
"Yah kok mati, Kevin mau bicara apa ya. Udah lah besok juga ketemu" ucap Cahaya langsung menarik selimutnya untuk tidur.
"Kok mati, kamu ngapain Johan" kesal Kevin.
"Kamu ngak mikir apa, kalau yang kamu lihat itu salah terus saat kamu bilang pada Cahaya. Kamu hanya akan membuat Cahaya jadi sedih, lebih baik kita selidiki dulu kalau sudah benar baru kita kasih tau Cahaya" jelas Johan.
"Kamu memang pintar, besok kita ke rumah itu lagi. Tugas kamu tanya sama tante alamatnya" perintah Kevin.
"Siap" jawab Johan.
Keesokan pagi Astri dan Rian mengantar Mia ke sekolah barunya, wajah Mia merasa was-was di sekolah baru itu.
"Sayang mama yakin kamu bisa, sekarang kamu masuk ke kelas ya" ucap Astri.
"Kalau Mia ngak punya teman gimana ma" ucapnya takut.
"Mama percaya Mia akan punya teman, kalau tidak ada teman maka besok mama yang ikut sekolah jadi teman Mia" jawab Astri.
"Beneran ma" langsung memeluk Astri.
"Mia, sekarang ayo ikut Bu guru. Papa percaya sama Mia."
Mia pun di ajak ke kelasnya, sedangkan Astri dan Rian pun keluar dari sekolah itu. Mereka sengaja tidak menemani Mia agar Mia menjadi anak yang pemberani.
Saat Astri dan Rian masuk ke mobil untuk pergi ke rumah sakit Bagus pun sampai di depan gerbang sekolah mengantar Cahaya.
"Hati-hati sayang" teriak Bagus yang melihat Cahaya berlari masuk.
"Sekarang kita ke rumah sakit untuk terapi kaki kamu lagi, sekalian kamu harus tau tempat kerjaku" ucap Rian.
"Baik mas" jawab Astri.
Bagus pun bergegas mobilnya menjemput Prita untuk ke rumah sakit menemui Dokter Ariansyah, Prita yang sudah siap di teras rumah itu pun di temani dengan Arman.
"Ayo" ajak Bagus saat sampai. Saat Bagus ingin mendorong kursi roda itu Arman tidak mempersilahkannya, bahkan Arman sendiri yang mendorong itu. Setelah Prita masuk ke mobil Arman mulai berkata "kamu harus membayar mahal kalau anakku tidak sembuh."
Bagus hanya diam tidak memperdulikan ucapan Arman yang sengaja membuatnya emosi, Bagus pun masuk ke mobil dan bergegas pergi ke rumah sakit.
Cahaya di sekolah saat hendak masuk ke kelas melihat seorang anak seusianya berdiri di dekat pintu luar ruangan guru sendirian, Cahaya pun mengurungkan niatnya masuk dan bahkan menghampiri anak tersebut.
"Mia" teriak Cahaya.
__ADS_1
Mia pun menoleh ke arah Cahaya yang menyapanya.
"Kamu" jawab Mia.
"Benar kamu Mia kan" tanya Cahaya lagi.
"Iya, kamu Cahaya" ucap Mia.
"Benar" mereka pun berpelukan. "Kamu sekolah di sini" tanya Cahaya.
"Iya, aku pindah dari Bali kesini" jawab Mia.
Bu guru pun datang menghampiri mereka, "Cahaya, kenapa belum masuk kelas" tanyanya.
"Cahaya menyapa Mia dulu Bu" jawabnya.
"Ya udah ayo ke kelas bareng karena Mia satu kelas dengan Cahaya" ucap bu guru.
"Asik" teriak Cahaya mereka pun pergi ke kelas berbarengan.
Cahaya dan Mia bertemu saat ada acara festival di Bali, Cahaya melihat Mia terjatuh sendirian di kerumunan banyak orang seperti orang sedih.
Dokter Rian yang saat itu sibuk mencari Mia menemukan Mia lagi asik membeli makanan bersama Cahaya, Mia memperkenalkan Cahaya kepada Rian tapi karena waktu sudah malam Cahaya pun pergi meninggalkan Mia dan Rian di acara itu.
Cahaya dan Mia masuk ke ruang kelas, semua anak kaget melihat Cahaya yang akrab dengan Mia saat masuk kekelas.
Bu guru memperkenalkan Mia kepada mereka semua, karena Bu guru sudah mendengar perkataan kedua orang tua Mia akhirnya Mia Bu guru sengaja dudukan bersama Cahaya.
Melihat tingkah Bu guru begitu Kevin pun langsung protes "Bu kenapa harus usir Linda, mendingan anak baru duduk di belakang sana aja" ketusnya.
"Kevin, ini keputusan ibu. Linda juga tidak keberatan" jawab Bu guru.
"Aku aja di tolak duduk sebelah Cahaya, anak baru itu tiba-tiba duduk sebelah Cahaya. Bu guru ngak adil" celoteh Kevin dalam hatinya.
Melihat Kevin kesal Linda pun di tengah perjalanan ke tempat duduknya di belakang Kevin langsung menarik tangan Kevin dan berbisik, "kamu ngak boleh cemburu, anak itu kan perempuan bukan laki-laki."
"Kamu" wajah Kevin pun memerah dan mengurung ucapannya, sedangkan Linda menertawakannya sambil duduk.
"Udah Kevin, teman Cahaya teman kita juga" ucap Johan.
Mereka pun belajar dengan tenang.
__ADS_1
Di perjalanan ke rumah sakit Prita pun canggung untuk menegur Bagus, dia hanya bisa menatap Bagus yang sedang membawa kendaraan.
"Kamu" ucap Bagus. Sontak Prita pun kaget.
"Maaf pak, aku mau bicara hanya saja tidak mau mengganggu konsentrasi kamu saja" jawabnya.
"Aku risih kamu lihatin seperti tadi, aku juga tau kamu mau bicara tentang papa kamu kan" tanya Bagus.
"Iya pak, tolong jangan di ambil hati ucapan papa" jawabnya.
"Aku sudah bilang kan, kalau aku itu sudah terbiasa dengan perkataan papa kamu. Jadi berhentilah berbicara seperti itu terus" kesal Bagus.
"Iya pak" ucap Prita.
Sesampai di rumah sakit Bagus pun membantu Prita berlahan duduk di kursi roda, tapi di sana sudah ada perawat yang akan membantu Prita menggunakan kursi roda jadi Bagus hanya ke tempat pendaftaran.
Di pendaftaran Bagus pun di sarankan oleh perawat untuk langsung masuk ke ruangan dokter Ariansyah karena beliau sudah ada di dalam ruangannya.
Di dalam ruang Rian Astri pun selesai terapi,
"Kamu sudah sembuh total, besok tidak perlu ke sini untuk terapi" ucap Rian.
"Makasih mas, aku jadi tidak khawatir lagi kalau berlari-lari sebab Mia sering banget ngajak main larian" jawabnya.
"Iya tapi jangan terlalu capek, kira-kira gimana cerita Mia hari ini" khawatirnya.
"Udah kamu percaya saja, pulang nanti dia pasti akan cerita banyak" namun perawat pun masuk dan mengatakan kepada dokter Rian bahwa pasiennya atas nama Prita sudah di depan pintu. Dokter menyuruh dia untuk masuk, saat Bagus ingin ikut masuk suara hpnya bergetar sehingga dia mengangkatnya dan membiarkan Prita masuk duluan.
Di dalam pun Prita senang bertemu dengan dokter Rian dan Astri.
"Prita" sambil memeluk dan cepika cepiki.
"Mbg ikut" tanyanya.
"Iya aku baru selesai terapi, kamu sama siapa" ucap Astri.
"Sama temen mbg, dia ada di luar" jawab Prita.
"Ya udah aku keluar dulu ya mas, Prita kan mau terapi jadi aku kekantin dulu" ucap Astri, Rian pun mengangguk tersenyum.
Bagus selesai telponan pun langsung mematikan hpnya dan membalikkan tubuhnya ke arah pintu, namun dia kaget melihat sosok yang keluar dari pintu itu.
__ADS_1