
Semuanya menoleh ke arah sana,
"Apa maksud kamu" kesal Bagus sambil mendekati Rian.
"Apa yang terjadi dengan Dokter Ariansyah, saya akan panggil perawat untuk mengobati dokter" ucap dokter itu.
"Tidak usah dok, aku tidak apa-apa. Aku kuat kok jadi tidak usah di perdulikan" berjalan masuk ke ruangan itu.
"Tapi" ucap Bagus, langkahnya di berhentikan oleh Harisza.
"Biarkanlah, karena hanya dia yang bisa menolong Mira sekarang" ucap Harisza, sehingga membuat Bagus tidak bisa berkata-kata lagi.
Mereka pun menunggu, sedangkan Putri segera masuk menemui Prita.
Prita yang sudah sadar itu melihat Putri yang masuk ke tempatnya sambil tersenyum.
"Kamu gimana sekarang" tanya Putri sambil memegang tangan adiknya itu.
"Kak aku baik-baik saja, aku merasa tubuhku sangat ringan apalagi kaki ku" jawabnya.
"Kaki, bagaimana dengan kaki kamu. Apa semakin sakit" tanyanya khawatir.
Prita pun langsung duduk dan ingin turun dari kasurnya. "eh, kamu mau ngapain" pegang Putri erat.
"Udah kakak ngak usah khawatir, kita coba dulu" melepaskan pegangan Putri dan menggerakkan kakinya melangkah.
Melihat itu Putri menangis "kamu sudah" peluknya erat. "Ayo duduk lagi kamu jangan capek" ajak Putri pelan-pelan sambil menyelimuti kaki adiknya itu.
"Kak, kejadian hari ini bagi ku adalah keajaiban, tapi kak gimana keadaan Mbg Astri eh salah Mira" ucap Prita.
"Dia membutuhkan transfusi darah karena kepalanya terbentur saat kamu berusaha menyelamatkannya, tapi siapa sih yang kejam dengan sengaja mau menabrak Mira" celoteh Putri.
Melihat ekpresi Prita, Putri pun kaget "apa kamu tau" tanyanya.
"Iya kak, pelakunya adalah papa" jawab Prita.
"Papa, kenapa papa bisa kejam seperti itu" kesal Putri, Arya pun yang mendengar percakapan itu langsung masuk.
"Jadi pelakunya Pak Arman" tiba-tiba masuk dengan berceloteh.
__ADS_1
Mereka pun diam saat mendengar ucapan Arya, "ayo katakan benar yang kalian ucap tadi kalau pelakunya" belum selesai berbicara Putri sudah berteriak "Iya."
"Baru selesai satu masalah, sekarang tambah masalah baru. Kalian tau Pak Bagus tidak akan tinggal diam, dia bisa murka" marah Arya.
"Tidak apa-apa kak, papa berhak mendapatkan hukuman atas perbuatannya. Kita tidak bisa melindungi papa karena ini kasus kejahatan" ucap Prita.
"Baiklah kalau itu yang kamu mau, kakak ngak akan ikut campur" jawabnya sambil memeluk adiknya itu.
Di luar Bagus masih gelisah menunggu dokter keluar, dokter pun keluar "gimana dok" tanyanya langsung mendekati dokter.
"Alhamdulillah, pasien sudah di transfusi darah. Pasien sudah bisa di pindahkan ke ruang perawatan dan kemungkinan pasien akan sadar besok" jelasnya.
"Alhamdulillah, boleh saya melihat istri saya dok" tanya Bagus.
"Boleh, hanya satu orang yang boleh masuk" jawab dokter.
Bagus terburu-buru masuk ke ruangan itu dan melihat Mira yang sedang terbaring lemah, dia pun menghampiri dan mencium kening Mira sambil menangis.
"Sayang, aku tau kamu kuat. Sudah berbulan-bulan kami merindukan kamu dan akhir kamu ada di depan mata sekarang, aku janji akan menjaga kamu dan Cahaya dengan semaksimal mungkin" ucapnya sambil menggenggam tangan Mira.
Perawat pun masuk ke ruangan Bagus itu "Pak pasien ibu Mira akan kita pindahkan sekarang keruang perawatan" ucapnya.
"Baiklah suster" berdiri keluar ruangan.
"Sekarang Mira akan di pindahkan ke ruangannya, kita langsung ikut kesana" jawab Bagus.
"Papa sudah menelpon mamamu, mungkin sebentar lagi dia akan sampai" ucap Harisza.
Bagus pun mengangguk sambil tersenyum.
Cahaya, Lilian, Blue dan Kim pun ke rumah sakit secepatnya, di rumah sakit Cahaya menoleh ke ruangan yang pintunya terbuka saat perawat mengantarkan makanan ke ruangan itu"itu kan papa Mia, kok dia di situ" dalam hati Cahaya sambil melamun.
"Cahaya, ayo cepat" teriak Lilian yang sudah jauh berjalan.
"Iya" berlari menyusul.
Sesampai mereka melihat Mira yang tergeletak lemah, cairan transfusi darah masih menempel di atasnya. "Ayah" panggil Cahaya memeluk Bagus yang duduk di sebelah Mira.
"Sayang, bunda tidak apa-apa. Kata dokter besok bunda akan sadar" ucap Bagus membuat Cahaya senang.
__ADS_1
Cahaya pun mendekati Mira "Alhamdulillah ya Allah sudah menjaga bunda, bunda cepat sembuh yah Cahaya kangen banget sama bunda. Pelukan bunda itu yang terhangat bagi Cahaya" ucapnya di dekat Mira.
"Emangnya pelukan opa ngak hangat" ledek Harisza.
"Pelukan opa dingin kayak batu es" jawabnya. Mereka pun tertawa di ruangan itu.
Mereka semua tidak ada yang mau pulang di malam itu karena ingin sama-sama menjaga Mira, tapi di rumah sakit hanya mengizinkan satu orang menjaga.
Sehingga dengan wajah sedih mereka semua harus pulang, "oma sebelum pulang Cahaya mau lihat Bu guru cantik" ucap Cahaya.
"Oh iya kita belum melihat Prita sama sekali, ayo kita ke ruangannya sama-sama" ajak Lilian.
"Ma, pa, jenguk boleh tapi jangan bikin rusuh" ucap Bagus.
"Emang kita mau tawuran harus rusuh segala, udah ah ayo pergi" ajak Lilian.
Saat mereka keluar dari kamar berjalan mereka melihat wanita keluar dari ruangan itu "aduh gimana ini, istrinya ngak tau kemana. Sedangkan anaknya nangis terus di rumah jadi pembantunya ngak bisa kemana-mana" celotoh wanita itu.
"Oma, opa itu kan ruangan Papa Mia" tunjuk Cahaya.
"Cahaya, Oma dan opa langsung ke kamar mbg Prita ya. Biar Blue dan mas Kim yang lihat kesana" ucap Blue.
Mereka pun mendekati wanita itu "ada apa mbg" sapa Blue.
"Eh mbg dan masnya ini siapa, kenal sama dokter ganteng di dalam apa" tanyanya.
"Perkenalkan nama saya Blue dan ini suami saya Kim, kita mengenal kak Rian hanya sekilas karena kita tau keluarga kita sering terapi" jelas Blue.
"Apa ada yang bisa kami bantu" ucap Kim.
"Nama saya Bida, saya tetangganya dokter ganteng ini. Saya di pintai tolong oleh pembantunya untuk memberikan baju ganti, tapi melihat kondisi dokter sepertinya habis di keroyok. Mana istrinya tidak tau kemana dan anaknya menangis terus" jawabnya.
"Mbg orang baik yah, bantu tetangga yang kesusahan" ucap Blue.
"Aduh adik cantik ini tau aja, saya kan dari dulu baik sering bantu orang yang ke susahan" sombongnya sambil merapikan rambutnya.
"Kalau gitu saya boleh minta tolong ngak sama mbg Bida" ucap Blue.
"Apa itu, kalau baikkan ngak boleh nolak permintaan tolong seseorang" ucap Bida.
__ADS_1
"Kalau ada yang tanya keadaan Dokter Rian mbg jawab aja kalau Dokter Rian sehat, terus wanita yang ada di rumah Dokter Rian sih Astri itu bukan istrinya tapi adik sepupu karena anak Dokter Rian itu menyayanginya seperti ibunya sendiri" jelas Blue.
"Jadi itu bukan istrinya dokter, aduh kalau kayak gini gosip besar" menutupi mulutnya dengan tangan "eh salah maksud saya info penting, okey deh saya akan bilang gitu. Satu lagi kamu panggil saya sis Bida walaupun umur kita jauh berbeda tapi wajah saya awet muda, kamu lihat kan ngak ada kerutan sama sekali. Kalau kita jalan bersama pasti kita di bilang seumuran, ya udah saya pergi dulu" pergi meninggalkan Blue dan Kim.