Begitulah Takdir

Begitulah Takdir
Kerumah Patul


__ADS_3

"Gue kok ngerasa kaya ada yang perhatiin ya?" ucap Sasa lalu pandangan nya menatap sosok lelaki yang seperti ketangkap basah karena menguping, lelaki itu langsung berbalik badan dan pergi begitu saja.


'Aneh, apa perasaan gue aja?' gumam Sasa dalam hati


"Masa sih?" sahut Sapi


"Kamu teh ngayal ya? gak ada siapa-siapa juga" sahut Patul


"Iya, atau orang yang lu maksud tadi Syauqi? jiahahhaa, kepikiran juga si kawan!" ucap Pipa tanda dosa.


"Issss, tauk ah" kesal Sasa.


Hari ini mereka sepakat untuk main ke rumahnya Patul karena di sana juga mengadakan syukuran kecil-kecilan atas sah nya Patul menjadi sarjana.


"Kalian nginap ya? please" pinta Patul.


Ketiganya langsung saling pandang, akhirnya Sapi menjawab "Iya, kami nginap"


", Alhamdulillah" sahut Patul dengan girangnya.


Gus Sakha yang melihat istrinya ceria lagi pun ikut tersenyum .


Sementara menunggu Sasa, Sapi dan Pipa yang sedang membereskan pakaiannya di kos, Patul dan ketiga Ustadz itu menunggu mereka di dalam mobil .


Beberapa menit kemudian, mereka sudah siap dan sudah berada di depan mobil, betapa terkejutnya Sasa saat kedua sahabatnya itu memilih duduk di kursi paling belakang, karena masalahnya sekarang di bangku tengah adalah Gus Sakha yang di pinggir kiri dan Patul di tengah, mau gak mau Sasa juga terpaksa harus duduk di bangku pinggir kanan tepat di sebelah Patul.


'kenapa aku jadi nyamuk? huh!' gumam Sasa dalam hati, lalu ia mengambil headset dan menempelkannya di telinga nya sambil pura-pura tidur yang berujung dengan tidur beneran.


"Kok kayanya yang dikursi tengah agak ngejanggal ya" celetuk Sapi memecah keheningan.


"Maksud kamu apa atuh?" Heran Patul


"Noh, lihat.. kanan kirimu" pinta Sapi yang langsung dituruti oleh Patul, sedangkan Sasa tidak mendengar apa-apa karena kupingnya ketutup headset.


Namun, bukannya menjadi happy malah kembali hening.


"Kok hening lagi?" Tanya sapi dengan polosnya.


pletakkkk


Pipa yang sedari tadi diam kini menyentil kening Sapi


"Aw, sakit Oneng!" keluh sapi


"Lu tuh, kalau mau pecahin hening bukan gitu caranya, mikir gak itu bakal buat perasaan orang jadi kacau atau tidak?" tanya Pipa


"Maksudnya?"


"Euuuh untung kawan!"


Tak lama kemudian, sapi menyadari kesalahannya ia langsung membekap mulutnya sendiri "Astagfirullah "


"Udah sadar? lambat kali" kesal Pipa.


"Patul... maafin aku" ucap sapi


Patul tersenyum "Gak apa-apa, santai saja sama aku mah"

__ADS_1


"Gus, maafin aku ya" ucap Sapi


Gus Sakha menggelengkan kepalanya "Tidak masalah"


"Sasa.....!!!" panggil Sapi namun tak digubris


"Woiii micin!!!!" panggil Sapi lagi, ya bagaimana mungkin Sasa dengar, wong dia sedari tadi menikmati musiknya sambil menghadap kaca dengan menyenderkan kepalanya.


"Mendadak budek tuh anak? hahaha!" tanya Pipa yang memang tidak tahu


"Tauk nih, ngeselin"


"Duhhh!" keluh Sasa yang dapat toyoran dari belakang. Sasa pun melepaskan headset nya dan melihat ke belakang


"Siapa nih yang noyor gue? sakit woy!"


"Aku! habisnya kau dari tadi ku panggil pura-pura gak dengar, ya sorry soal toyorannya dan sorry juga soal yang tadi" ucap Sapi


"Yang tadi apa?" bingung Sasa


"Yang tadi ku bilang"


"Bilang apa? gue gak dengar, pake headset dari tadi" ucap Sasa sambil menunjukkan headsetnya.


Semua yang sedari tadi diam sudah tak dapat menahan tawanya "pftttt hahahahhahhahahah"


Sasa semakin bingung, sementara Sapi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Napa sih Tul?" Tanya Sasa dengan Patul. Sementara Patul hanya mengangkat bahunya tanda tidak tahu.


"Heheheh! Sasa ku sayang, micin ku yang cantik, gak usah di pikirin ya, kau lanjut aja santaimu " ucap Sapi


***


Akhirnya mereka sudah sampai di halaman pesantren, kini semuanya berjalan menuju rumah Abah Kyai.


"Assalamu'alaikum"


"Waalaikumussalam" jawab Mbak Desi salah satu ART


"Abah dan Ummah mana mbak?" Tanya Patul


"Afwan Ning, itu, Abah sama Ummah ke kampung sebelah"


Patul mengangguk.


"Ning, kata Ummah neng Fifa dan yang lainnya masuk aja ke kamar Ning Lila yang lama"


Patul mengangguk "Ya sudah, terimakasih ya mbak "


"Ohiya neng, Aa' ke kamar deluan ya. Yuk Ghibran, ke kamar ana saja" ucap Gus Fathan sambil mengajak Ustadz Ghibran.


Kini tinggal lah The guys beserta Gus Sakha. Karena tak ingin mengganggu pengantin baru, Sasa mewakili ketiganya pamit dengan Patul dan Gus Sakha .


"Ya sudah, kami masuk deluan ya Tul , Gus"


"Iya" jawab Gus Sakha dan Patul barengan, kemudian Gus Sakha melanjutkan ucapannya "Silahkan"

__ADS_1


Kini tinggal Patul dan Gus Sakha "Ya sudah, ayo kita ke kamar A"


Gus Sakha diam, namun lama kelamaan senyumnya terlukis disana, Patul terpanah melihatnya, ia langsung menundukkan pandangannya karena saat ini sedang malu.


"Kenapa nunduk gitu?" Goda Gus Sakha


Patul menggeleng


"Neng, kamu mau ngajak Aa kekamar? kamu gak rindu sama teman-teman kamu?"


"Terus Aa?"


"Aa' gak masalah, kamu susul saja teman kamu"


Patul diam sejenak, ia sebenarnya ingin bersama teman-temannya namun ia sadar diri akan statusnya.


"Kenapa diam saja? hmm?" tanya Gus Sakha dengan lembut


"Neng belum siapin baju ganti Aa" ucap Patul dengan malu


Gus Sakha tersenyum lalu menarik tangan Patul dan mengajaknya ke kamar.


Sampai di kamar, Patul mengambil baju Gus Sakha, dan menaruhnya di atas tempat tidur. Sementara Gus Sakha sedari tadi memandang wanita yang sudah berstatus istri itu.


Patul mengernyitkan dahinya bingung "Ada apa A?"


Gus Sakha sadar dalam lamunannya "Astaghfirullah"


"Kunaon A?"


"Maafin aa ya neng"


"Untuk apa?


"Aa' gak pernah ngelihat neng selama ini. Padahal sejak neng kecil dan mungkin dari neng lahir, kita sudah saling kenal, sudah dekat tapi aa dulu malah menyukai teman Neng"


"A, yang lalu biar berlalu. Wajar saja aa menyukai Sasa, dia sangat cantik dan sempurna. Sedangkan Neng---"


"Hustt, kamu gak boleh ngomong aneh-aneh. kamu istri Aa yang paling cantik"


blushhj


"Sejak kapan pandai ngegombal? atau sering ya dulu main gombal-gombalan sama Sasa?" ucap Patul menahan tawanya


"Kok bawa-bawa Shazfa lagi sih??.hmm? Biar neng tahu, Shazfa itu dulu balas chat Aa tuh lama banget, trus singkat pula" tanpa sadar Gus Sakha menceritakan nya


"Oh jadi ada yang kesal nih sama mantan pacarnya "


goda Patul


"Astaghfirullah , Neng, kamu ngomong apa ih" sambil mencubit hidung Patul


"Sakit A'!"


"Rasain, itu hukuman buat istri yang goda suaminya." tutur Gus Sakha.


"Kami bukan pacaran, tapi hanya komitmen kalau Neng lupa " Ucap Gus Sakha , lalu ia memandang istrinya "Tapi, Neng adalah hidup Aa sekarang. bagaimana pun masa lalu Aa' itu hanya untuk yang lalu. Kini hati Aa hanya untung Neng. Aa' menyayangimu Neng "

__ADS_1


Patul sedikit meringis, pasalnya suaminya hanya mengatakan sayang bukan cinta, tapi apa boleh buat karena perasaan tak bisa dipaksakan.


__ADS_2