
"Micin!!!" pekik Sapi dari kejauhan
Sasa berdengus kesal karena sahabatnya yang satu ini selalu saja mengganggunya.
"Micin! ih kau ya, di panggilin juga.!"
"Apasih Sapiiiiiii!"
"Kau lagi galau kan? ngaku aja samaku. Ketahuan kali kalau kau galau"
"Berisik! pelan dikit suara loe itu ih"
"Maaf, tapi betul kan?"
"Tauk ah"
jrenggggggg
Sasa kembali memetik gitarnya namun terhenti saat Sapi mengambil gitar itu kemudian meletakkannya ke samping kirinya.
"Sabar ya, aku tahu apa yang kau rasakan" Sapi sambil memeluk Sasa .
"Makasih Pi, Apa gue salah ya?"
"Kau gak salah, kalau mau nangis silahkan. Tapi kau harus janji sama ku jangan kau tangiskan lagi orang yang sudah punya kebahagiaan nya sendiri"
"Gue jahat ya sama Patul?"
"Enggak! gak ada yang salah dan gak ada yang jahat. Kau sama Patul dan Gus Sakha itu hanya korban dari takdir . Yang penting sekarang gimana caranya biar kau bisa sembuhin hati kau. Ingat Sa, kau berhak bahagia!"
🌸🌸🌸
Hari berganti, kini Sasa dan yang lainnya ikut mengajar untuk mengabdi di pesantren Abah. Bukan gak mungkin jika setiap harinya Sasa melihat Gus Sakha di lingkungan ini . Menelan pil pahit itu memang pahit tapi ya bagaimana lagi?
Huekkkkk huekkkkk
"Loe kenapaTul?"
"Gak papa kok, huekkkkk ... Maaf, tapi aku ke kamar mandi dulu ya"
"Patul kenapa?" tanya Pipa yang baru datang
"Gue gak tahu, tiba-tiba aja pusing kepalanya terus muntah"
TOK TOK TOK
"Tul, loe gak apa-apa kan?"
"Iya Tul, apa kami panggilin Gus Sakha aja?"
"Tul jawab dong"
"Tul jangan buat panik ih gak seru"
"Lu kira main game pake seru?"
"Yeee itu sih elo suka main game"
"Seru itu setelah koma gak?"
__ADS_1
Begitulah kepanikan semuanya, sampai akhirnya...
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikumussalam." Ketiga nya lalu menoleh . Kemudian, "Gus Sakha? Wah kebetulan ini"
Gus Sakha mengerutkan alisnya "Ada apa memangnya?"
"Patul Gus" jawab Sapi
"Lila kenapa?" tanya Gus Sakha lagi
"Patul" kata Sapi lagi
"Loe ngomong apa sih Pi?" Kesal Sasa, lalu ia melihat Gus Sakha "Ini loh Gus, tadi Patul kepalanya pusing terus tiba-tiba mual, Sekarang dia di dalam." Terang Sasa sambil menunjuk kamar mandi.
Gus Sakha terlihat panik sekali membuat Sasa sedikit meringis sebenarnya. Tapi apa haknya?.
Gus Sakha mendobrak pintu kamar mandi khusus Ustadzah itu, tak perduli lagi banyak mata yang sedang melihatnya.
Benar saja, Patul begitu lemas sekarang dan hanya bisa duduk sambil menyenderkan kepalanya di dinding
"Astaghfirullah" pekik The guys dan Ustadz Sakha
"Ya Allah, Neng..." panik Gus Sakha sambil menggendong Patul dan membawanya menuju rumah Abah.
"Tunggu!" panggil Sasa
"Ada apa?."
"Kita ke Rumah Sakit sekarang, biar gue yang nyetir." ucap Sasa
Gus Sakha mengangguk dan kini ia sudah meletakkan Patul di bangku tengah, lalu berlari ke bagian supir .
"Biar ana saja yang nyetir"
Sasa menolak "Jangan, biar gue aja . Gus Sakha lagi panik dan nyawa cuma satu! Udah, jangan banyak berdebat, sekarang sebaiknya Gus di belakang temanin Patul."
"Terimakasih Shazfa"
"Sama-sama"
"Sa, kami ikut ya?" pinta Sapi dan Sasa mengangguk.
Butuh waktu hampir setengah jam mereka di jalan, Patul masih sadar walaupun badannya kini sangat lemas karena muntah terus dari tadi.
Kini Patul sedang di tangani oleh dokter sedangkan yang lain menunggunya di luar.
Gus Sakha dari tadi terus berzikir sambil jalan kesana-kemari.
"Gus , mohon maaf ni... Duduk aja Napa? pening palaku (kepala ku) kaya gosokkan aja pun" celetuk Sapi.
"Sapi!" tegur kami .
"Maaf" lirihnya.
"Loe sih" ucap Sasa pelan sambil menyenggol lengan Sapi.
Sasa mendekati Gus Sakha dan mencoba untuk menenangkan nya.
__ADS_1
"Gus, Patul akan baik-baik saja. Jangan begini, Istighfar"
"Maaf dek, tapi Lila...? Ah, Abang gak tahu kenapa Abang sepanik ini, astaghfirullah"
deg!
Disaat seperti ini pun Sasa masih deg-degan saat Gus Sakha berbicara seperti itu, Panggilan itu mengingatkannya dengan masa suram itu.
"Astaghfirullah, maaf Shazfa. Ana khilaf!" kata Gus Sakha setelah menyadari kesalahannya.
"Iya gak masalah"
ceklek
"Pak Sakha?" panggil dokter itu.
"Iya dok? Bagaimana keadaan isteri saya dok? Apa ada yang berbahaya? atau-----"
"Tenanglah Pak, isteri bapak baik-baik saja" Potong dokter sambil tersenyum.
"Maksud dokter? baik gimana dok? jelas tadi dia muntah-muntah dan sampai lemas begitu"
"Selamat ya Pak" sahut dokter itu dengan tersenyum membuat yang lain menjadi bingung.
"Dok isteri saya sedang terbaring lemah kenapa dibilang selamat?" potong Gus Sakha
"Astaghfirullah, Gus Sakha bisa diam gak?" kali ini yang ngomong adalah Pipa.
"Iya Gus, biarkan dulu dokternya menjelaskan" sahut Sasa .
"Silahkan, dok."
"Selamat karena Ibu Fathulila saat ini sedang mengandung dan jika ingin lebih jelasnya mari ikut saya, kita lihat bersama-sama."
"Apa dok?" beo semuanya
"Kenapa?" tanya dokternya bingung
"Hamil dok?" ucap mereka lagi tak percaya , lalu sedetik kemudian...
"Alhamdulillah" ucap mereka, sedangkan dokternya hanya menggelengkan kepalanya.
Mereka masuk ke dalam ruangan dan melihat Patul yang sedang baring disana. Senyuman mengembang terlukis disana apalagi sekarang Gus Sakha sedang memeluk Isterinya dan tentu membuat Sasa lagi-lagi meringis sendiri.
Dokter mulai mengoles gel ke perut Patul dan menggerakkan benda yang Author gak tahu namanya apa itu ke perut Patul.
Terlihat lah gambar abstrak dari layar, entah apa artinya itu hanya dokter yang tahu.
"Bagaimana dok?"
"Bisa kalian lihat disini, ada dua titik hitam didalam nya dan itu artinya isteri anda sedang mengandung anak kembar."
"Alhamdulillah" sahut semuanya.
"Selamat Tul" ucap The Guys dan Patul senyum.
"Tapi kok bisa ya kembar? Kelen kan gak program kan ya?" Celetuk Patul.
"Apa di antara keluarga kalian ada yang kembar?" Tanya dokter
__ADS_1
"Sa----saya dok" ucap Gus Sakha
"Apa??????" kali ini yang kaget adalah The guys. Pasalnya tak ada yang tahu diantara mereka terutama Sasa . Sedangkan Patul tertawa melihat ekspresi teman-temannya itu..