh, Arya pun menarik lagi "stop, kalau pak Bagus tau kalian akan di pecat" teriak Arya sehingga mereka berhenti.
__ADS_1
"Aku tidak peduli mau di pecat atau tidak, aku akan memberikan pelajaran untuk wanita ini, kamu, kamu, kamu, kamu dan juga kamu yang selama ini membuly aku. Kalian semua akan aku hajar seperti ini juga karena sudah berani membangunkan singa tidur" teriak Putri.
Arya pun kaget "apa maksud kamu bully, Gimana bisa di kantor ada bully" tanya Arya dengan nada marah.
Semua orang berdiam diri tanpa ada seorang pun yang menjawab, "okey kalau tidak ada yang berbicara aku akan kasih tau semua kejadian hari ini ke Pak Bagus" ancam Arya.
"Eh, jangan Arya."
"Arya jangan."
"Jangan Arya."
Ucapan mereka semuanya jangan untuk mencegah Arya, melihat itu Putri pun menarik tangan Arya "Kita bicara di luar" ucap Putri.
"Untuk kalian kalau ada yang berani lagi mengganggu aku, aku tidak akan segan-segan mematahkan tangan kalian" tunjuknya kepada mereka yang melihat ke arah Putri. Putri pun merangkul tangan Arya ke luar kantor.
Dari jauh ada seseorang wanita kepalanya di tutup dengan jilbab yg menutupi rambut serta wajahnya dan memakai kacamata, dia memandang Mira dengan tatapan murka dari tempat dia berdiri.
Mira yang selesai menghamburkan bunga itu segera berdiri, Mira merasakan ada yang memandangnya sehingga menolehkan wajahnya ke arah dimana dia merasa tidak tenang.
Saat dia menoleh, dia melihat dari belakang tubuh seseorang sedang pergi dari kejauhan.
"Siapa ya, melihat dari penampilannya mungkin dia habis kunjungan dari makam juga" celoteh Mira.
Mira pun masuk ke mobil segera berangkat ke sekolah Cahaya untuk menjemputnya, di sekolah mereka pun keluar dari kelas karena jam pulang Mia yang keluar dari kelas segera di susul oleh Kevin di sebelahnya.
__ADS_1
Cahaya dan Johan yang keluar dari kelas berlari terburu-buru menghampiri Prita yang juga ingin pulang.
Pada saat bersamaan Mira sampai dan turun dari mobil untuk mencari Cahaya, Kevin yang melihat Mira turun segera memberikan kode kepada Mia. "Wah Tante Mira sudah datang" ucapnya sambil menunjuk di mana tempat Mira berdiri.
Mia yang di sebelah Kevin itu segera menoleh ke arah yang Kevin katakan, "Mama" ucap Mia dengan nada senang segera menghampiri Mira.
Melihat Mia yang terburu menghampiri Mira, Kevin juga ikut berlari menyusul.
Johan yang melihat itu segera menarik tas Cahaya, "ada apa" tanya Cahaya yang berada di depan bu gurunya itu.
"Itu lihat" tunjuk Johan ke arah Mia yang berlari kecil di susul Kevin ke arah Mira.
Mereka pun saling toleh "Bu, Cahaya duluan yah karena bunda sudah jemput" ucap Cahaya.
"Iya hati-hati Cahaya" jawab Prita melihat keduanya berjalan ke depan gerbang.
Mia yang berada di depan Mira tersenyum sambil memeluk "mama, Mia kangen. Mama kemana, kenapa tidak pulang?" tanya Mia.
Mira pun kaget serta diam melihat tingkah Mia yang memeluknya, Kevin yang melihat itu segera mendorong Mia untuk melepaskan pelukan Mia.
Hingga Mia melepaskan pelukan itu dan terjatuh "aduh" teriak Mia.
Kevin tersenyum karena dia telah melakukan apa yang sudah pernah Mia lakukan ke Cahaya.
Melihat itu Mira ingin membantu Mia tapi tangan Kevin segera menghalangi Mira "jangan tante, biar aku aja yang bantu" ucapnya sambil mengulurkan tangannya ke Mia.
__ADS_1
Mia pun segera menarik tangan Kevin tapi Kevin melepaskan tangan itu hingga Mia terjatuh lagi, "aduh, Kevin kamu kalau nolongin yang benar" marah Mia.
Cahaya dan Johan yang datang menghampiri mereka pun, "bunda" panggil Cahaya.