
Pagi yang mendung menghujani kawasan Pesantren Al Kausar. Gemercik hujan pun turun dibarengi dengan badainya angin membuat siapapun enggan untuk berpergian. Berbeda dengan Sapi yang saat ini sedang asik menikmati hujan.
"Pi, masuk yuk!" ajak Sasa melihat Sapi termenung di teras rumah.
"Kau aja lah, aku masih mau mandi hujan." Jawab Sapi ngasal.
"Mana ada mandi hujan di pinggir teras, ngaco loe!" protes Sasa.
"Masuk ajalah kau Sa, bumil gak boleh kedinginan." Sahut Sapi lagi.
Entah kenapa, mata Sapi tertuju pada seorang laki-laki yang baru saja masuk ke kawasan Pesantren. Lelaki itu mengendarai sepeda motor dan dirinya di balut dengan jas hujan.
Deg!
Jantung Sapi seakan berhenti, seperti mengenali siapa Lelaki di balik jas hujan tersebut. Sasa juga melirik ke arah penglihatan mata Sapi, dan betapa terkejutnya dia jika Sapi melihat Ustadz Ghibran sekarang.
Dengan cepat, Sasa masuk ke dalam rumah dan beritahukan semuanya pada Gus Sakhi, Pipa yang kebetulan melewati ruang tv dimana Gus Sakhi dan Gus Sakha berada pun juga ikut tersentak.
Prang!
Nampan yang di bawanya jatuh berhamburan, tentu saja gelas itu pada pecah semua.
__ADS_1
"Ma ....ksudnya?" Pipa terlihat gemetaran.
"Pipa!" pekik Sasa
"Gua gak salah dengar kan, Sa? lu hutang penjelasan sama gua!" kata Pipa setelah beberapa detik.
Sasa pun menceritakan semuanya, kini mereka semua pada iba melihatnya.
"Kita harus bantu Sapi, sekarang!" tegas Pipa membuat semuanya mengangguk setuju.
"Kalian suruh Safia masuk, biar ana yang panggil Ustadz Ghibran." Kata Gus Sakha.
Akhirnya mereka keluar rumah namun tak menemukan keberadaan Sapi.
Plak! Plak!
Sasa, Pipa dan Patul tersentak saat mendengar bunyi tamparan dari arah seberang, saat mereka menoleh ternyata sudah ada Sapi yang sedang menampar seorang Laki-laki.
"Jahat kau, Bang!" lirih Sapi.
"Maaf." Lelaki itu mengungkapkan kesalahannya dengan penyesalan yang amat dalam.
__ADS_1
"Kenapa menghilang? huh? setidaknya beri aku kepastian, Bang Ghibran! hati aku bukan batu yang bisa kebal kau gituin!" pekik Sapi.
Namun, belum lagi Ustadz Ghibran menyahutnya Sapi sudah terjatuh ke lantai. Untung saja, Pipa dengan sigap mengangkatnya.
"Patul, bantuin gua." Teriak Pipa, lalu saat Pipa melihat Sasa juga ikut datang ia kembali berteriak, "Sasa! lu di sana aja. Bahaya! Sebaiknya lu siapkan saja tempat untung Sapi baring."
Sasa mengangguk patuh, sedangkan Ustadz Ghibran hanya bisa menyaksikan saja karena untuk menolong Sapi ia dilarang oleh Pipa.
Setelah beberapa menit, Sapi pun tersadar dari pingsannya. Tetapi, sayangnya orang yang pertama kali ia lihat adalah Ustadz Ghibran.
"Hiks ... hiks ...." Sapi kembali menangis sekarang.
"Sapi, lu harus sabar. Istighfar!" ucap Pipa menenangkan.
"Pi, maafin gue kalau gue udah nyuruh loe kesini. Gue juga baru tahu kemarin, maafin gue." Sasa memeluk Sapi yang masih melemah.
"Kau gak salah, aku yang harusnya terima kasih sama mu. Kau benar, aku harus terima kenyataannya." Sahut Sapi.
Gus Sakhi mempersilahkan Ustadz Ghibran untuk menjelaskan semuanya pada Sapi, tentu saja hal itu membuat Sapi terkejut. Hujan di luar sana sudah mewakili rasa sakit di hatinya.
"Safia, tolong maafkan Abang. Abang juga nggak mau ini semua terjadi. Demi Allah, Abang di jebak." Ucap Ustadz Ghibran lagi, dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
__ADS_1
Sapi menatap lekat manik mata Ustadz Ghibran yang terlihat tulus itu. Bahkan juga terpancarkan kesakitan di dalam sana. "Iya, aku maafkan." Ucapnya pelan.
Apa lagi yang harus di lakukan nya selain memaafkan? marah pun ia tak berhak lagi. Menyalahkan takdir adalah kesalahan terbesarnya. Hanya bisa pasrah dan menerima kenyataan itu adalah wujud pendewasaan.