
Pipa baru saja selesai ngajar dan bertepatan dengan itu Bima meneleponnya.
"Huh dasar bocah!" kesalnya namun ia juga tersenyum disaat yang bersamaan.
In call๐ผ
"Halo! Ada apa sih? Ganggu aja!"
"Astaghfirullah, salam dulu kali Mbak."
"Ya sudah, kamu aja."
"Assalamu'alaikum"
"Waalaikumussalam, cepat katakan! waktumu hanya 15 menit dari sekarang."
"15 menit Mbak? Wah kelamaan tuh!"
Pipa melihat jam tangannya "Sudah berkurang dua menit!"
"Waduh, ya sudah! Aku tunggu di depan ya Mbak, Bubu nyariin. Gak terima penolakan, Assalamu'alaikum"
Tut, off call๐ผ
'Waalaikumussalam, ughhh dasar bocah!' kesalnya.
Pipa berjalan ke depan, jika ia terlambat sedikit saja bocah itu pasti menelponnya sepanjang malam. Bocah itu memang terlihat Ngeselin tapi sesungguhnya bocah itu lah yang banyak menanamkan kebahagiaan di hati Pipa.
Saking terburu-burunya ia berjalan Pipa hampir saja menabrak seseorang apalagi dia berjalan sambil melihat ponselnya.
"Astaghfirullah," gumam keduanya .
"Assalamu'alaikum Neng"
"Waalaikumussalam"
"Mau kemana? kenapa buru-buru?"
"Ke suatu tempat dan bukan urusan Gus Fathan"
"Maaf kalau begitu"
Pipa mengangguk "Boleh saya pergi sekarang?"
"Neng, tunggu!"
"Maaf Gus, tapi jangan panggil Neng lagi. Panggil nama saja."
"Oh iya, maaf."
"Kamu sudah banyak berubah ya"
"Alhamdulillah, Saya begini juga karena seseorang. Menelan pil pahit membuat Saya lebih waras lagi setidaknya Saya tak ingin jatuh di lubang yang sama."
"Neng, maaf"
"Gus! Sudah berapa kali minta maaf? Yang lalu biarlah berlalu. Gus juga sudah punya kehidupan baru, begitupun dengan Saya!"
"Aa' masih mencintaimu Neng"
Langkah Pipa terhenti, kata-kata itu sudah tak ingin lagi ia dengar tapi kenapa takdir mengatakan hal yang berbeda?.
"Neng, Apa aa terlambat ya? Aa' gak bisa memperbaiki kesalahan aa?"
"Astaghfirullah Gus! katanya paham agama tapi yang kaya gini saja tidak mengerti juga. Sebaiknya Gus Fathan banyak belajar lagi dari Ummah dan Abah atau dari iparnya Gus sendiri."
__ADS_1
"Tapi ana hanya mengikuti jalannya wasiat, jika ana tidak menikahinya maka suaminya tidak akan mau untuk operasi. Apa ana salah?" dengan nada sedikit tinggi.
"Sekarang gua tanya, siapa yang menyalahkan anda, Gus Fathan?"
"Terus kenapa Neng membatalkan pernikahan kita?"
"Itu masalah prinsip. Gua sudah bilang gak mau jadi madu dan sebaiknya gua jadi racun untuk diri gua sendiri. Itu artinya, daripada gua di madu atau menjadi madu lebih baik gua yang mundur sendiri. Gua wanita Gus! Gua gak Ridho berbagi." Tak terasa Air mata Pipa mengalir.
"Tapi----" Ucap Gus Fathan terpotong
"Eh sayang, di cariin juga dari tadi ternyata kamu disini toh?" suara bariton itu mengagetkan Pipa dan Gus Fathan.
"Sayang?" beo Pipa dan Gus Fathan
"Iya, aku tuh nungguin kamu di luar, eh ternyata Kamu lagi sibuk disini, ya sudah yuk ... Bubu nungguin!" kata Bima sambil mengedipkan mata.
Pipa mengikuti langkah Bima tanpa mengucapkan salam, sedangkan Gus Fathan sedang terbakar api cemburunya.
๐ผ๐ผ๐ผ
"Kamu tuh apa-apaan sih Bim?" protes Pipa saat di dalam mobil.
"Maaf Mbak, Aku cuma nolongin Mbak agar bebas dari lelaki itu."
"Ya tapi gak bilang sayang juga kali Bim"
"Memangnya kenapa Mbak? wong aku emang sayang sama Mbak!"
"Eh gimana-gimana?"
Pipa memang tidak fokus mendengarkannya, sedangkan Bima terlihat salah tingkah sekarang.
Bima tak menjawab dan terus melajukan mobilnya hingga sampai di sebuah toko emas.
"Ngapain kesini?" tanya Pipa.
"Bubu Ulang Tahun?"
Bima mengangguk .
Akhirnya mereka masuk ke toko emas tersebut, Pipa dengan senang hati memilihkan barang yang akan dijadikan hadiah tersebut.
"Memang kamu mau beli apa sih Bim?"
"Pengennya sih gelang, tapi kayanya kalung saja deh"
Pipa mengangguk "Mbak, bisa lihat kalung yang dipojok sana?"
"Bisa Mbak, sebentar ya!" sahut Mbak nya dan memberikannya kepada Pipa.
"Ini bagus Bim, mau ini gak? atau pilih yang lain?"
"Iya ya Mbak, bagus...! Terlihat simple tapi manis gitu, oke lah itu aja Mbak."
"Mbak, Kami mau yang ini ya" kata Pipa sama penjual tersebut.
Tiba-tiba Bima pergi ke tempat cincin, ia mengambil satu cincin dan memberikannya pada Pipa agar di pakai Pipa.
"Coba bentar Mbak!" ucap Bima.
"Hah? Oh iya..." kata Pipa sambil mengangguk patuh.
"Bagus ya Mbak? Cantik!" kata Bima dan Pipa mengangguk.
"Mbak, Kami mau ambil yang ini juga" ucap Bima pada penjualnya.
__ADS_1
Sedangkan Pipa tak banyak tanya, dia hanya diam saja sambil diam-diam mengagumi bocah yang sudah mewarnai harinya.
'Bagaimana bisa aku menyukainya?' gumam Pipa.
"Mbak?" Sapa Bima pada Pipa
"Hmm?"
"Mau makan dulu atau lanjut?"
"Lanjut? masih mau pergi lagi?"
"Aku mau booking tempat dan lebih tepatnya sih aku booking kamu Mbak untuk hari ini."
Plakkkkkk
"Aw! Astaghfirullah Mbak"
"Maksud kamu apa? jangan buat ambigu ya, Bima!"
Pletakkkk
"Makanya, punya pikiran tuh jangan negatif terus!" sahut Bima saat Pipa berdengus kesal.
"Aku mau booking cafe untuk ngadain syukuran Ulang Tahun Bubu, dan setelah itu beli kue dan baju buat bubu... Tugas kamu, temanin aku!"
"Dihhh, duralek kamu nyuruh yang lebih tua."
"Gapapa aku lebih muda, suatu saat aku pasti di tua kan."
"Maksudnya?"
"Hmm pikir aja sendiri, Wleeee!"
"Dasar bocah!"
Sudah hampir tiga jam mereka keliling kota sambil memesan tempat dan apapun itu untuk kejutan Sang Bubu nanti.
Tiba lah mereka di sebuah Butik Syariah, Gamis-gamis yang terpajang disana sangat bagus dan indah. Ingin rasanya Pipa membelinya semua, tapi gajinya tak mampu menampungnya. Ya, walaupun masih ada tabungan yang selalu diberikan Bunda dan Ayah.
"Mbak, yang ini cocok gak untuk bubu?" Sambil menunjukkan sebuah gamis berwarna kuning cerah itu.
"Gak! selera kamu payah banget sih Bim. Sebentar, biar aku bantu cari." sahut Pipa sementara Bima tersenyum puas melihat Pipa.
"Nah, ini bagus!"
"Fix ya Mbak?"
"Iya, Sudahkan? yuk lah, kita belum sholat Ashar."
"Astaghfirullah, iya Mbak maaf Aku lupa. Tapi bentar Mbak, tunggu sini."
Tak lama kemudian, Bima datang dengan satu set gamis yang menjadi cinta pertama Pipa sejak tadi datang ke Butik ini.
"Kalau ini gimana Mbak? suka?" tanya Bima.
๐ธ๐ผ๐ธ๐ผ๐ธ๐ผ๐ธ๐ผ๐ธ๐ผ๐ธ๐ผ๐ธ๐ผ๐ธ
Sambil nunggu kisah Bima dan Pipa, yuk mampir juga di karya kawan othor, dijamin oke guys๐๐
*Velia Selkova pergi ke negara lain untuk memulai kehidupan baru setelah dikhianati suaminya. Tak pernah disangka setelah tiba di negara tersebut dia mendapat musibah yang membuatnya menjadi seorang ketua mafia.
Terjun ke dunia gelap selama beberapa tahun membuatnya menemukan fakta yang mengejutkan tentang masa lalunya. Velia memutuskan kembali ke negaranya untuk mengungkap kebenarannya.
__ADS_1
Deon Alexander yang terkenal sangat perfectsionis dan gila kerja memiliki saingan di yang tidak bisa dikalahkannya dengan mudah karena memiliki klan mafia yang cukup kuat. Pertemuannya dengan Velia Selkova membuat Deon Alexander ingin membuat kesepakatan*.