Begitulah Takdir

Begitulah Takdir
Season 2 Eps 8


__ADS_3

Satu Minggu sudah berlalu, pengantin baru ini belum juga memberikan kewajibannya. Maryam sedang membaca Al-Qur'an di kamarnya dan ia tidak menyadari jika suaminya sudah berada di ambang pintu memperhatikan dirinya sedang membaca ayat tersebut.


"Shodaqallahuladzim!" Maryam menutup Al-Quran tersebut lalu berniat untuk menaruhnya di tempat yang ia susun dekat rak bukunya.


"Sini biar saya yang taruh!" suara bariton itu membuat Maryam terkejut.


"Astaghfirullah!" gumamnya. Mata Maryam melotot dengan sempurna, jantungnya kembali berdebar. "Mas Fakhi, kenapa ada disini?" tanyanya dengan polos.


Fakhi pun berjalan meletakkan bukunya dan kembali lagi mendekati Maryam yang kini duduk di tepi ranjang. "Ini kamar istri saya, jadi sah aja dong kalau saya kesini!" sambil terkekeh geli.


"Bukan begitu maksudnya, ini 'kan jadwal Nasya."


Fakhi tersenyum, "Sya sendiri yang meminta saya untuk kesini." Sedangkan Maryam ber oh ria, ia melipatkan mukenahnya.


"Maryam, ada yang ingin saya bicarakan!" kata Fakhi dengan wajah seriusnya.


Maryam menghentikan aktivitasnya, ia menatap suaminya dengan dalam. "Mau bicara apa, Mas?"


"Kita sudah satu Minggu menikah, rasanya tidak adil jika saya mengabaikan mu. Karena kamu juga memiliki hak yang sama dengan Sya."

__ADS_1


'Deg!


"Maksud Mas?"


"Bolehkah kita melakukannya malam ini?"


'Blush!


Wajah Maryam kini berubah kemerahan, ia mengangguk dengan pelan tanpa menatap wajah Fakhi.


"Terima kasih, tetapi sebelum itu saya juga ingin mengatakan hal yang lain." Fakhi menghela napasnya. "Maryam, mungkin kamu bukan yang pertama. Kamu juga harus berbagi suami kamu dengan yang lainnya. Pernikahan kita berawal dari permintaan Sya, apa kamu tidak menyesal nantinya?"


Fakhi tersenyum, "Alhamdulillah ... baiklah, sebelumnya ayo ambil wudhu. Kita sholat Sunnah dulu!" pinta Gus Fakhi


Sementara di tempat lain, Nasya sedang menangis. Berbagi suami itu tidak mudah, tetapi ini semua adalah keputusannya. Fakhi berhak bahagia, dan ia menganggap jika ini semua adalah bentuk pengabdiannya pada suami tercinta.


"Apa aku sanggup merelakan tubuh suamiku juga di nikmatin orang lain yang tak lain adalah sahabatku sendiri?" Nasya kembali menangis.


"Sya, kamu harus kuat! Jika tidak begini mau kapan lagi kalian punya anak? hm?" ia berbicara sendiri di depan cermin.

__ADS_1


Malam semakin larut, kini sepasang suami istri tersebut sudah terbaring lemas. Pertahanan Maryam sudah runtuh, ia sudah memberikan haknya. Noda merah di atas kasur tersebut'lah yang menjadi saksi bisu mereka. Siapa sangka jika ternyata Fakhi sangat nafsu dengan istri barunya itu. Entah berapa kali ia menyemburkan sesuatu di dalam sana.


***


Pagi yang sejuk membangunkan sepasang suami istri yang sedang berpelukan. "Pagi!" ucap keduanya dengan serempak.


"Aw!" Maryam merintih kesakitan saat ia ingin berdiri.


"Sakit ya?" Fakhi menatap Maryam dengan iba.


Maryam mengangguk, "tapi nggak pa-pa kok Mas."


"Kamu mau kemana?"


"Ke kamar mandi."


'Aaaaa!


Maryam berteriak saat Fakhi malah menggendongnya tanpa aba-aba. "Jangan berisik, nanti semua orang mendengar kita!"

__ADS_1


"Afwan, aku hanya kaget saja." Kata Maryam sambil menutup wajahnya dengan tangan. Ia sangat malu sekarang melihat dirinya tanpa sehelai benangpun dan dipandang oleh Fakhi saat ini.


__ADS_2