Begitulah Takdir

Begitulah Takdir
Antara Gus Sakhi dan Ratih


__ADS_3

Bukankah cinta seharusnya menuntun pada kejujuran? Terkadang jujur memang sulit di ungkapkan, tetapi dia dapat membawa ketenangan. Tanpa di sadari, kejujuran itu adalah kesederhanaan yang paling mewah. Di dalam Al-Qur'an juga di jelaskan bahwa 'hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan hendaklah kalian beserta orang-orang yang jujur.'


Kembali lagi pada Sasa yang kini moodnya sudah balik ke semula. Annasya sekarang sudah akrab kembali dengan Hawa. Begitu juga dengan Adam yang kini suka bermain dengan Mevlan. Sedangkan Fakhi juga kembali cuek, dia hanya mau bermain dengan Adam ataupun Mevlan.


"Sudah mau sore, ayo kita pulang. Kasihan kakek sendirian di rumah." Seru Gus Sakha, mereka baru ingat jika Kakek pasti menunggu mereka di rumah.


"Astaghfirullah, bisa kali bah kita lupa sama Kakek. Ya sudah, yok lah pulang. Pipa, kau jaga dulu si Mevlan ya, biar aku saja yang bereskan tempatnya." Sahut Sapi, karena Sapi juga tahu kalau Pipa saat ini juga sedang hamil muda.


"Ya sudah atuh, kalian ke pondok sebelah sana saja dulu duduknya. Biar aku bantu Sapi!" Patul menawarkan diri.


"Alah, nggak udahlah Tul, anak kau banyak kali itu, belum lagi si Zahra tuh lagi tidur, sudah 'lah kalian kesana aja dulu." Cegah Sapi.


Akhirnya semua mengangguk patuh, tak butuh waktu lama bagi Sapi membereskan tempatnya. Ali juga membantu istrinya saat ini. "Sudah, Yok!" Kata Sapi setelah beberapa saat.


Mereka pun pergi dari tempat itu, kebetulan jalannya mendaki membuat Sasa sedikit kesusahan berjalan. Bahkan, Gus Sakhi saat ini pun membantunya dengan cara mendorong Sasa dengan pelan dari belakang. "Mas gendong aja ya, Sayang?" Gus Sakhi terlihat kasihan melihat istrinya itu.


"Nggak usah, Mas. Nanti sampai atas kita cari warung saja, Sasa haus." Tolak Sasa.


"Ya sudah, kamu hati-hati naiknya, kalau capek biar kita berhenti dulu, duduk." Sahut Gus Sakhi.


"Daddy, duduk di sana saja!" Fakhi menunjuk sebuah warung yang sedikit jauh dari tempat mereka.

__ADS_1


"Iya, nanti kita kesana ya." Ucap Gus Sakhi dengan halus.


Setelah beberapa menit, akhirnya mereka sudah sampai di atas, Semua juga sepakat untuk duduk di sebuah warung yang terletak tidak jauh dari tempat mereka sekarang.


"Assalamu'alaikum, Permisi." Gus Sakha sedikit teriak memanggil pemilik warung yang saat ini tidak ada disana.


Tak lama kemudian, pemiliknya pun keluar dengan tergopoh-gopoh. Rupanya beliau sedang memasak dii dapur. "Iya, cari apa ya?"


"Kami pesan teh manis hangatnya 5, dinginnya 5 juga ya." Sahut Bima.


"Baik, Mas. Di tunggu sebentar ya ..." Sahut wanita itu.


Sementara Gus Sakhi saat ini sedang menemani Sasa duduk dan menjaga anak-anak.


"Kamu?" Ucap Sasa dan Pipa barengan saat melihat siapa penjual tersebut.


"Loh? Mbak kan yang tadi, Ya?" Sahut wanita itu.


"Iya, kamu Ratih, kan?" Ucap Sasa membuat lelaki di sebelahnya tersentak kaget.


Gus Sakhi membalikkan badannya, dan ....

__ADS_1


Deg!


Pandangan keduanya bertemu, begitu juga dengan Gus Sakha yang mengenali wanita tersebut.


"Ka ... Kamu?" Ratih gelagapan saking gugupnya.


"Alamat berantam lagi ni," gumam Gus Sakha yang masih di dengar oleh Patul.


"Ada apa, Bi?" Bisik Patul.


"Lihat saja nanti, Mi. Apa yang terjadi, Sayang." jawab Gus Sakha, ia bukan tidak mau menjelaskan, tetapi ia merasa ini bukan urusannya.


"Kalian sudah saling kenal?" Sasa membuat Gus Sakhi menggarukkan tengkuknya, sedangkan Ratih menjadi salah tingkah.


"Hm, itu ..." Gus Sakhi bingung menjelaskannya.


πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”


Waduh, apa hubungannya ya Ratih dengan Gus Sakhi? ada yang tahu nggak? yuk tebak-tebak buah manggis🀣


Oh iya, dukung othor terus ya, Kak❀️

__ADS_1


Ngomong-ngomong nih, othor juga punya rekomendasi lagi nih, cekidotπŸ‘‡



__ADS_2