
"Benar Sayang, maafin Mas ya. Nanti kita jalan-jalan di desa ini gimana? mau?" bujuk Gus Sakhi.
"Janji?"
"Janji." sambil mengecup kening Sasa membuat sang empunya tersipu malu.
"Kaya pengantin baru aja masih malu-malu." Ledek Gus Sakhi membuat Sasa melotot ke arahnya.
Sasa dan Gus Sakhi pun melancarkan aksinya. Mereka mendekor ruang keluarga kemudian menaruh beberapa kotak yang berisi kertas dan jika di gabungkan tulisannya menjadi Selamat, kalian akan menjadi Nenek dan Kakek lagi.
Sasa juga menaruhkan beberapa pasang baju bayi di meja kemudian mereka mematikan lampunya juga. Tak lama kemudian, Abi dan Umi pulang ke rumah, Sasa dan Gus Sakhi pun bersembunyi di balik tembok paling ujung.
Sesekali Gus akhi menggelengkan kepalanya sambil tersenyum simpul, tingkah aneh istrinya sudah merajalela memasuki tubuhnya hingga dirinya juga ikut serta dalam kekonyolan Sasa. Seumur hidup, Gus Sakhi tidak pernah melakukan itu. Bahkan dia terkenal cukup kaku di keluarganya, lebih dingin dari Gus Sakha membuat banyak orang takut dengannya.
Ceklek!
"Assalamu'alaikum." Salam keduanya, Gus Sakhi dan Sasa pun menjawabnya di dalam hati.
"Kok gelap Bi? apa mati listrik ya?" tanya Umi yang keheranan.
Sementara Abi menatap AC yang masih menyala, ya itu adalah salah satu keliru dari Sasa yang lupa mematikannya.
"Nggak kok, buktinya AC nya menyala. Coba kita hidupkan lampunya." Kata Abi sambil berjalan ke saklar lampu.
Begitu lampu di hidupkan, tiba-tiba ....
__ADS_1
Surpriseeee
"Masya Allah, anak umi ...." Sambil memeluk Sasa, "Kapan datang, Nak?" tanya Umi.
"Baru saja, Umi apa kabar?"
"Alhamdulillah, baik Nak." Sahut Umi.
'Ekhm
Semua mata tertuju pada Abi yang berdehem.
"Umi saja yang di peluk? Abi enggak?" tanya Abi membuat semuanya terkekeh, Sasa pun melepaskan pelukan Umi dan beralih ke Abi.
"Tentu saja Sasa juga rindu sama Abi." kata Sasa sambil tersenyum.
Bukannya memeluk, Umi mendekati Gus Sakhi lalu menjewer telinganya. "Dasar, anak nakal! sejak kapan kamu cemburuan kaya begitu?"
"Aw! sakit! ampun Umi, ampun." Gus Sakhi meringis kesakitan.
"Hahahhahahah!" Sasa langsung menertawakan suaminya itu, sementara Gus Sakhi menggelengkan kepala melihat Sasa yang begitu senangnya melihat suaminya di siksa seperti itu, pikirnya.
"Ini maksudnya apa, Nak?" tanya Abi yang sadar dengan dekorasi ruangan tersebut. "Baju bayi?" sambung Abi lagi.
Umi mendekati Sasa, "Kamu hamil?"
__ADS_1
"Alhamdulillah, Umi." Jawab Sasa.
Tes!
Umi meneteskan air matanya, tangisan itu merupakan tangisan kebahagiaan bercampur keharuan nya pada anak sulungnya. Walaupun Umi sudah memilik cucu, tetapi kehadiran anak dari Gus Sakhi juga harapan dari Umi dan Abi selama ini. Akhirnya penantian selama setahun tersebut membuahkan hasil.
"Selamat ya, Nak. Umi senang mendengarnya."
Sasa menghapus air mata Umi yang masih mengalir, "Jangan menangis, Umi. Nanti cucu nya juga sedih."
Abi memeluk putranya, "Selamat, Nak. Ini buah dari kesabaran mu. Allah meridhoi dan memberikanmu hadiah yang luar biasa."
"Terima kasih, Abi."
🌼🌼🌼
Sementara di tempat lain, Pipa sedang pergi membeli baju untuk persiapan pernikahan mereka. Bima pun dengan sabar nya menemani calon istri yang begitu antusias dalam memilih pakaian. Bukan hanya Bima yang ikut, tetapi juga ada Bubu karena bagi Bima tidak boleh berduaan jika belum SAH menjadi suami istri.
"Bim, bagaimana? warna cream atau cokelat saja?" tanya Pipa, sementara Bima menggarukkan kepalanya.
"Jawab, Nak." Sahut Bubu yang ikut mendesak jawaban dari Bima.
"Apa gak sebaiknya Bubu saja yang mewakilkannya?" tanya Bima dengan halus.
"Asal kamu tahu, ini adalah pilihan terakhir dari 12 warna yang kami pilah." Sahut Pipa.
__ADS_1
"Dari dua belas?" tanya Bima setengah menganga.