
Sesampai di depan gerbang...
"Assalamu'alaikum" ucap The guys.
"Waalaikumussalam." Jawab Gus Sakhi.
"Mas sudah lama di sini?" tanya Sasa.
"Tidak begitu lama kok," Jawabnya sambil tersenyum.
"Ekhm, Pak Dosen... disini masih ada kita loh." Celetuk Sapi tiba-tiba.
"Yang sopan atuh sama Pak Dosen," goda Patul.
"Iya nih, ganggu aja lu." Pipa tak mau kalah.
"Berisik loe, iri? buat bos. Hahahhaha!" Sahut Sasa yang membuat teman-temannya semakin kesal.
"Yaudalah, kami pergi aja. Kaya ngontrak kami disini, Yok guys!" sahut Sapi dan di anggukin oleh yang lainnya.
Setelah kepergian teman-temannya Gus Sakhi memberanikan diri untuk menggandeng tangan Sasa membuat sang empunya tersentak kaget.
"Astaghfirullah," gumam Sasa yang masih didengar oleh Gus Sakhi.
"Gak mau Mas gandeng?"
"Eh? bukan begitu mas, Sasa hanya kaget saja. Lagian mas gandengnya gak bilang dulu!"
"Ya sudah, yuk...."
Akhirnya Sasa mengangguk pasrah, banyak pasang mata yang melihatnya apalagi wajah Gus Sakhi yang begitu mirip dengan Gus Sakha. Ada yang memuji, ada juga yang heran dan berfikir jika orang yang menggandeng Sasa adalah Gus Sakha.
Mereka pun sampai di depan rumah Abah Kiyai, akan tetapi tidak ada orang di sana.
"Assalamu'alaikum"
Tak lama kemudian, Keluarlah Gus Sakha dan Patul.
"Waalaikumussalam"
__ADS_1
"Wah, kedatangan tamu jauh ternyata...," Ledek Gus Sakha.
"Baba, gak boleh gitu atuh." Ucap Patul membuat Gus Sakha langsung diam.
"Abah mana Tul?" tanya Sasa.
"Di dalam, ayo masuk biar aku panggilkan."
"Awas kamu!" Ancam Gus Sakhi pada Gus Sakha, sedangkan Gus Sakha hanya bisa cengar-cengir sedari tadi.
"Adam sama hawa mana?" Tanya Sasa yang tidak melihat si kembar dari tadi.
"Ada di kamar, sebentar biar ana bawa Adam." Sahut Gus Sakha yang langsung berdiri.
"Eits! ana juga mau gendong Hawa." Gus Sakhi tidak mau kalah.
"Iya kak, iya. Tapi masalahnya tangan ana juga cuma dua, susah buat gendong dua-duanya secara bersamaan." Protes Gus Sakha.
Tak lama kemudian, Abah datang dengan membawa Adam, sedangkan Hawa di pegang oleh Ummah.
"Assalamu'alaikum," salam Abah dan Ummah.
"Uuuh ternyata Adam sama Kakek ya?" ucap Sasa pada bayi yang digendong Abah.
"Ini nak, tadi kata Sakha kamu mau main sama Adam." Abah langsung memberikannya pada Sasa, bayi kecil itu pun langsung kegirangan saat di pelukan Sasa.
"Ada apa Nak Sakhi?"
"Begini Bah, Sakhi mau mengucapkan terima kasih karena Abah sudah membiarkan istri Sakhi untuk tinggal disini selama ini."
"Itu sudah menjadi kewajiban Abah, Nak."
"Tapi maaf Abah, mulai hari ini Sakhi boleh membawa Sasa untuk tinggal di rumah Sakhi kan?"
"Tidak boleh!" Tegas Abah membuat semuanya tersentak apalagi wajah Abah seketika berubah menjadi datar.
"Tapi Bah?"
"Tidak boleh jika rumah kamu tidak di depan pesantren ini."
__ADS_1
Ucapan Abah membuat semuanya menjadi lega, yang lain pada tertawa sedangkan Gus Sakhi terkejut mendengarnya.
"Abah tahu?"
"Tau atuh. Dasar anak nakal! Bisa-bisanya beli rumah teh tapi Abah nya gak dikasih tahu. Mau dikutuk kamu?"
"Di kutuk jadi apa Bah?" tanya Gus Sakha antusias.
"Jadi orang kaya! kamu juga, kakaknya di sumpahjn malah senang." omel Abah pada Gus Sakha.
"Oh iya, Shazfa. Apa barang kamu sudah pindah ke sana semua?" tanya Ummah tiba-tiba.
"Belum Ummah, rencananya hari ini mau pindahan."
"Ya sudah, nanti kamu minta aja beberapa santri untuk membantu kalian memindahkan barang kamu, jangan sungkan ya karena kalian adalah bagian dari keluarga ini."
"Iya ummah, makasih banyak."
"Kaya sama siapa aja kamu ini teh. Oh iya Sakhi gak mau gendong Hawa? tadi katanya mau main sama Hawa."
"Mau Ummah, tapi segan untuk minta sama Ummah."
"Dih, segan."
Tak lama kemudian, Abah dan Ummah pamit untuk pergi lagi, karena Abah ada panggilan ceramah di kampung sebelah dan Ummah selalu menemaninya.
Kini, tinggal Gus Sakhi dan Sasa, sedangkan Patul dan Gus Sakha masih berada di belakang.
"Humaira..."
"Iya Mas?"
"Kamu mau punya anak berapa?"
Uhukkkkk
Sasa langsung tersedak, pertanyaan suaminya seolah memintanya untuk cepat memiliki anak.
"Seberapa di kasih Allah aja mas," Sahut Sasa membuat Gus Sakhi tersenyum senang.
__ADS_1
Patul pun keluar dengan membawa minuman dan cemilan, sedangkan Gus Sakha masih mengambil kursi untuk tidur para Baby.