
Mira dan Bagus keluar dari kantor berpapasan sama Arya, "Arya" sapa Bagus.
"Iya pak" jawab Arya.
"Hari aku ada meting di luar bersama pak Dirga, kamu handel semua karena sekretaris Kim tidak ada" ucap Bagus.
"Baik pak."
Mira dan Bagus pun pergi meninggalkan Arya, namun saat sampai di tempat meting Bagus dan Mira menghampiri Dirga yang sudah duluan datang namun Dirga di temani oleh seseorang.
Mira dan Bagus mendekati ternyata orang tersebut Gaga, "Sore pak" ucap Bagus.
"Eh Bagus, Mira ayo duduk" ajak Dirga.
"Apa kabar pak Bagus dan ibu Mira" sapa Gaga.
"Baik" jawab Mira.
"Ini meting gimana ya pak sampai ada pak Gaga" tanya Bagus.
"Iya, maaf Bagus saya lupa memberi tahu kamu kalau Gaga ikut dalam bisnis kita yang ini. Makanya saya mengajak meting dadakan hari ini agar kamu tau cara yang lebih simpel di lakukan Gaga agar bisnis ini cepat berkembang" jelas Dirga.
"Bisnis ini kan bukannya sudah lebih simpel yah pak, kita tinggal membangun hotel saja"
"Gini pak Bagus saya sudah melihat bahwa tanah yang akan di bangun hotel itu adalah tanah milik warga dan kita sudah membelinya, tapi di dekat tanah itu sebelahan degan jurang jadi gimana kalau jurang itu di manfaatkan pembangunan seperti kamar dengan bentuk yg unik seperti ini" Gaga mengeluarkan kertas yang sudah dia gambar.
Bagus pun melihat gambar itu, gambarnya tidak sebagus gambaran milik Bagus tapi gambar itu bisa di pahami.
"Ini" tunjuk Bagus.
"Maaf pak Bagus kalau gambaran saya tidak sebagus bapak tapi saya yakin bapak yang ahli seni ini pasti mengerti" ucap Gaga.
"Saya suka dengan ide kamu Pak Gaga, gimana sayang" memberikan kertas itu kepada Mira.
__ADS_1
"Iya, tapi gambar ini perlu sedikit pembenahan agar hasilnya lebih keren lagi. Tapi ide ini keren loh menurut aku memanfaatkan sesuatu yang tidak terpakai jadi berguna" ucap Mira.
Dalam hati Gaga pun senang "akhirnya Mira memuji apa yang buat, bagaimana kalau dia melihat gambaran wajahnya yang sering aku buat apa dia akan memuji aku juga" dalam hati Gaga.
"Ya udah kalau untuk melanjutkan pembenahan saya percayakan kepada kamu Mira karena hotel kamu di Bali saja semuanya mempunyai ide yang kreatif sehingga membuat orang yang datang ke sana merasa nyaman" ucap Dirga.
"Makasih pak perusahaan kami tidak akan membuat bapak dan Pak Gaga kecewa, iya kan sayang" ucap Mira mesra.
"Iya, karena istri saya wanita yang sangat cerdas dan kompeten jadi kata semangat yang dia ucapkan membuat saya menjadi yakin untuk melakukan ini. Kalau gitu saya dan istri pamit dulu karena meting hari ini selesai" ucap Bagus sambil berjabat tangan kepada Gaga dan Dirga.
"Kalian boleh saja romantis hari ini tapi suatu saat aku akan buat Mira yang akan bersikap seperti itu kepada ku" kesal Gaga melihat mereka yang sudah berjalan pergi.
Mereka pun pulang ke rumah, Cahaya yang menunggu pun langsung keluar memeluk mereka.
"Ayah, bunda gimana kerja barengnya," tanya Cahaya.
"Kalau ayah sih suka banget sayang, bisa bersama dengan bunda tiap menitnya, terus di perhatikan semuanya mulai dari makan serta semua yang ada di kantor" sambil menggendong Cahaya masuk ke dalam rumah.
"Yah kalau gitu ngak adil donk, masa cuma ayah yang di perhatikan sedangkan Cahaya enggak. Kalau gitu ayah, bunda di larang kerja cukup temani aku aja" kesal Cahaya.
Harisza dan Lilian pun mendekati Bagus, Mira dan Cahaya yang lagi duduk di bercerita "kalian sudah pulang" tanya Harisza.
"Iya pa, kalau gitu aku pamit ke kamar dulu mau bersihin badan dulu" pamit Mira namun di larang oleh Lilian.
"Nak ada yang akan di sampaikan penting oleh ayah mu, duduk dulu dan Cahaya kamu makan buah duluan yah sama Bibi di dapur" ucap Lilian.
"Iya oma" Cahaya segera pergi ke dapur meninggalkan mereka.
"Ada apa ma, pa sepertinya penting banget" tanya Mira.
"Tadi saat papa dan mama kamu berencana untuk ke kantor namun tiba-tiba kami melihat wanita yang mirip Tiara itu dan akhirnya kami mengikuti wanita itu dan kalian tau apa yang dia lakukannya"
"Apa pa, jawab apa" tanya Bagus.
__ADS_1
"Kami melihat Tika kembaran Tiara menghampiri sekolah Cahaya, dia memperkenalkan dirinya kepada kita" jawab Harisza.
"Apa yang dia inginkan."
"Mas kalau begitu kita harus melakukan rencana Arya waktu itu, kita harus ke rumah Gaga mencari tau apa yang di rencanakan mereka berdua karena mereka kan saudara jadi pasti kerja sama" ucap Mira sambil memegang tangan Bagus.
"Ngak aku ngak mau melibatkan kamu, biar aku yang kesana sendiri" Bagus berdiri melepas tangan Mira .
"Mas" teriak Mira.
"Bagus, papa tau kamu khawatir tapi kamu tidak bisa kesana sendirian. Untuk memulai sesuatu rencana pergi lah bersama Mira dan Cahaya seolah itu kunjungan yang membuat mereka tidak curiga" ucap Harisza ikut berdiri memegang bahu anaknya itu.
"Iya, mama setuju. Nanti kita juga akan bantu kalau terjadi sesuatu pada kalian di sana"
"Tapi ma, aku cuma ngak mau kalau istriku ikut dalam penyelidikan ini titik" pergi meninggalkan mereka semua.
"Udah ma, pa, nanti biar Mira yang bujuk" Mira pun pergi menyusul Bagus masuk ke dalam kamar.
Mira yang menghampiri Bagus segera memeluk Bagus dari belakang, "Mas, berhenti marahnya" Bagus pun tetap diam tidak berbicara sedikit pun.
"Mas ayo lah lihat aku, mau berapa lama kamu marah seperti ini" Bagus pun membalikkan tubuhnya.
"Sayang, aku ngak bisa marah lama sama kamu tapi yang harus kamu tau aku tidak mau ke hilangan kamu lagi jadi tolong lah mengerti aku" ucap Bagus.
Mira pun memeluk erat Bagus "Baik lah aku akan turutin apa mau kamu tapi untuk penyelidikan ini aku mau kamu yang mengalah karena aku akan menyakinkan kamu bahwa tidak akan terjadi apa-apa pada diriku."
"Sayang" kesal Bagus.
"Apa" ledek Mira.
"Okey, untuk hari ini aku yang mengalah" teriak Bagus kesal.
Namun pintu kamar terbuka" ayah, bunda jangan tinggalkan aku. Ikut" teriak Cahaya langsung memeluk Bagus dan Mira.
__ADS_1
"Ayah, bunda, Cahaya udah memperbaikinya" memberikan gambaran kepada Bagus.
Bagus yang kaget melihat gambaran itu "ini" ucap Bagus sambil tersenyum.