
Saat Cahaya menoleh ke atas, orang tersebut segera menunduk tersenyum.
"Maaf om" ucap Cahaya.
"Tidak apa-apa anak manis" ucapnya sambil mengambil sapu tangannya di kantong dan mengelap bajunya.
"Serius om tidak apa-apa" tanya Cahaya lagi.
"Iya, mana bisa om marah sama anak manis seperti ini" sambil mengelus kepala Cahaya.
Kevin, Johan dan bodyguard segera mendekati Cahaya saat mereka melihat Cahaya tertabrak dan di dekati orang asing.
"Cahaya, kamu ngak apa-apa" tanya Johan. Cahaya hanya mengangguk.
"Om, kalau jalan itu lihat pakai mata untung Cahaya tidak jatuh. Kalau jatuh om harus tanggung jawab" tunjuk Kevin.
"Dasar anak tidak tau sopan santun" dalam hati laki-laki itu. Bodyguard yang menemani laki-laki itu segera mendekati Kevin saat mendengar ucapan Kevin.
Bodyguard Kevin pun tidak kalah dia segera menghampiri bodyguard laki-laki itu sambil saling melotot.
"Hentikan" ucap laki-laki itu.
"Om, kalau ngak salah nama om Gaga yah soalnya waktu di acara rumah Cahaya aku ngak salah lihat om bercerita sama mama" ucap Johan.
"Anak pintar, betul nama Om Gaga. Kamu anak Jeni, Cahaya anak Mira sedangkan kamu cucu konglomerat Dirga kencana" tunjuk Gaga.
"Kalau om sudah tau sama kita kenapa om ngak minta maaf sama Cahaya" ucap Kevin.
"Kevin udah lah, tadi yang salah itu aku karena ngak lihat ada om. Maaf ya om, Kevin anaknya memang seperti ini" ucap Cahaya.
"Ngak apa-apa, dia hanya berusaha melindungi kamu dari orang jahat. Ya udah sebagai permintaan maaf om yang akan ganti es krim kalian, ambil berapa yang kalian mau."
"Hore" teriak Johan dan Cahaya, mereka pun berjalan ke tempat penjual es krim bersama-sama.
__ADS_1
Sedangkan Kevin hanya diam dan menoleh ke arah bodyguard Gaga yang juga ikut melotot ke arahnya "orang yang mencurigakan, bodyguardnya aja jelek banget matanya selalu aja melotot. Kamu kalau jadi bodyguard matanya ngak usah kayak orang jelek itu" ucap Kevin kepada bodyguardnya.
"Baik tuan" jawabnya.
Mereka pun berjalan ke tempat penjual es krim bersama-sama.
Cahaya mengambil es krim di berikan kepada mereka satu persatu, "kenapa semua Cahaya kasih" tanya Gaga penasaran.
"Iya om, kan ngak baik kalau kita cuma bertiga yang makan es krim jadi semuanya harus makan" sambil memegang tangan Gaga memberikan satu es krim.
Gaga pun tersenyum "Om tau ngak es krim itu kata bunda bisa meredakan kemarahan, kesal, bahkan pusing. Tapi pusing mikirin duit" ucap Cahaya sambil tertawa.
"Cahaya kalau pusing mikirin duit itu obatnya kerja bukan es krim" celoteh Kevin.
"Udah diam aja deh kamu, kamu makan es krim 3 deh biar diem, ngak emosi dan ngak bikin orang kesal" ledek Cahaya.
"Kalau aku gimana Cahaya mending makan es krim berapa" tanya Johan.
"Kamu cukup satu aja biar ngak batuk" jawaban Cahaya membuat Johan tersenyum.
"Hus sama orang tua ngak boleh gitu" marah Johan.
"Biarin, lagian om mirip banget sama mafia perdagangan. Kalau di lihat ngak ada baiknya yang ada dramanya" celoteh Kevin.
Cahaya pun langsung menutup mulut Kevin yang selalu menjelekkan Gaga, "Maaf om kalau gitu kita masuk ke dalam duluan yah, makasih es krimnya" sambil menarik Kevin ikut masuk ke dalam.
Gaga pun tersenyum kesal "Jadi bagaimana bos, apa yang harus kita lakukan pada anak yang menghina bos seperti itu" tanya bodyguard itu saat dia melihat ekpresi Gaga.
"Tidak perlu lakukan apapun, apa yang dia katakan semuanya benar. Mungkin itu lah kelebihan pewaris Dirga Kencana, sifatnya mirip papanya yang sudah mati itu" celoteh Gaga.
Arya pun sampai di panti asuhan pukul 19.00 wib, dia segera menggedor pintu dan di buka oleh laki-laki setengah baya di sana.
"Loh den Arya" panggilnya saat melihat wajah Arya. "Ayo masuk den" ajak laki-laki itu.
__ADS_1
Arya pun masuk dan duduk di kursi itu "Mang Agus, saya kesini mau bertemu dengan ibu panti, apa ada" tany Arya.
"Ada, saya panggil dulu yah" saat hendak berjalan ke dalam ibu panti keluar mendengar suara dari ruang tamunya.
"Loh nak Arya" sapanya, Arya pun segera mensalimi ibu panti tersebut.
"Ini buk, den Arya kayaknya ada perlu sampai malam gini kesini" ucap mang Agus ikut duduk bersama dengan yang lain.
"Ini buk, saya mau tanya. Ibu kenal sama Tiara sahabat Mira yang tinggal di panti" tanya Arya.
"Loh pasti tau lah, kan ibu saksi kamu dan Mira berpacaran dan menikah. Bahkan kan pernikahan kalian walinya mang Agus, kalau Tiara kan kemana arah Mira selalu nempel kayak perangko" jawabnya.
"Alhamdulillah ibu masih ingat, Bu saya mau tanya apa saat Tiara di buang di panti di sini itu sendirian atau ada kembarannya" tanya Arya.
"Aduh ibu lupa yah, tapi kalau ibu lihat foto pasti ibu ingat maklum lah ibu sudah tua" jawabnya.
"Fotonya ada di mana buk, biar aku aja yang ambil" ucap Arya.
"Aduh den foto pada saat tahun 1990an itu arsipnya ada di gudang, kalau malam gini ngak lihat karena listrik di gudang sudah di putuskan saat konslet takutnya ada percikan api. Kalau mau cari besok pagi kita cari" ucap Mang Agus.
"Iya Arya apa yang di katakan oleh mang Agus benar, besok saja kalian mencari dan malam ini kamu bermalam dulu di sini karena sudah lama kamu tidak berkunjung di sini" ucapnya.
"Iya Bu, saya akan bermalam di sini" jawab Arya.
"Ayo den saya antar ke kamar" ajak mang Agus, Arya pun mengikuti mang Agus dan melihat ke adaan sekitar yang tidak berubah sesuai 20 tahun yang lalu.
"Ini den" mereka masuk, "kalau ada apa-apa panggil Mang Agus aja den" ucap mang Agus.
"Iya mang, makasih ya mang" sambil duduk di atas ranjang, Mang Agus mengangguk keluar dari kamar.
Malam itu Bagus, Mira, Cahaya, Kevin, Johan dan Bodyguard turun dari kamar hotel mereka untuk keluar makan malam, "kenapa kita tidak makan di kamar aja, kan banyak makanan online" ucap Kevin.
Cahaya pun melentikkan jarinya ke kening Kevin, "Diam aja, kalau ayah udah ajak makan di luar pasti ayah sudah mempersiapkan sesuatu" celotehnya.
__ADS_1
Kevin pun memegang keningnya yang sakit itu, Saat mereka berjalan keluar Gaga tersenyum melihat mereka melewati Gaga, "Pak Bagus" sapa Gaga.
Bagus sekeluarga pun menoleh ke orang menyapa mereka,