
Setelah kepergian Gus Sakhi, Sasa memilih untuk membaca novel kesayangannya. Tiba-tiba pintu terbuka,
"Pak Sakhi ..." Panggil seorang wanita membuat Sasa langsung menoleh padanya.
Bukan hanya Sasa yang terkejut, wanita itu pun juga terkejut melihatnya. "Mau apa kamu disini?" tanya wanita itu.
"Maaf Ibu, harusnya saya yang mengatakan itu. Pertama, ini ruangan suami saya. Dan kedua, dimana adab Ibu saat masuk ke ruangan orang lain? kenapa tidak mengetuk pintu terlebih dahulu?"
Wanita itu menelan Saliva nya dengan susah, niat hati ingin mengajak Gus Sakhi sarapan bareng tetapi sekarang malah berjumpa dengan istrinya.
"Saya kesini karena ada urusan dengan Pak Sakhi." Ujar Bu Nita sinis.
"Ada apa ini?" suara bariton itu mengagetkan Sasa.
Sasa dan Bu Nita langsung menoleh ke sumber suara.
"Mas?"
"Pak Sakhi?"
Ujar mereka barengan.
"Kenapa, Sayang? Mas tadi dengar ribut-ribut dari luar."
Sambil mendekati Sasa, akan tetapi ia baru sadar kalau disana juga ada Bu Nita. "Bu Nita? ada apa ini?" tanya nya semakin penasaran.
__ADS_1
"Mas, wanita ini main masuk aja tadi tanpa ketok pintu." Cerocos Sasa.
"Humaira ...." Tegur Gus Sakhi. Karena menurut Gus Sakhi, Sasa sudah kurang sopan di depan Dosen.
"Mas menegurku?" lirih Sasa membuat Gus Sakhi mengusap wajahnya dengan kasar. Semenjak hamil Sasa memang lebih sensitif dari pada biasanya.
Bukannya menjawab, Gus Sakhi malah bertanya pada Bu Nita. "Ibu sedang apa di sini?"
"Saya hanya ada keperluan dengan Bapak, istri Bapak saja yang sewot." Jawabnya dengan nada dibuat-buat.
"Ck! dasar, wanita ular!" ketus Sasa yang langsung pergi meninggalkan keduanya.
"Sayang, hei! Mau kemana?" tanya Gus Sakhi khawatir.
Sasa pergi meninggalkan Gus Sakhi, perasaannya begitu sakit sekarang. Melihat Sang Suami yang membela wanita lain itu membuat Sasa malu di depan wanita itu.
Kini Sasa berjalan tak tentu arah, hanya mengikuti kaki yang melangkah. Namun, langkah nya terhenti tiba-tiba. Sasa mendongak dan melihat kemana ia berhenti, "Kantin? astaga!" Ucapnya sambil tertawa geli.
Memorinya berputar saat dimana awal ia masuk di kampus ini. Awalnya Menjadi Maba (mahasiswa baru) yang tidak tahu apa-apa. Maba yang selalu di kerjain oleh kakak kelasnya, sampai akhirnya dia berjumpa dengan Syauqi. Kakak kelas yang dulunya telah menolongnya bahkan juga sempat pacaran dengannya. Ah! kenangan yang salah, fikirnya.
The guys adalah sahabat pertamanya di kampus, memiliki teman seperti mereka adalah anugerah untuk Sasa. Jika dia tidak berjumpa dengan The Guys maka dia pasti juga tidak akan berjumpa dengan Gus Sakhi yang kini menjadi Suaminya.
"Ah, rindu juga." Gumam Sasa.
Sasa memesan bakso langganan nya, kemudian kembali duduk di kursinya. Sambil menunggu bakso tersebut datang, Sasa mengambil ponselnya dan meletakkannya di atas meja sembari membaca novel kesayangannya.
__ADS_1
Sesekali Sasa melihat ponsel itu yang terus bergetar, dan saat melihat notifikasinya dia menggelengkan kepala nya melihat siapa yang menelponnya. "Rasain!" gumam Sasa.
"Shazfa, ini kamu?" suara bariton itu mengagetkan Sasa.
Bruk!
Buku yang dipegang Sasa pun terhempas ke bawah, Sasa tidak menyangka akan berjumpa kembali dengan lelaki itu.
"Kak Syauqi!" gumam Sasa.
"Beneran kamu? ya Allah, kamu sudah banyak berubah ya ..." Syauqi berdecak kagum melihat penampilan Sasa yang lebih anggun itu.
"Hah?" hanya itu lah yang dikatakan Sasa.
"Kamu apa kabar?"
"Baik. Belum lulus juga, Kak?"
"Sudah, tapi aku memang sering ke kampus belakangan ini." Sasa hanya ber oh ria.
"Boleh gabung gak?" Pertanyaan Syauqi membuat Sasa terdiam.
"Jangan salah faham, lagian bangkunya penuh semua." Ucap Syauqi, kemudian Sasa mengedarkan pandangannya. Benar saja, semua tempat sekarang penuh.
" Bagaimana?" tanya Syauqi lagi.
__ADS_1