
"Sudah selesai kangen-kangenannya?" Bima datang menuju ruang tv dengan membawa beberapa cemilan seperti martabak manis dan kawan-kawannya.
"Maksudnya?"
"Iya, tumben aja pada diam-diaman begini." Sahut Bima.
"Yank, duduk deh sini!" Seru Pipa, kemudian Bima ikut duduk di sebelahnya.
Tak lama kemudian Gus Sakha dan Ali datang membawa minuman untuk mereka. "Tumben pada diam?" ternyata Gus Sakha juga heran melihat the guys.
"Abi, sini deh duduk." Seru Patul, begitu juga dengan Sapi yang menyuruh Ali untuk duduk.
Semua kembali hening, the guys tak kunjung berbicara. Wajah sangar para wanita itu membuat suaminya enggan bertanya lagi, mereka merasa seperti ada yang serius makanya memilih untuk diam.
Sampai akhirnya, Gus Sakhi datang. Sasa pun menghampiri suaminya, "Mas, anak-anak sudah pada tidur?"
"Sudah, Mas baru saja lihat mereka." Sahut Gus Sakhi, lalu dia mengedarkan pandangannya dan terlihatlah suasana seperti di kuburan saking sepinya. "Kenapa? apa ada masalah?" bisik Gus Sakhi pada Sasa.
"Ikut Sasa, Mas." Sasa menarik tangan Gus Sakhi membuat sang empunya hanya bisa pasrah saja.
Sasa dan yang lainnya bingung untuk memulai semuanya dari mana. Mereka takut suaminya tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Tetapi jika semuanya di diamkan saja maka akan berbahaya pastinya.
"Kamu mau bicara sesuatu, Humaira?" Gus Sakhi akhirnya membuka suara.
Sasa menghela napasnya, "Mas, sepertinya ada yang tidak beres dengan anak-anak kita."
"Maksudnya?"
Sasa dan yang lainnya pun menceritakan semuanya secara bergantian. Gus Sakhi, Gus sakha dan Bima sangat terkejut dengan apa yang di jelaskan mereka. "Mana mungkin mereka saling menyukai, Sayang."
__ADS_1
"Iya, lagian mereka masih sangat kecil, itu tidak mungkin."
"Mungkin atau tidak mungkin, kita harus melakukan sesuatu."
Begitulah ucapan para Ayah, mereka sangat takut anak-anak mereka merasakan cinta terlarang walaupun masih pada kecil. Hanya Ali yang diam, tetapi tidak ada yang tahu apa yang sedang ada di pikiran Ali.
"Boleh saya memberikan pendapat?" Akhirnya, Ali mengucapkan kata-kata itu.
"Silahkan," Gus Sakha mempersilahkan.
"Bagaimana nanti saat Adam dan Hawa masuk ke SMP, mereka harus di jauhkan dari lingkungan Fakhi? begitu juga dengan Annasya, maaf bukan maksud untuk memutuskan silaturahmi tetapi ini semua demi kebaikan anak-anak kita."
Ucapan Ali ada benarnya, tetapi mereka juga tidak menyetujui jika harus berpisah lagi setelah bertahun-tahun lamanya. "Apa tidak ada cara yang lain?"
"Menurut saya, itu 'lah cara yang tepat. Dan itu hanya untuk sementara, saya yakin jika kelak mereka akan melupakannya saat tidak bersama. Mereka masih sangat amat kecil, belum paham tentang perasaannya."
"Sebenarnya gue gak masalah kalau Fakhi menikah dengan Annasya, begitupun jika Annasya memilih untuk bersama Adam. Gue cuma takut kalau Hawa dan Fakhi ... Ah itu tidak mungkin, mereka kan saudara sepupu." lirih Sasa.
🍭🍭🍭
Pagi ini seperti ada yang berbeda dari mereka, jarak mulai ditegakkan sekarang. Mereka hanya tidak ingin jika Hawa menyukai Fakhi, hanya itu alasan sebenarnya. Padahal hari ini adalah rencana mereka untuk liburan ke suatu wahana bermain.
"Bagaimana? apa semua sudah siap?" tanya Gus Sakhi pada Sasa yang sibuk membereskan barang mereka.
"Sudah, Mas. Fakhi mana, ya?"
"Paling lagi main sama Mevlan."
Fakhi pun datang dan sedang menggandeng tangan Mevlan, "Mommy, Mevlan katanya mau ikut di mobil kita."
__ADS_1
"Bolehkan, Mom?" kali ini yang bertanya adalah Mevlan.
"Kenapa tidak, Sayang. Yuk!" sahut Sasa.
"Mommy, Nasya juga mau bareng Mommy."
"Hawa juga dong, Mom."
Deg!
Kedua bocah tersebut dengan kompaknya mendatangi Sasa, sedangkan Sasa hanya bisa saling pandang dengan Gus Sakhi.
"Hm, bagaimana ya ..." Sasa terlihat bingung sekarang, apa yang harus di katakannya?.
🍭🍭🍭🍭🍭🍭🍭🍭🍭🍭🍭🍭🍭🍭🍭🍭
Duh, bocah udah ngerti cinta-cintaan aja ya, dasar othor! *Eh.
Hai kak, othor mau rekomendasiin lagi nih karya teman othor di jamin keren deh... cekidot👇
Judul : Ibu Izinkan Aku Bahagia
Napen : Sutihat Basti Wibowo
Blurb :
Ditinggalkan oleh sang ayah dengan dalih mencari pekerjaan di usianya yang baru 2 tahun, membuat Ananda Shaka, yang kini telah berusia 6 tahun memendam kerinduan yang mendalam pada sang ayah. Setiap hari dalam angan Shaka adalah serba ayahnya. Keinginan Shaka untuk bertemu sang ayah menorehkan pilu dalam dada sang ibu.
__ADS_1
Di tengah deruan rasa rindunya pada sang ayah, tanpa sepengetahannya ternyata sang ayah telah menceraikan ibunya lewat sepucuk surat yang dikirimkan melalui sahabat ayahnya. Kenyataan pahit itu membuat sang ibu tak berdaya. Di sisi lain, sang ayah berpesan agar Shaka tidak mencari dan menemuinya lagi.
Akankah kerinduan Shaka pada sang ayah berakhir dengan sebuah pertemuan?