
"Bu...bukan begitu Abi. Ta----tapi apa itu tidak, terlalu cepat?"
"Nak, Papa setuju dengan abi untuk menghindari hal-hal yang tidak di inginkan." Saran Papa.
"Kalau kamu bagaimana, Sakhi?" tanya Abi
"Ana setuju saja, Bi..." jawab Gus Sakhi membuat pipi merah Sasa semakin menjadi.
"Kalau kamu Shazfa?"
"I----iya, se--setuju..." gelagapan Sasa.
"Alhamdulillah." Sorak semuanya membuat Sasa dan Gus Sakhi salah tingkah.
Setelah itu, Mama mengajak semuanya untuk makan. Perjalanan menuju rumah Sasa itu juga menyita waktu yang lumayan lama pastinya keluarga Gus Sakhi merasa lapar sejak tadi.
Ruang makan mereka berhadapan dengan Taman, sangat dekat dan Sasa memilih makan di sana.
Tak lama kemudian muncul seorang lelaki yang sejak tadi mengganggu pikirannya.
ekhemm
Deheman itu membuat Sasa terkesiap, baru saja ia memikirkannya eh wujudnya malah sudah ada di depan mata, pikirnya.
"Boleh saya duduk di depan kamu?"
Sasa ingin sekali menjawab tidak, karena kecanggungan ini membuatnya gak nafsu makan pikirnya.
"Silahkan Gus." singkatnya tanpa melihat wajah Gus Sakhi.
"Jangan panggil Gus dong." Protesnya.
Sasa terkesiap "Hah?"
"Jangan panggil kakak juga, hmmmm... Panggil saja Mas."
__ADS_1
"Hah?" beo nya lagi.
Gus Sakhi terkikik geli melihat calon istrinya itu 'Untung saja belum halal' gumamnya.
"Ba--baik Gus, eh Mas." gagap Sasa menahan malunya.
Ini berbeda, gumamnya. Ya, Sasa merasakan perbedaan saat bertemu dengan Gus Sakha dan Gus Sakhi. Pertemuan dengan Gus Sakha di awali dengan perdebatan, dan lama-kelamaan menjadi kagum. Sedangkan Gus Sakhi awalnya karena ketidaksengajaan dan kini dengan beraninya ia datang menemui Sasa secara langsung dengan cara yang paling baik menurut Sasa.
Getaran itu langsung ada saat berhadapan dengan Gus Sakhi, apalagi lelaki ini memiliki lesung pipi yang membuat Sasa semakin merasakan kegugupan.
"Setelah menikah, apa kamu masih mengajar di Pesantren Abah?"
"Apa Gus, eh Mas ridho? jika mas ridho Sasa akan tetap bekerja di sana."
"Sasa?" Goda Gus Sakhi
"Maaf, tapi sudah terbiasa karena teman-teman memanggilnya begitu."
"Bukan gitu" sergah Gus Sakhi.
"Lalu?" Kali ini Sasa yang bingung.
"Eh, mas tahu?"
Gus Sakhi mengangguk "Semuanya, maaf karena mas mencari tahu kamu dulu sebelum datang ke sini."
"Kenapa mas memaklumi semuanya? termasuk...," Sasa memang takut jika calon suaminya ini marah ketika tahu masa lalunya belakangan.
"Kenapa saya harus marah? Cinta itu hal yang lumrah menurut saya. Kita gak bisa milih kepada siapa kita jatuh hati. Setelah apa yang kamu lewati, saya bangga sama kamu."
Deg!
Penuturan yang begitu lembut namun terkesan tegas membuat Sasa semakin nyaman di buatnya.
"Terima Kasih" singkat Sasa.
__ADS_1
"Saya tidak akan melarang kamu untuk bekerja di sana, dan di mana pun kamu mau. Tapi untuk tinggal, maaf saya keberatan jika kita tinggal di sana. Karena saya sudah membelikan rumah untuk kita tinggal dekat dengan pesantren Abah, bagaimana?"
"Serius?" mata Sasa membulat sempurna.
"Jika saya tidak serius, saya tidak ada di sini, Humaira..."
Blushhhh
Humaira memang namanya, tetapi pikiran Sasa langsung melayang ketika di panggil seperti itu. Apalagi belum ada yang memanggilnya itu sebelumnya.
"Humaira?" beo nya. Tetapi Gus Sakhi tidak menjawabnya, ia hanya tersenyum.
"Ya sudah, saya boleh minta nomor ponselkamu?" tanya Gus Sakhi dan Sasa mengangguk.
Gus Sakhi mengambil ponselnya kemudian memberikannya pada Shazfa. Karena mereka hanya saling bertukar pesan melalui sosial media, kemarin.
🌼🌸🌼
Dua hari berlalu,
Sasa kembali ke Pesantren Abah, tentu saja mengundang banyak pertanyaan dari The guys.
"Micin!!!!" teriak mereka saat melihat Sasa masuk ke halaman pesantren.
Sasa terkesiap, lalu ia menggelengkan kepalanya.
"Berisik!" ketus Sasa
"Sasa Marisa, hei hei" goda The Guys seperti menyanyikan lagu yel-yel.
"Apa sih!"
"Gimana? gimana?" tanya Sapi
"Gimana apanya? gue baru sampai sudah di sodorkan pertanyaan aja. Gak malu tuh sama status yang sudah jadi guru? malah teriak-teriak segala lagi!" omel Sasa
__ADS_1
"Jangan gitu atuh sama calon kakak ipar aku!" goda Patul membuat Sasa membulatkan matanya, beda halnya dengan Sapi dan Pipa.
"Maksudnya?" ucap mereka serempak .