Begitulah Takdir

Begitulah Takdir
Rasa Bersalah Ustadz Sakha


__ADS_3

Ya, aku memang ingin nangis tapi gak mungkin disini.


"gue gak apa-apa kok, santuy (santai) aja hihi" sambil tertawa hambar . Lalu aku melihat panggangan berisi ikan yang sudah berubah warna itu membuat lidahku tergoda "Eh iya, ikannya udah ada yang Mateng?"


Patul mengangguk "Nih, makanlah"


Aku mengambil ikan tersebut lalu duduk di pojokan, sungguh patah hati ini membuat perutku meronta-ronta.


***


Ustadz Sakha POV


Ku lihat Shazfa lebih banyak diamnya hari ini, hatiku bertanya-tanya ada apa? kenapa? . Aku yakin saat ini ada kekecewaan yang dirasanya , bisa jadi itu karena perkataan Umi pagi tadi atau karena diriku sendiri .


Pertanyaan Safia sejujurnya ada benarnya juga. Sebagian besar anak ulama memang memiliki takdir untuk di jodohkan , termasuk aku.


Aku tidak menolak dan menyesali itu, tapi kenapa harus aku?.


"Alah, alah.. jawab dong bang"


Aku kembali dengan kesadaran ku dimana aku harus menjawab pertanyaannya. Tapi apa yang harus ku jawab? Apalagi ku tahu kini ada sepasang mata yang penasaran dengan jawabanku.


"Emh, sebenarnya.. ana..."


Aku menggantungkan ucapanku, sungguh aku benar-benar buntu saat ini . Karena untuk jujur , itu sangat menyakitkan dan membohongi mereka itu lebih kejam.


Ku lihat Shazfa benar-benar menunggu jawabanku, Astaga Shazfa .. maafkan aku.


"Ana juga gak tahu, tapi sebagai manusia ana hanya bisa berharap" Sambungku.. saat ku lirik dia ternyata ia semakin mengerutkan wajahnya. Astaga, dia malah makin kesal dengan ucapanku.


Aku menatapnya dengan sendu, pikiranku kemana-mana sampai mengabaikan ucapan dari temannya yang memang tidak aku simak sejak tadi, ah biarkanlah.


"Dek, ada yang mau di tanya?" Kataku pada Shazfa.


Apa ini? kenapa dia makin cemberut? astaga ternyata aku salah lagi. Lalu beberapa menit kemudian dia hanya menggeleng. Loh, apa itu jawaban?.


Sampai akhirnya mereka meninggalkan kami berdua, memberikan ruang untuk kami bicara. Ku lihat Shazfa mencoba untuk menolak tapi akhirnya dia pasrah.


Suasana kembali hening, mungkin aku harus meluruskannya, pikirku .


"Kamu marah sama Abang?"


"Entahlah bang, aku juga gak tahu" jawabnya.


"Kadang aku merasa istimewa, namun kadang aku juga merasa asing" lanjutnya.


Kenapa ucapannya membuat hatiku seperti ditusuk? Shazfa kamu itu istimewa dek, apa kamu gak merasakannya? umpat ku dalam hati.


Benar dugaanku, semua kegelisahannya berawal dari ucapan Umi tadi pagi.

__ADS_1


Kata maaf yang ku lontarkan ternyata tak membuat suasana menjadi hangat lagi. Sungguh aku tak bermaksud membuatnya terjebak tapi aku juga mencintainya.


"Lalu, apa Abang memang tidak tahu tentang perjodohan Abang?"


Pertanyaannya membuatku tersentak, astaga dari mana dia tahu kalau aku akan dijodohkan?. Baiklah, aku akan ceritakan segalanya, aku pasrahkan takdirku sekarang.


Aku mulai bercerita perlahan-lahan.. Ku lihat Shazfa menikmati ceritaku, responnya juga santai. Ku pikir ini akan aman untukku , eh bukan hanya untukku tapi untuk kami berdua. Hingga akhirnya.....


"Abang tahu kan Restunya Allah itu juga terletak di Restunya Orangtua? Jika Orangtua saja tidak merestui bagaimana lagi dengan Allah?"


Deg!


Sungguh, aku seperti terjebak di ruang gelap, tak tahu arah kemana akan keluar. Shazfa benar, Allah tidak merestui kami sekarang.


Apa yang aku lakukan? aku menyakiti seorang wanita sekarang, wanita yang ku inginkan bahagianya bersamaku, bukan seperti ini akhir yang ku nanti selama ini. Ah sudahlah, ini jalanku. Ku tatapi kepergiannya saat ini.


Ini akhirnya, kami gak akan bersama, gumamku.


"Kha, ada apa?" tanya Fathan membuatku tersentak. Sejak kapan dia disini?


"Ah ente, ngagetin aja" singkatku


"Kusut banget tu muka?" selidik Fathan


"Shazfa sudah tahu semuanya". kataku membuatnya terperanjat.


"Terus????"


"Astaghfirullah, heh bahlul.. Istighfar ente. Boleh sedih tapi jangan berlarut . Allah punya jalan sendiri untuk kehidupan hamba-nya"


Benar kata Fathan, aku gak boleh begini terus.


"Sudah galaunya? yuk gabung . Kasihan masa wanita yang kipas-kipas ikan?"


"Ana balik ke rumah aja" tolakku.


"Jangan sampai pengecutnya jadi permanen ya" sindir Fathan


"Benar juga" Gumamku. Aku mengikuti Fathan untuk bergabung kembali dengan mereka, aku akan menjauhinya semampuku asalkan itu bisa mengobati sakit hatinya.


Author POV


Saat ini, Mereka sedang asik dengan tugasnya. Ustadz Sakha bersama Ustadz Fathan mengipas ikan yang mereka panggang, Sapi dan Pipa mengulek cabai, sedangkan Patul dan Sasa memasak nasi.


Suasana menjadi hening benar-benar hening, hingga akhirnya Ustadz Fathan mengambil gitar.


"Biar gak canggung, ada yang mau nyanyi gak?" tawar Ustadz Fathan


The guys ( Patul, Sasa, Sapi, dan Pipa) saling lirik, lalu menarik Sasa untuk maju ke depan, Shazfa yang ditarik menjadi salah tingkah, apa yang harus di nyanyikannya? pikirnya.

__ADS_1


"Eh kok gue?" tanya Sasa


"udah gak apa-apa, cepat nyanyi" kata Pipa


Sasa terlihat pasrah, ia mengabaikan kehadiran Ustadz Sakha sekarang.


"Mau nyanyi apa neng?" tanya Ustadz Fathan.


"Melawan restu" singkat Sasa membuat semua orang menoleh nya.


**hmm mm


Indah semua cerita


yang telah terlewati dalam satu cinta


Kita yang pernah bermimpi


jalani semua, hanya ada kita


Namun ternyata pada akhirnya


tak mungkin bisa kupaksa


Restunya tak berpihak


pada kita**


Semua menikmati lagunya, mereka tersentuh kecuali Ustadz Sakha yang kini semakin merasa bersalah.


**Mungkinkah aku meminta


kisah kita selamanya


tak terlintas dalam benakku


bila hariku tanpa mu


Segala cara telah kucoba


pertahankan cinta kita


selalu ku titipkan dalam doaku


tapi ku tak mampu melawan restu**


Sasa mengakhiri lagunya, sepertinya ia sudah tak sanggup lagi meneruskan lagu itu . Ia kembali menghampiri Patul tapi ternyata nasinya sudah Mateng, dia melirik piring yang masih pada basah, Akhirnya ia mengambil kain untuk membersihkan piring itu.


"Wesss Mateng, yuk pada makan yuk" Ajak Ustadz Fathan.

__ADS_1


Author POV end


__ADS_2