
"Sa....." Lirih Ustadz Sakha dan Patul
Sebisa mungkin dan sekuat mungkin Sasa menguatkan hatinya, memaksakan senyuman indah yang harus terlukis disana. Hatinya begitu rapuh namun ego-nya harus ia kubur saat ini. Melihat dua orang yang ia sayangi kini menjadi sepasang kekasih adalah kesakitan yang paling indah menurutnya.
Sasa tersenyum dan menatap mereka secara bergantian "Selamat ya Gus, Tul. Barakallahu Laka wa baroka alaika wa jama'a bainakuma fii Khair. Bahagia selalu"
Sasa memeluk Patul, kini tangis keduanya pecah. Sasa membiarkan air mata itu lolos begitu saja, karena ia sudah tak dapat membendung lagi.
"Maaf" lirih Ustadz Sakha membuat Sasa dan Patul merenggangkan pelukannya.
"Untuk apa Gus?" tanya Sasa heran, ya kini Sasa dan yang lainnya memanggil Ustadz Sakha adalah Gus, biar lebih formal menurut mereka.
"Untuk semua, untuk semua yang terjadi. dan terima kasih juga untuk semua nya. Mungkin takdir kita hanya sampai saling mengenal, ana yakin jodoh kamu akan lebih baik dari ana, ya semoga disegerakan , aamiin" ucap Ustadz Sakha yang membuat Sasa ingin menangis lagi.
"Aamiin. Terimakasih atas do'a nya." ujar Sasa singkat .
"Oh iya Tul, kami sekalian pamit pulang ya?"celetuk Sapi membuat Patul dan Sakha mengerutkan dahinya.
"Eh tapi kan ini sudah malam, nginap dulu atuh"
"Gak bisa Tul, kami harus pulang" sahut Pipa namun tiba-tiba
"Berisitirahat lah disini neng, ummah sama Abah gak mengizinkan kalian pulang tengah malam begini" terdengar suara bariton yang menegangkan.
Mereka langsung melihat ke sumber suara "I----iya bah" sahut mereka kompak.
***
Acara pun usai, ternyata Patul tidak tidur di kamar nya. Ada sebuah kamar yang sudah di persiapkan dengan matang oleh Ummah dan Abah untuk sepasang kekasih halal ini, namun jika Patul ingin balik ke kamarnya itu hanya jika ia bersama teman-temannya saja di kamar itu.
ceklek
__ADS_1
"Assalamu'alaikum" ucap Patul saat masuk ke kamar, di mana sudah ada sang suami yang sudah siap membersihkan dirinya.
"Waalaikumussalam" sahut Gus Sakha.
"Maaf A' tadi neng ke kamar neng yang lama dulu mau ambil baju" ucap Patul sambil menunduk
"Iya, gak apa-apa. Sekarang kamu mandi dulu, bersihkan diri kamu. Pasti kamu lelah " sahut Gus Sakha.
Tanpa pikir panjang, Patul masuk ke kamar mandi dan terdengar suara gemericik air disana.
ceklek
Patul keluar kamar memakai piyama panjang dan tak lupa dengan hijabnya. Ia masih canggung jika satu kamar dengan seorang lelaki maka dari itu ia masih memakai hijabnya.
Gus Sakha tersenyum "Apa Neng bakal tidur dengan hijab itu? apa neng tidak gerah?"
"Anu, itu A' anu.... itu" ucap Patul gelagapan
Tanpa menunggu jawaban, Gus Sakha sudah berhasil melepaskannya , lalu senyum melukiskan wajahnya "cantik" gumamnya.
Keduanya sama-sama menunduk karena malu.
ekhem
deheman itu membuat keduanya menjadi salah tingkah.
"Ayo neng, tidur" ucap Gus Sakha lalu keduanya baring di tempat tidur, dimana masing-masing tidur dipinggir, bantal guling lah yang menjadi penengah mereka.
Sementara di tempat lain, ada seseorang yang sedang tidak bisa tidur, siapa lagi kalau bukan Sasa micin.
Ia menatap lurus mengarah jendela, entah pikiran apa yang menghantuinya.
__ADS_1
"Sa, udah dong melamun nya, tidur yuk" ujar Pipa, sedangkan Sapi sudah di alam mimpinya.
"Gue--- gue masih belum bisa tidur"
"Loe masih kepikiran sama Patul dan Gus Sakha?"
"Husst jangan ngawur Pa, gue sudah ikhlas lahir batin"
"Terus lu kenapa ga bisa tidur?"
"Gue juga gak tahu kenapa, gue sholat Sunnah dulu aja kali ya?" Kata Sasa sambil pergi mengambil wudhu.
Keesokan harinya, semua sudah pada ngumpul di meja makan, sungguh hanya kecanggungan yang terlihat. Setelah itu, Patul dan teman-temannya Pamit untuk pergi ke kampus.
"A' , neng ke kampus dulu ya" sambil menyalim tangan suaminya. lalu ia juga pamit kepada kedua orang tuanya. Sedangkan Gus Fathan saat ini sudah berada di kelas untuk mengajar.
"Iya neng, Hati-hati" ucap Gus Sakha sambil tersenyum.
Sementara ketiga sahabat Patul sudah pamit terlebih dahulu kepada kedua orangtuanya Patul, lalu berdiri di depan Gus Sakha "kami pergi ya Gus "
"Iya, kalian hati-hati " jawab Gus Sakha.
Sebelum sampai ke kampus, mereka pergi ke kost-kostan mereka untuk menaruh barang-barang mereka.
Patul tampak murung saat melihat sahabatnya meletakkan barangnya, Sasa yang menyadari itu langsung menghampiri Patul "Loe kenapa?"
Patul terkejut dan langsung menggeleng "Aku gak apa-apa kok"
"Bohong, kita ini sahabatan Tul, loe harus cerita apapun sama kita"
"Aku cuma kepikiran apa kalian masih mau datang kerumah ku?"
__ADS_1