Ayah Ku Idola Ku

Ayah Ku Idola Ku
bab 47


__ADS_3

Cahaya dan Bagus tiba di rumah, melihat cucu dan anaknya sampai Lilian dan Harisza langsung keluar memeluk cucunya itu.


"Cahaya ngak apa-apa kan" tanya Lilian sambil melihat semua tubuh Cahaya.


"Oma ngak perlu di periksa kayak gini, Cahaya ngak apa-apa kok" protesnya.


"Cahaya langsung masuk ke kamar ganti baju ya sama oma" pinta Bagus, Cahaya pun masuk bersama omanya.


Saat Cahaya masuk Kim pun datang untuk menyampaikan hasil meting tadi ke pada Bagus, melihat Bagus bersama Harisza, Kim hanya diam belum berkata sekata patah pun.


"Gimana" tanya Harisza.


"Tadi Cahaya di bully oleh kakak kelasnya tapi semua sudah di urus oleh Pak Dirga, papa tidak perlu khawatir Cahaya ternyata diam-diam bisa melakukan jurus" jawab Bagus sambil melihat ke arah Kim yang tertunduk diam mendengarkan perkataan bosnya itu.


"Oh, jadi" ucap Harisza langsung di potong oleh Kim.


"Maaf pak ini salah saya, diam-diam Cahaya belajar karate bersama saya setiap selesai subuh. Awalnya saya menolak tapi Cahaya bersikeras untuk belajar tanpa di ketahui siapa pun" jelas Kim.


"Sekretaris Kim tidak perlu bersalah, justru saya berterimakasih karena itu dia bisa melawan dari bully. Ajarkan terus dia dan anggap saja saya tidak mengetahuinya" ucap Bagus, Kim pun tersenyum mengangguk mendengarnya.


"Ya udah karena sudah selesai sekarang kalian lanjutkan, papa mau ke kamar Cahaya dulu" ucap Harisza meninggalkan mereka berdua.


Namun tiba-tiba Putri datang ke rumah Bagus, melihat Putri yang datang Bagus dan Kim bingung. Putri langsung mendekati mereka yang berdiri di luar rumah.


"Kenapa" ketus Bagus saat Putri mendekati mereka.


"Aku baru datang tapi sudah di ketus, aku kesini ingin bertemu Cahaya karena aku mendengar Cahaya di sekolah mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan" ucap Putri, Bagus pun menoleh ke arah Kim sebab hanya Kim dan Bagus yang tau keadaan Cahaya. Kim menggelengkan kepalanya saat di lihat oleh Bagus.


"Cahaya lagi istirahat, sekarang kamu pulang" usir Bagus.


"Aku baru datang, aku juga membawa sesuatu yang pasti di sukai Cahaya" ucap Putri kekeh untuk mendapatkan perhatian Cahaya.


"Kamu titip saja sama sekretaris Kim nanti dia yang akan antar, kamu tidak perlu bertemu karena sekarang dia sedang beristirahat" ketus Bagus langsung pergi meninggalkan Putri dan Kim.


"Ini" Putri memberikan kepada Kim dan pulang setelah dia di tolak untuk masuk ke dalam.

__ADS_1


"Sial, Bagus masih saja benci kepada ku. Aku harus membuat Cahaya menyukai aku sehingga Bagus tidak bisa berkutik lagi" gerutu Putri di depan pintu pagar Bagus sambil menunggu taksi. Saat taksi tiba pun Putri mendapat telpon dari seseorang.


"Kenapa" ketus Putri mengangkat telpon itu. "Papa sudah membuang aku jadi aku harap kamu juga tidak usah sok baik dan sok peduli dengan aku" langsung mematikan teleponnya.


Keesokan paginya Cahaya pun langsung ke tempat biasanya, dia ke paviliun tempat Kim berada.


"Hari ini mau teknik apa om" tanya Cahaya.


"Yang simpel aja asal Cahaya bisa bertahan" jawab Kim.


"Okey" mereka pun melanjutkan teknik karate yang dia lakukan sampai akhir. Cahaya ingin belajar bela diri semenjak di tinggal bundanya, dia ingin melindungi orang-orang yang dia sayangi. Selesai belajar karate Cahaya ke kamar pura-pura tidur lagi, Lilian pun segera ke kamar Cahaya untuk membangunkannya sekolah.


"Cahaya bangun" ucap Lilian.


"Iya oma" jawab Cahaya, Bagus pun mengintip dari sela pintu kamar melihat anaknya yang berpura-pura itu sambil tersenyum puas.


Cahaya mandi dan siap untuk sarapan.


"Ayah sebelum ke sekolah kita harus ke minimarket dulu ya" ucap Cahaya.


"Bukan opa, Cahaya mau beli cokelat untuk Bu guru cantik Prita. Bu guru kemaren membantu Cahaya, kasihan bu guru wajahnya merah di marahin kemarin."


"Okey nanti kita beli cokelat banyak-banyak" ucap Bagus menyemangati anaknya itu.


"Wah kalau gitu oma harus berterimakasih donk dengan bu guru cantik itu" jawab Lilian.


"Ya udah oma ikut aja" ajak Cahaya.


"Oma hari ini ada kegiatan, besok-besok aja deh" jawab Lilian. "Kegiatan apaan, paling kegiatan pilih-pilih berlian terbaru, atau ngak tas, sepatu yang terbaru" celoteh Harisza, Lilian, Cahaya dan Bagus pun tertawa mendengar celotehan Harisza.


Di sekolah Cahaya pun langsung mencari bu Guru Prita, melihat Cahaya yang sedang berlari mencari sesuatu Kevin dan Johan pun menyusul Cahaya.


"Nah itu dia" ucap Cahaya langsung berlari kecil di hampiri Kevin dan Johan juga.


"Bu guru cantik" panggil Cahaya, bu guru pun berhenti melihat anak muridnya berlari mendekatinya.

__ADS_1


"Cahaya, Kevin dan Johan ada apa" tanyanya.


Cahaya langsung membuka tasnya mengambil 5 buah cokelat di tangannya dan langsung memberikan pada bu guru cantiknya itu.


"Ini apa" tanya Bu Guru Prita.


"Ini kan cokelat bu" celoteh Kevin.


"Iya Kevin ibu tau, tapi ini untuk apa Cahaya memberi ini untuk ibu" tanyanya lagi.


"Satu permintaan terimakasih sudah bantu Cahaya, kedua ucapan terimakasih dari ayah, ketiga ucapan terimakasih dari oma dan opa, keempat manisnya coklat bisa menyembuhkan wajah ibu yang merah dan kelima terimakasih sudah jadi wali kelas Cahaya" oceh Cahaya.


"Makasih anak cantik, tapi itu sudah kewajiban ibu untuk membantu anak murid ibu. Apa lagi anak ibu ini anak baik" ucap Prita.


"Ngak apa-apa bu, Cahaya sayang banget sama ibu" ucap Cahaya langsung memeluk Prita.


Dari kejauhan Bu Guru Vivi merasa kesal melihat Prita yang sedang mengobrol dengan anak muridnya itu.


"Gara-gara guru baru itu aku kehilangan kepercayaan dari kepala sekolah, di anggap rendah oleh guru-guru yang lain karena tidak bisa mendidik anak murid sendiri. Aku akan secepatnya membuat ibu guru ini harus di keluarkan dari sekolah ini" kesalnya dari kejauhan.


"Ya udah sekarang kalian masuk ke kelas ya, ibu mau ke ruangan dulu ambil buku. Ibu terima cokelatnya ya" Prita langsung mengambil cokelat itu dan pergi meninggalkan mereka.


"Wah banyak banget cokelat yang Cahaya kasih ke bu guru, kalau gitu ucapan terimakasih pada aku mana" tanya Kevin.


Cahaya pun langsung mengambil sesuatu dari kantong bajunya dan menggenggam isi dari kantongnya itu, Cahaya memegang tangan Kevin "ini."


Saat Kevin membuka tangannya dia pun melihat "ini kan" ucap Kevin, Cahaya tertawa melihat ekspresi sahabatnya itu. Johan yang melihat itu bingung dan mengambil pemberian Cahaya itu yang di pegang oleh Kevin.


"Loh bukannya ini gelang" tanya Johan.


"Iya benar sekali" jawab Cahaya.


"Ini kan berlian yang kita bagi waktu itu" tanya Johan lagi.


"Kemarin gelangnya putus, jadi di benarin sama Cahaya tapi kenapa gini" ucap Kevin sehingga Johan pun ikut tertawa melihatnya.

__ADS_1


__ADS_2