Begitulah Takdir

Begitulah Takdir
Masih Pamit


__ADS_3

Pipa memeluk Ummah dengan sangat erat, "Doain Pipa ya, Ummah."


"Pasti, Nak. Maafkan Ummah selama ini ...." Ucapan Ummah terpotong.


"Jangan begitu Ummah, kalau yang Ummah maksud itu adalah masa lalu biarlah itu menjadi masa lalu. Pipa senang udah bisa kenal dengan Ummah dan sudah menganggap Pipa sebagai anak , Pipa sayang sama Ummah dan Abah. Pipa kesini untuk meminta izin dan restu Ummah dan juga Abah agar acara nya nanti lancar."


"Ummah merestui kamu dan Bima, semoga tidak ada hambatan sampai acara pernikahan kalian nanti."


"Abah juga merestui kalian, Nak." Sahut Abah.


"Alhamdulillah, terima kasih banyak."


Sedang asyik mengobrol, Hawa menghampiri Patul dan bergelayut manja di sana.


"Tumben anak geulis Ummi, kunaon teh?"


"Hawa lapel , Hawa mau mamam." Sahut Hawa.


"Sama nenek makannya, mau?" Tawar Ummah.


"Ndak Au, Hawa mau mamam cama Ummi."


Ya sudahlah Tul, lu kasih makan aja dulu ponakan gua, ntar lu nyusul aja ke sananya." Sahut Pipa.


"Maaf ya Guys," ucap Patul gak enak, dan dianggukin oleh yang lainnya.


Saat Sapi, Pipa dan Sasa hendak keluar tiba-tiba langkah mereka berhenti saat mendengar deheman seseorang.


Ekhem


Semua menoleh, tak terkecuali Sasa yang dikagetkan dengan suara itu.


"Ciye, di cari Pak Dosen tuh." Ledek Pipa.


"Iya, sun dulu sun sana." sahut Sapi yang tidak mau kalah, sementara Ummah dan Abah hanya menggelengkan kepala saking gelinya melihat mereka.


"Ada apa, Pak?" ucap Sasa mulai kesal.


Gus Sakhi mengernyitkan alisnya, "Pak?"


"Mas, Iya Mas." Sahut Sasa dengan tersenyum paksa sambil menekankan setiap kalimatnya.

__ADS_1


"Mau kemana?" Pertanyaan itu membuat Sasa sadar akan kesalahannya, ia baru ingat jika dirinya tidak pamit terlebih dahulu sejak tadi.


"Maaf, mau ke rumah Gus Fathan." lirih Sasa.


"Siapa yang kasih izin?"


Deg!


Suara itu dengan wajah datarnya membuat Sasa susah payah menelan salivanya. Kali ini Gus Sakhi sudah seperti Dosen killer yang menjajah nilai mahasiswanya.


"Ta ... Tapi ...."


"Sudah lah Sa, lu disini aja dulu. Biar kami yang ke rumah Gus Fathan." Celetuk Pipa yang tadinya telah mendapatkan kode dari Gus Sakhi saat Sasa menunduk.


"Tunggu...!" teriak Sasa pada The guys yang sudah lebih dulu pergi.


"Yah, gue ditinggal." Gumam Sasa yang masih di dengar Gus Sakhi.


"Kenapa cemberut begitu?" tanya Gus Sakhi mendekati sang istri.


"Apaan sih, mas."


"Dih, kenapa? syurga jauh loh, ayo senyum biar jadi dekat." Bujuk Gus Sakhi.


"Yakin tetap mau gitu wajahnya? Mas mau ke kampus loh." Katanya sambil memegang pipi Sasa.


"Ya sudah, sana! hati-hati ya, Bye!" Sambil mencium tangan suaminya.


"Mas gak Ridho pergi kerja di sambut kaya begini."


Sasa menoleh, "Eh jangan begitu dong suami Sasa yang paling ganteng."


"Masa sih?"


"Dih, langsung GeEr!"


Gus Sakhi terkekeh geli melihat sang istri. "Ya sudah, mas pergi dulu ya Sayang. Kamu hati-hati nanti di rumah, mas pulangnya malam soalnya."


"Kenapa malam?"


"Iya, jam 7 mas ada jadwal ngajar Sayang."

__ADS_1


"Jadi pulangnya jam berapa?"


"Selesainya jam 9 tapi mas usahain pulangnya bukan jam 10."


"Kok gitu? jaraknya kan gak begitu jauh!" Protes Sasa. Sikap Sasa belakangan ini memang sedikit berbeda, ia lebih sensitif sekarang.


"Karena teman mas gak bawa kendaraan, jadi mas yang akan mengantarkannya."


"Ya sudah lah! Hati-hati mas." Sasa kembali mencium lengan suaminya, kini dengan senyuman yang mengembang membuat Gus Sakhi bahagia melihatnya.


"Assalamu'alaikum, Humaira."


"Waalaikumussalam, Mas."


Setelah melihat mobil Gus Sakhi pergi, Sasa pun menunggu Patul yang menyuapin Hawa makan agar menyusul Pipa ke rumah Gus Fathan.


"Sudah siap pamitannya?" Tanya Patul saat melihat Sasa mendekati nya.


"Loe lihat semuanya?" Sasa tersentak kaget.


"Lihat dong, Kakak Ipar." Goda Patul membuat Sasa malu sekarang.


"Astaghfirullah, malu gue." Sasa menutup wajahnya dengan tangannya.


"Pft! hahahhaa ..."


"Jangan ketawa in gue."


"Lagian ni ya, Kak Sakhi itu romantis pisan loh. Beruntung kamu Sa jadi istrinya." Ucap Patul jujur.


"Alhamdulillah. ternyata takdir Allah itu indah, Tul."


"Iya, benar Sa."


"Teringat Indah, gue jadi ke ingat kakak ipar loe. Udah siap belum Hawa makan?"


"Sudah Ante, mau pinjam Ummi nya Hawa ya?" Yang jawab adalah Hawa.


"Iya sayang, boleh kan?"


"Boleh Ante, nanti balikin ya."

__ADS_1


"Siap, cantik." Sasa geli sendiri melihat bocah di depannya.


"Kapan kamu hadir disini, nak?" gumam Sasa dalam hati sambil mengelus perutnya yang masih datar .


__ADS_2