
"Ya Allah, Sayang ... Dari dulu juga parfum Mas cuma ini." Gus Sakhi mengusap kasar wajahnya. Walaupun Sasa tengah hamil tua, tetapi sepertinya jiwa sensitifnya masih nyangkut di diri Sasa.
"Sa, udah mau lahir tuh anak, masa lu masih ngidam sih?" Pipa pun terkekeh melihat sahabatnya itu.
"Masa sih?" Bukannya menyadari kesalahannya, Sasa malah balik bertanya.
"Ya sudah, Fakhi mana?" Gus Sakhi mencari bocah yang selalu mengganggu tidurnya.
"Sama Bima." sahut Sasa. Sedangkan Gus Sakhi menggelengkan kepalanya karena tahu jika istrinya saat ini masih ngambek padanya hanya karena bau badannya.
Tak lama kemudian, Patul dan Gus Sakha datang. Adam dan Hawa juga sudah membawa beberapa makanan untuk mereka makan nanti bersama Annasya, teman barunya.
Seperti biasa, mereka bercengkrama layaknya menjadi orang yang sudah lama tak berjumpa.
Annasya tampak akrab dengan Zahra, tentu saja ada Adam, Hawa dan juga Fakhi di ruangan tersebut. Sasa memang memiliki satu ruangan yang dijadikannya sebagai tempat bermain Fakhi namun tempat tersebut cukup luas, bahkan Playground nya juga sangat lengkap.
Sedangkan Gus Sakha dan Gus Sakhi mengajak Bima untuk ke teras rumahnya agar para wanita mereka lebih leluasa untuk saling temu kangen itu.
"Kurang lengkap ya, gak ada Sapi ..." Celetuk Sasa.
"Iya atuh, Pipa kamu teh memang nggak pernah dapat kabar dari Sapi ya?" Patul bertanya pada Pipa seperti sedang mengintimidasi.
"Eh sorry ni ya, gua tinggal di Amerika selama ini." Sahut Pipa.
Tap! Tap! Tap!
__ADS_1
Saat sedang asik mengobrol, tiba-tiba seseorang datang, "Someone looking for me? (Apa ada yang mencari ku?)"
Sontak saja membuat yang lain langsung menoleh,
ketiganya sangat terkejut saat melihat sosok wanita yang berada di didepannya. Wanita itu memakai gamis berwarna navy, jilbab pashmina menutup dada, dan sepatu sport andalannya. Wanita itu berdiri di ambang pintu sambil menyenderkan badannya.
"Sapi gemblung!!!!!" teriak ketiganya dan langsung memeluk Sapi.
"Rindu Kelen kan samaku ..." ucapnya dengan sombong.
'Pletak!
Pipa menepuk jidat Sapi, pastinya membuat sang empunya meringis kesakitan.
Sasa dan Patul saling pandang, kemudian keduanya menarik telinga Sapi dan Pipa.
"Loe berdua hutang penjelasan sama kami!" Tegas Sasa.
"Ayo, duduk!" titah Patul.
"Yang harus jelasin itu elu, Pi. Gua mah duduk cantik aja." Ucap Pipa sambil tersenyum.
"Okay, selow lah Kelen ah. Macam tersangka aja aku bah," sahut Sapi.
"Tunggu, kamu sendirian aja, Pi?"
__ADS_1
"Iya, loe belum nikah?"
"Pi, jawab atuh!"
"Tauk nih, nunggu gue brojol dulu kaliya."
"Pfttttt hahahhahaha!" tawa Pipa pecah, sedangkan Sapi hanya bisa berdengus kesal.
"Puas kali ketawa kau itu!" kata Sapi.
"Kelen juga, nanya kaya nyerang gitu. Satu-satu Napa!" Sapi mengomeli Sasa dan Patul.
"Kualat loe ngomelin bumil." Sahut Sasa membuat semuanya tertawa.
"Yaudah ni yeee, Bu-ibu dengarin hamba berbicara ya, jangan ada yang potong dulu. Ngerti gak?" Tanya Sapi pada Patul dan Sasa.
"Baiklah, Paduka." Sahut keduanya.
"Aku kesini bareng Suamiku, dia sedang ada di luar noh sama para Gus dan Bima juga." Belum sempat Sapi menjelaskan sesuatu, Patul sudah memotongnya.
"Kenapa gak di kenalin ke kita atuh?"
"Kelen aja gak ngasih aku jelasin, kaya mana aku mau ngenalin buleku ..."
"Buleku?" beo Patul dan Sasa, sedangkan Pipa hanya bisa terkekeh sejak tadi.
__ADS_1