
"Nak ... pernikahan itu bukan main-main." Ucap Gus Sakhi setelah mendengar cerita dari anaknya.
"Fakhi paham, Dad. Itu sebabnya Fakhi tidak menerima perjodohan itu."
"Bagaimana dengan istrimu? dia sangat menginginkan kamu mempunyai anak."
"Dad, kita bisa adopsi anak."
"Bicarakan baik-baik pada Nasya. Hati wanita susah di tebak!" Gus Sakhi menepuk punggung Fakhi terlebih dahulu sebelum ia pergi meninggalkan Fakhi yang butuh waktu sendiri.
***
Semua orang sudah berkumpul di ruangan rawat Nasya. Wanita itu sudah sadarkan diri, ia ingin mengatakan sesuatu dan di dengar oleh seluruh orang. Pipa juga sudah hadir disana, ia menangis sesenggukan melihat anak satu-satunya terbaring lemah tak berdaya. Penyakit yang di rahasiakan Nasya membuat semua orang menangis, apa lagi Adam yang kini bersandar di balik tembok. Ia menjauhkan diri dari semua orang untuk menenangkan dirinya.
"Kak Adam, kenapa nggak masuk?" suara bariton itu mengagetkan Adam.
"Fakhi, kamu dari mana saja?" Adam menghapus air matanya yang sempat tumpah.
"Dari taman, ya sudah Fakhi masuk dulu."
'Ceklek!
Semua mata tertuju pada Fakhi, bahkan sisa air mata masih ada disana. Fakhi menghampiri mertuanya yang baru saja sampai. "Bunda, Ayah." Fakhi mencium takzim punggung tangan Pipa dan Bima.
__ADS_1
"Mas ..." panggil Nasya dengan napas yang mulai sudah ia kendalikan.
"Ada apa, Sayang? apa ada yang sakit?"
Nasya menggelengkan kepalanya, lalu Mommy Sasa menghampiri putra sulungnya. "Tadi kata dokter Nasya harus segera di operasi. Kalian harus menandatangani surat ini!" Mommy memberikan selembar kertas pada Fakhi.
Tanpa menunggu lama, Fakhi langsung menandatangi surat tersebut. Beda hal dengan Nasya, wanita itu enggan mengambil pena yang berada di tangan Fakhi. "Sya, ada apa dengan kamu?"
"Sya nggak mau tanda tangan kalau Mas nggak penuhi permintaan Sya."
"Kamu mau minta apa? Mas akan kabulkan, Insya Allah jika Mas mampu."
"Sya mau Mas menikah dengan Maryam."
"Kecuali itu Sya. Mas nggak bisa penuhin!" tolak Fakhi langsung.
"Dan Sya nggak mau tanda tangan."
"Nasya, apa yang kamu katakan? bagaimana mungkin kamu menyuruh suami kamu menikah dengan sahabat kamu sendiri?" Mommy berusaha tenang dan memberikan pengarahan pada menantunya itu.
"Iya sayang, Bunda juga tidak setuju. Memiliki madu itu bukan hal yang mudah, Nasya!"
"Tapi ini sudah menjadi keputusan Nasya."
__ADS_1
"Apa benar ini keputusan kamu, Nasya?" tanya Fakhi dengan suara meninggi.
Nasya mengangguk dengan cepat, "Insya Allah, Sya ridho."
"Apa kamu tidak menyesal nantinya? hm? Apa kamu paham aturan dalam poligami menurut syariat Islam? apa kamu sanggup melihat suami kamu berbagi malam dengan wanita lain? apa kamu sudah mikir sampai situ Annasya?"
"Hiks ... hiks ...."
"Jawab, Nasya! bukan tangisan yang Mas butuhkan saat ini."
"Iya!" tanpa pikir panjang Nasya menjawabnya dengan lantang. Tangisan orang tua semakin menjadi saat ini.
"Cepat tanda tangan, Mas akan menikahinya!"
'Deg!
"Fakhi!" teriak Pipa, Sasa dan Sapi.
"Maafin Fakhi Mommy, Bunda, Bubu ... tapi ini permintaan Nasya, dan dia sudah memikirkan ini sebelumnya."
"Sya mau pernikahan itu dilaksanakan sekarang, sebelum Sya menandatangani surat ini."
"APA?"
__ADS_1
"Kamu mengatur suamimu sekarang? baiklah, terserah. Panggil sahabatmu itu, Mas akan menikahinya sekarang, didepan kamu dan orang tua kita!" Fakhi sudah terlihat geram.