
Setelah mandi, Pipa kembali lagi ke ruang makan. Perutnya kini sudah tidak dapat lagi di kondisikan karena cacing-cacing di dalamnya sudah pada demo untuk makan.
"Laper apa doyan?" Suara itu mengagetkan Pipa.
"Astaghfirullah, Ayah!" Kesal Pipa.
"Lagian, pulang ke rumah bukannya samperin Ayah sama Bunda nya dulu, ini malah makan." Ledek sang Ayah.
"Siapa suruh pacaran Mulu sampai anak gadis pulang gak tahu."
"Cih, anak gadis sekarang?" kali ini yang bicara adalah Bunda.
Pipa menoleh dan langsung memeluk sang Bunda. "Fifa kangen, Bun."
"Anak gadis bisa kangen Bunda juga ya? Bunda juga kangen, Nak." Pelukan itu semakin erat sekarang.
Mana calon kamu?" Ayah terlihat celingukan.
"Ya di hotel lah Yah, gak mungkin aja Fifa bawa ke rumah, ada-ada saja Papa ini."
__ADS_1
Orang tuanya sengaja menunggu Pipa makan, pemandangan itu jarang sekali di lihat mereka bahkan nyaris tidak pernah. Pipa memang terkenal Tomboy, akan tetapi dia juga bisa bersikap manja dan itu hanya di depan orang tuanya.
Seusai makan, Pipa mengajak kedua orang tuanya ke balkon rumah mereka. Ayah dan Bunda sudah tahu jika besok putrinya akan di lamar secara resmi, akan tetapi Pipa ingin meminta izin sekali lagi pada orang tuanya karena sebelumnya dia hanya meminta izin melalui telepon saja.
"Ada apa sayang?" tanya Ayah pura-pura gak mengerti.
"Iya, tumben banget ngajak kesini. Takut si Mbok dengar ya?" Bunda pun ikut-ikutan mengejek sang putri.
"Ih ngeselin banget nih orang tua." Pipa langsung berdengus kesal.
"Hahahah!" Bunda dan Ayah tertawa lepas saat melihat Sang Putri kesal.
"Pipa serius ini ...." Seketika Ayah dan Bunda menjadi diam dan memasang wajah datarnya. Kali ini Pipa yang ketakutan.
"Seram lihat Bunda sama Ayah kalau sudah serius." Sahut Pipa jujur.
"Ya sudah, katakanlah."
"Ayah sama Bunda memang sudah ridho kan kalau pilihan Pipa jatuh pada Bima?"
__ADS_1
"Sebelum Ayah jawab, kamu harus jawab dulu pertanyaan Ayah. Apa kamu yakin dengan Bima?"
"Insya Allah, yakin." Jawabnya lantang.
"Lantas, kenapa Ayah dan Bunda tidak ridho jika kamu saja sudah yakin dengannya?"
"Pipa takut saja, apalagi kan umur kami jauh berbeda."
"Fifa Sayang. Soal jodoh tidak ditentukan dengan umur. Yang penting dari sini!" Ucap Bunda sambil menunjuk hati.
"Benar kata Bunda kamu, bukan umur yang menentukan kedewasaan seseorang , Nak. Banyak kok yang sudah ber umur tapi tidak dewasa. Karena umur di tentukan dengan pola pikir dan bagaimana seseorang itu menyikapinya. Tak masalah umur Bima lebih muda dari kamu." Sambung Papa
menasehati sang anak.
"Yang terpenting sekarang, kamu Nak. Kelak ketika kalian sudah menjadi sepasang suami istri kamu jangan bersikap sesuka mu karena umurnya jauh dibawah kamu. Kodratnya nanti adalah Suami, yang dimana tandanya kamu lah yang harus menghormatinya. Apa kamu mengerti?"
"Mengerti Yah, terimakasih ya Ayah, Bunda. Fifa sayang sama Ayah dan Bunda."
"Bunda juga, Nak. Sini sayang peluk Bunda. Ternyata putri bunda sudah besar sekarang." Ucap Bunda dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
__ADS_1
"Satu hal yang kamu harus tahu, walaupun kamu sudah menikah nanti kamu tetaplah gadis kecil Ayah dan Bunda, Nak." Kata Ayah membuat Pipa memeluk sang Ayahnya juga.
🌼🌼🌼