Begitulah Takdir

Begitulah Takdir
Persiapan Pernikahan Pipa


__ADS_3

"Iya, kenapa kaget begitu?" Pipa keheranan.


"Astaga, memang ya! Dasar, cewek." Gumam Bima


"Bu, Bima lagi ngatain kita." Adu Pipa pada calon mertuanya.


"Kamu bilang apa Bima? hm?" Bubu percaya begitu saja pada Pipa membuat Bima membulatkan matanya dengan sempurna.


"Astaga, yang anak kandung siapa sih?" lirih Bima yang sudah frustasi.


Pipa tertawa ngejek, "Kamu memang anak Bubu, tapi kasih sayang Bubu sudah untuk ku semuanya. Iya kan Bu?"


"Iya dong, kamu catat itu ya Bima!" Bubu malah membela Pipa.


"Hah?"


***


Setelah perdebatan panjang akhirnya apa yang mereka cari sudah di dapatkan. Bukan hanya gamis untuk pengantin saja, tetapi untuk orang tua dan sahabat-sahabat Pipa juga sudah di beli. Hanya tinggal membeli perhiasan yang diincar oleh Pipa sejak lama yang belum di dapat mereka.


"Mbak, apa gak mau di tukar saja?" tanya Bima secara halus, walaupun Bima menyadari jika Mas Kawin hanya pihak perempuan lah yang mengatur.


"Masa kamu tega sih, Bim? aku sudah lama menginginkannya." lirih Pipa.

__ADS_1


Plak!


Satu pukulan mendarat di bahu Bima membuat sang empunya meringis kesakitan.


"Aduh Bu, ada apa sih?" Protes Bima


"Kamu yang ada apa, belum juga nyari masa sudah nyerah begitu!" sanggah Bubu.


"Allahu Akbar, Bubu! Dari tadi juga kita keliling-keliling nyari gelang kaya di foto itu, Bu." Bima sedikit meringis karena bubu selalu saja melindungi Pipa.


"Jadi kamu tidak sabar nih nyari nya?" tanya bubu, kemudian Bubu kembali menatap Pipa. "Fa, kalau Bima tidak sanggup mencari gelang seperti itu, sebaiknya kamu pikir dua kali untuk menikahinya. Bocah itu pasti tidak sanggup juga menjadi suami karena pengorbanannya masih kurang."


Ucapan Bubu membuat keduanya menelan Saliva dengan susah payah. Pipa memang menginginkan gelang seperti itu, tetapi sebenarnya ia juga tidak memaksanya untuk mendapatkan yang sama persis. Hanya saja, pipa ingin mengerjai calon suaminya itu. Sedangkan Bima, hanya bisa meringis.


Bima tidak mau menyerah begitu saja, malahan ia merasa tertantang dengan ucapan Bubu tadi. Mengingat dirinya belum ada apa-apa nya di bandingkan lelaki yang dulunya pernah ada di hati Pipa.


Bima memarkirkan mobilnya di depan Toko Emas, kemudian ia turun dari mobilnya. Pipa dan Bubu pun menyusulnya dari belakang.


"Permisi, Mbak. Ada model gelang yang seperti ini, tidak?" tanya Bima.


Mbak itu pun melihat dengan seksama lalu menggelengkan kepalanya. "Maaf, Mas! Tidak ada."


"Kenapa bisa?" pertanyaan itu lolos dari mulut Bima membuat Pipa menahan tawa nya.

__ADS_1


Belum sempat pegawai Toko tersebut menjawab, seseorang datang dari arah belakang. "Ada apa ya?"


"Ini Bu, Mas nya mau beli gelang yang seperti di gambar. Itukan susah di dapatkan, Bu." Adu pegawai tersebut.


"Sebentar Mbak, tadi Mbak bilang susah kan? Mbak, susah itu bukan berarti tidak bisa sama sekali. Dia hanya butuh sedikit pengorbanan saja." Ujar Bima tiba-tiba.


Wanita itu tersenyum, "Mana fotonya, Mas?"


"Ini!"


Wanita itu kembali tersenyum, lalu memberikan kode kepada pegawainya agar pergi dari sana dan biarkan dirinya lah yang menjawabnya.


"Mas, Mbak ..., untuk saat ini gelang yang di foto tersebut tidak ada di tempat kami, akan tetapi jika Mbak dan Mas masih sabar menunggu, kami bisa pesankan dari pusat dan Mas bisa mengambilnya dua Minggu lagi."


"Dua Minggu?"


"Iya Mas, karena ini benar-benar langka. Bahkan terbitnya saja itu sudah setahun yang lalu. Tetapi, Mbaknya masih menyimpan gambar itu."


"Bagaimana, Mbak? kamu mau?" tanya Bima pada Pipa, kemudian Pipa mengangguk.


"Baiklah, Mbak. Kami akan menunggu. Tetapi, berapa uang bookingnya?"


"Untuk Mbak dan Mas saya kasih gratis. Anggap ini sebagai hadiah dari kami karena Mbak sudah menyimpannya. Oh iya, tolong catatkan nomor ponsel Mbak biar kami simpan untuk.mengabarkan ketika gelangnya sudah ready."

__ADS_1


Pipa tersenyum senang melihat Bima yang sudah berhasil di buatnya kesal itu. Ada yang bilang Siapa yang bersabar, dia lah yang beruntung.


__ADS_2