
Saat dokter pergi "Pa mereka mengobati Mira, apa mereka tidak menculik Mira. Apa kita salah paham pa" ucap Bagus.
"Kita tunggu Mira sadar karena hanya dia yang tau semuanya" jawab Harisza.
Cahaya yang berada di ruangannya pun merasa gelisah "kamu kenapa" tanya Lilian yang menunggunya di sana.
"Cahaya bosan, Cahaya mau pulang" celotehnya.
"Kamu ngak akan bosan nanti saat dokter kasih keluar maka kita akan ke suatu tempat" ucap Lilian.
"Kemana Oma" Cahaya pun penasaran.
"Tunggu aja, bentar lagi dokter datang" akhirnya dokter pun masuk ke ruangan Cahaya memeriksa Cahaya, ternyata Cahaya sudah baik-baik saja sehingga Cahaya di izinkan pulang untuk hari ini.
Oma pun segera mengambil hpnya menelpon Harisza, di temani Harisza Mira pun baru tersadar dari pingsannya.
Saat Mira membuka matanya dia melihat Bagus berada di depannya "Mas" ucap Mira.
"Sayang, apa yang sakit cepat katakan biar aku panggil dokter" ucap Bagus khawatir.
"Air mas, aku mau air" ucap Mira sehingga Bagus pun membantu Mira duduk untuk minum air.
"Ada yang sakit."
"Tidak ada lagi" jawab Mira.
"Mira untung kamu sudah sadar, Bagus Kalau gitu papa ke kamar Cahaya dulu karena Cahaya sudah boleh pulang hari ini jadi papa mau membawa Cahaya kemari" ucap Harisza.
"Cahaya ada di sini pa" tanya Mira.
"Iya."
"Untung lah, aku mau peluk Cahaya pa."
"Tunggu, papa akan akan secepatnya urus administrasi Cahaya" Harisza pun segera pergi dari ruangan tersebut.
"Kamu gitu yah dengan Cahaya rindu mau di peluk, sedangkan aku gimana" ucap Bagus kesal.
Mira pun tersenyum mendengar ucapan Bagus "Aku juga mau kok peluk kamu mas, tadi kan ada papa masa aku harus bilang gitu."
__ADS_1
Bagus pun tersenyum dan langsung memeluk istrinya itu "aku khawatir banget."
Harisza pun membawa Cahaya ke tempat Mira "bundaaa" teriak Cahaya. Bagus segera menggendong Cahaya duduk di dekat Mira.
"Kamu gimana sayang" sambil mengelus rambut Cahaya.
"Hemm kata dokter Cahaya ngak apa-apa Bun, Cahaya boleh pulang berarti Cahaya sehat kan" celotehnya.
"Pinter, anak bunda kuat makanya cepat sembuh" ucap Mira.
"Mas aku juga mau pulang bareng Cahaya hari ini" ucap Mira di saat Lilian masuk ke ruangan selesai membantu mengurus administrasi.
"Miraaa" peluk Lilian.
"Mama maafin Mira yah sudah merepotkan mama untuk menjaga dan mengurus Cahaya selama aku ngak ada."
"Ngak apa-apa Mira, tadi kamu bilang mau pulang. Apa kamu yakin sedang kan kamu baru tadi di obati dokter, Bagus pasti melarang" ucap Lilian.
"Ma, aku merasa sehat kalau aku bersama keluarga di rumah. Aku di sana dikurung di dalam kamar oleh laki-laki itu, masa aku juga harus dikurung lagi di rumah sakit" ucap Mira.
"Apa di kurung."
"Iya kita harus melaporkan Gaga ke kantor polisi karena ini tindakan kriminal, saat kamu bilang mau pulang papa setuju karena di rumah ada kami yang akan menjaga kamu."
"Paaa, aku belum bahas masalah pulang atau tidak tapi mama dan papa dari tadi celoteh terus" kesal Bagus.
Mira pun tersenyum "boleh aja ayah, soalnya Cahaya mau sama-sama bunda."
"Ya udah deh tuan putri ayah satu ini sudah memberikan keputusan jadi ayah harus nurutin apa katanya" ucap Bagus membuat Cahaya tertawa.
"Makasih ayah, opa dan Oma" ucap Cahaya.
Mereka pun segera mempersiapkan untuk keluar dari rumah sakit, Bagus pun mengajak mereka semua menghampiri Arya yang masih di rawat di sana.
Putri pun yang masih menyuapi Arya makan segera meletakkan piringnya di atas meja, Prita dan Rian yang masih ada di sana pun segera berdiri saat ke datangan mereka.
Mira dan Cahaya masih menggunakan kursi roda saat keluar "Arya gimana keadaan kamu" tanya Mira.
"Aku baik-baik saja, rasa sakitnya sudah ngak ada lagi dan besok juga aku sudah boleh pulang" jawab Arya.
__ADS_1
"Pasti donk om Arya bakal cepat sembuh, Om kan di jaga sama pacar om" ucap Cahaya yang membuat semua orang di ruangan sana menahan tertawa.
"Cahaya kalau kamu bicara gitu Tante kelitiki nanti" ucap Putri.
"Yang di bilang Cahaya benar, sudah ada obat penyembuh di sini" ucap Harisza.
"Arya kami mengucapkan terimakasih karena kamu sudah bantu mencari, tapi sekarang kami akan urus kasus ini ke kantor polisi karena tersangka dari kasus ini adalah Gaga."
"What, benar apa kataku kalau laki-laki sok polos itu ada rencana terselebung" ucap Putri.
"Wajah memang tidak bisa di tebak, karena ada yang kita lihat di luar baik ternyata menusuk dari dalam."
Ucapan Bagus itu membuat Rian merasa kesal "sial seperti menyinggung aku tu ucapannya" ucap Gaga dari dalam hatinya.
"Udah lah ngak usah bahas itu sekarang ayo kita pulang sepertinya Cahaya dan Mira sudah tidak sabar lagi ke rumah, kalau gitu kami permisi dulu Arya dan Putri" ucap Harisza.
"Dadah Om Arya, Tante Putri, Bu guru cantik dan om dokter" ucap Cahaya sambil di dorong oleh Harisza kursi rodanya.
Mereka pun pulang ke rumah, sampai di rumah Bagus pun menggendong Mira ke kamar dan segera terburu-buru pergi.
"Kemana?"
"Kantor polisi" Bagus segera keluar bersama Harisza.
Di kantor polisi Bagus dan Harisza melaporkan kejadian itu sehingga polisi sangat cepat bergerak ke rumah Gaga, Gaga yang masih istirahat di kamar karena luka di kepalanya segera keluar saat ketukan pintu dari luar mengatakan polisi.
Dengan wajah senyum Gaga keluar dan sudah memastikan akan terjadi seperti ini, polisi memeriksa semua isi rumah Gaga namun tidak di dapat kan apa pun.
Gaga pun di bawa polisi sedangkan Tika yang melihat itu hanya menggelengkan kepala "untuk beberapa hari ini aku akan hidup nyaman kami di penjara" celoteh Tika.
Gaga pun saat masuk ke dalam mobil polisi "pak saya boleh menelpon kuasa hukum saya" tanyanya.
"Silahkan karena kami tidak melarang" jawab petugas itu dan memberikan hpnya kepada Gaga.
Gaga yang menelpon itu pun segera memberikan kode pada kuasa hukumnya, selesai menelpon Gaga berangkat ke kantor polisi dan di masukkan ke dalam sel tahanan.
Bagus dan Harisza yang ada di sana pun tersenyum sinis "ini akibatnya kamu berani bermain-main dengan Bagus Sandi Dinoto" ucap Bagus di hadapannya.
Gaga hanya tersenyum mendengar ucapan itu, saat itu Bagus segera bertanya tentang senjata api yang ada di rumah Gaga "pak gimana terbuktikan kalau dia penyelundupan senjata api" tanya Bagus.
__ADS_1